Menko Luhut Sebut Dunia Akan Ketergantungan Baterai Lithium Asal Indonesia

Merdeka.com Dipublikasikan 05.27, 03/06

                Luhut Panjaitan. ©2017 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu
Menko Luhut mengatakan Filipina memiliki deposit nikel nomor dua setelah Indonesia. Diprediksi deposit nikel itu akan habis dalam dua tahun ke depan. Sehingga Indonesia akan menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang berinvestasi di sektor pengembangan baterai lithium.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tengah menyiapkan skenario pemulihan ekonomi di Indonesia pasca pandemi Virus Corona. Di antara skenario itu yakni membangun industri dari hulu ke hilir yang terintegrasi yang diyakini menjadi faktor penarik investasi ke Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, salah satu industri yang menjadi fokus pemerintah adalah pengembangan baterai lithium menggunakan raw mineral Indonesia yang kaya akan nikel dan kobalt sebagai dua bahan utama baterai EV.

Berdasarkan riset, Menko Luhut mengatakan Filipina memiliki deposit nikel nomor dua setelah Indonesia. Diprediksi deposit nikel itu akan habis dalam dua tahun ke depan. Sehingga Indonesia akan menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang berinvestasi di sektor pengembangan baterai lithium.

"Negara lain akan tergantung dengan kita. Saat ini kita memainkan ‘gendangnya’. Karena itu kita akan segera mendorong transfer teknologinya," kata Menko Luhut melalui diskusi online, Jakarta, ditulis Rabu (3/6).

Optimisme Menko Luhut dalam pengembangan industri dari hulu ke hilir secara terintegrasi bukan tanpa alasan. Dia mengatakan, Indonesia memiliki cadangan mineral sebagai bahan baku industri yang cukup banyak jika dibanding negara-negara Asia seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Data Ekspor

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor besi baja Indonesia secara konstan meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2017 nilai ekspor besi baja senilai USD 3,3 miliar, meningkat menjadi USD 5,3 miliar pada 2018, dan USD 7,4 miliar pada 2019. Bahkan nilai ekspor besi baja melebihi ekspor kendaraan di kuartal pertama tahun 2020.

Menko Luhut menambahkan, pembangunan industri dari hulu ke hilir akan memberi nilai tambah bagi Indonesia. Dia mencontohkan, ekspor biji nikel pada 2018 sebesar 19,28 juta ton senilai USD 612 juta. Saat biji nikel diolah menjadi stainless steel slab, volume ekspor menjadi sebesar 3,85 juta ton dengan nilai USD 6,24 milia.

“Ada peningkatan nilai ekspor sebesar 10,2 kali lipat di sini. Selama ini kita hanya ekspor raw material, ini yang coba diubah pemerintahan Jokowi sejak lima tahun ke belakang. Kita ingin hilirisasi nikel. Ini sudah kita mulai di Sulawesi dan Maluku,” kata Menko Luhut.

Untuk membangun industri dari hulu ke hilir yang terintegrasi tentu membutuhkan kerja sama dari pihak lain. Pemerintah akan membuka investasi bagi negara-negara lain yang bisa memberikan imbal balik bagi Indonesia.

"Dalam investasi tentu ada take and give. Indonesia akan memprioritaskan investor yang mau turut membantu memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam mengelola sumber daya mineral. Harus ada transfer teknologi, hingga mendidik tenaga kerja lokal," pungkas Menko Luhut.

Artikel Asli