Menteri Erick Tak Mau Disuntik Vaksin Corona Duluan, Kenapa Ya?

SINDOnews Dipublikasikan 10.46, 07/08 • Suparjo Ramalan
Menteri Erick Tak Mau Disuntik Vaksin Corona Duluan, Kenapa Ya?
Foto/SINDOnews

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan uji coba penyuntikan vaksin Covid-19 kepada relawan dilakukan pada awal September tahun ini. Meski begitu, Erick mengaku dirinya tak mau disuntik vaksin saat menjalani uji coba.

Erick menjelaskan, saat ini pihaknya masih sedang mencari relawan untuk sebanyak 1.620 orang dan ditargetkan akan terhimpun pada akhir bulan ini. Ketika jumlah yang ditargetkan tercapai, maka pada awal September 2020 akan dilakukan penyuntikan uji coba.

Namun, saat dikonfirmasi salah seorang wartawan terkait apakah Erick juga menjadi bagian dari orang yang disuntik vaksin Corona? Sontak Erick mengatakan, tidak. (Baca juga:Demi Vaksin Corona, Erick Thohir Siap Rogoh Kocek Rp65,9 Triliun)

"Kenapa? Oh, kala saya gak etis, lebih baik relawan yang sesuai syarat yang sudah ditentukan. Bukannya gak mau disuntik, ya. Sebagai Menteri BUMN disuntik di belakanglah, biarkan masyarakat dulu baru kita. Masa kita duluan, inget bukannya takut disuntik ya," ujar Erick sambil melemparkan tawa, Jakarta, Jumat (7/8/2020).

Untuk diketahui, BUMN melalui PT Bio Farma tengah menyelesaikan uji klinis tahap tiga vaksin Sinovac asal China. Jika pelaksanaannya lancar dan tidak ada hambatan, pihaknya optimistis bisa segera memproduksi vaksin dan menyuntikkan 30 hingga 40 juta vaksin di awal tahun 2021 ke masyarakat Indonesia.

Erick menjelaskan, penyuntikan tersebut nantinya akan membutuhkan kerja sama yang kompak antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TNI, Polri dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Hal ini dikarenakan kapasitas imunisasi vaksin di Indonesia berkisar antara 40 juta penyuntikkan. Di sisi lain, Erick bilang Indonesia membutuhkan vaksin untuk mengimunisasi 160 hingga 190 juta orang.

"Kalau dua kali suntik jadi 320 sampai 380 juta vaksin. Kapasitas kita 40 juta per tahun, tiba-tiba sekarang harus 320 sampai 380 juta setahun, sesuatu yang impossible kalau kerja sendiri-sendiri," ujarnya.

Namun, hal tersebut harus dilakukan mengingat ekonomi Indonesia akan semakin terpuruk dan lebih lama bangkit serta masalah kesehatan semakin parah jika wabah tidak segera diakhiri.

Artikel Asli