Menjabat Lagi, Jokowi Diharap Lunasi Utang pada Industri Otomotif

kumparan Dipublikasikan 10.58, 20/10/2019 • Aditya Pratama Niagara
Presiden Joko Widodo memberikan pidato di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Presiden terpilih Joko Widodo resmi dilantik, untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dan pemerintahan Republik Indonesia, periode kedua 2019-2024.

Iya, pada periode terakhir ini paling tidak Jokowi bisa menyelesaikan utang-utang yang belum diselesaikannya lima tahun lalu, khususnya terkait masa depan industri otomotif.

Mengingat otomotif merupakan salah satu dari lima sektor industri andalan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0 seperti yang diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, selain industri makanan-minuman, tekstil dan pakaian, elektronika, serta kimia.

Pengunjung di IIMS 2018 Foto: Helmi Afandi/kumparan

"Menurut saya oke, berjalan dengan baik. Namun ya memang akhirnya Perpres kendaraan listrik sudah selesai, hanya tinggal juklak pelaksanaannya mesti lebih detail lagi digodok," ucap Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kepada kumparan, beberapa waktu lalu.

Nangoi menyebutkan, dirinya berharap sekitar bulan ke depan setelah pelantikan ini, paket kebijakan pendukungnya bisa keluar.

Selain itu, dirinya juga berharap setelah tahun depan kabinet baru terbentuk, dan semua bisa berjalan dengan lancar dan saya berharap bisa membaik lagi, khususnya dari sisi stabilitas politik dan ekonomi.

Nangoi menyebut, arahnya kebijakan pemerintah sebelumnya soal otomotif sudah betul, seperti menghendaki emisi gas buang lebih baik dan penghematan BBM.

Presiden Joko Widodo mencoba motor Honda saat mengunjungi Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018. Foto: Intan/Biro Pers Setpres

"Melaksanakan B20 dan B30, insentif mobil listrik, sehingga emisi lebih bersih, kemudian penggunaan bahan bakar akan lebih rendah. Sekarang fokusnya adalah membenahi dan kerja," katanya.

Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) menambahkan, dirinya hanya berharap dua hal untuk kemajuan industri otomotif dalam negeri.

"Koreksinya paling diberikan kemudahan untuk suku bunga lebih rendah supaya bisa naik jualannya. Lalu siapa tahu industri komponennya juga bisa mendapat insentif, sehingga harganya bisa lebih murah, dan kita bisa jualan dalam negeri dan ekspor jadi besar," tuturnya.

Artikel Asli