Menjaga Cita Rasa Kopi Aceh dengan Olahan Tradisional

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 16.18, 09/08/2020 • Wisnu Aji Prasetiyo
Petani kopi gayo tengah memeriksa biji kopi yang telah dipanggang secara tradisional.
Petani kopi gayo tengah memeriksa biji kopi yang telah dipanggang secara tradisional.
Pemanggangan biji kopi jadi kunci menjaga cita rasa kopi Aceh.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH — Salah satu unsur penting dalam menunjang bertahannya warung-warung kopi tradisional di Aceh, adalah roaster (pemanggang) biji kopi. Tanpa peran mereka, pastinya tidak ada lagi pasokan biji kopi yang cocok untuk diseduh menjadi kopi khas di warung-warung tersebut.

Tim Ekspedisi Republikopi berkesempatan bertemu dengan Kusniati, salah seorang pengolah kopi yang masih melakukan penyangraian biji kopi secara tradisional. Ia menjelaskan, untuk mendapatkan hasil roasting yang baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, pertama tentu biji yang digunakan harus bagus. Kedua, kayu bakar yang digunakan tidak boleh sembarangan.

Dengan menggunakan drum kaleng yang diletakan langsung di atas tungku api, Kusniati biasa menyangrai biji kopi hingga 150 kilo gram setiap harinya. Selama kurang lebih delapan hingga sembilan jam sehari, ibu rumah tangga itu bergelut dengan panas dan asap dari proses penyangraian kopi.

 

 

Videografer | Fian Firatmaja, Fakhtar Khairon Lubis

Fotografer | Thoudy Badai

Video Editor | Fakhtar Khairon Lubis

 

Artikel Asli