Meninggal Tahun 1509, Begini Rupa Raja Henry VII di Kehidupan Nyata

Kompas.com Dipublikasikan 13.03, 25/05 • Gloria Setyvani Putri
Matt Loughrey/mycolorfulpast.com
Topeng kematian Henry VII menunjukkan wajah yang dicukur bersih. Namun dalam kehidupan nyata, ia mungkin memiliki janggut seperti yang ditunjukkan dalam rekonstruksi baru.

KOMPAS.com - Wajah Raja Inggris Henry VII, baru-baru ini direkonstruksi secara digital.

Seniman Matt Loughrey menciptakan seperti apa rupa Raja Henry VII dengan menggunakan topeng lilin yang dibuat pada 1509, di tahun raja itu meninggal.

Loughrey adalah pendiri My Colour Past, sebuah proyek yang mengembalikan dan mewarnai gambar arsip dari tokoh-tokoh bersejarah.

Baca juga: Begini Rupa Modern Tokoh Sejarah Ratu Mesir Nefertiti hingga Mona Lisa

Jauh sebelum penemuan fotografi, topeng lilin memiliki kemiripan yang lebih akurat dibanding lukisan atau ilustrasi.

Dalam pemulihan rupa Raja Henry VII, Loughrey menambahkan detail signifikan dan warna-warna alami pada topeng yang dicetak. Hal ini membawa wajah yang sudah lama mati dari masa lali kembali ke masa kini.

"Sudut pandangnya, Anda diharapkan dapat merasakan apa yang dipikirkannya. Kita semua ingin melihat wajah dan cerita di belakang mereka," kata Loughrey kepada Live Science.

Dilansir Live Science, Kamis (21/5/2020), Henry VII naik tahta pada 1485 ketika ia mengalahkan Richard III di Battle of Bosworth Field.

Saat Henry VII meninggal pada 21 April 1509, usianya 53 tahun. Dia meninggal karena menderita asma dan asam urat.

Hal ini berdasar catatan yang ada di situs Westminster Abbey, gereja kerajaan di London di mana raja dan ratu Inggris dinobatkan dan kemudian dimakamkan, termasuk Henry VII.

Salah satu pelayat membawa patung wajah Henry VII ke pemakaman. Wajah dalam patun itu tampak kurus dan kusam, sangat mirip manusia hidup dan mungkin dibuat sebelum dia meninggal.

Lewat patung inilah, Loughrey merekonstruksi digital. Butuh waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikannya.

Dalam pengerjaannya, Loughrey melibatkan kombinasi perangkat lunak, algoritma, dan penyesuaian gambar detail yang dilakukan secara manual.

Bentuk, warna, dan pencahayaan

Proyek ini dimulai dengan gambar beresolusi tinggi dari topeng lilin Henry VII. Loughrey menggunakan fotogrametri - perangkat lunak yang mengambil gambar dua dimensi dan memetakannya dalam 3D - untuk kemudian membangun model digital wajah raja.

"Dalam fotogrametri, kita bisa mendapatkan ide yang sangat bagus tentang penentuan posisi untuk hal-hal yang lebih sederhana, seperti tulang pipi, orbit mata, rahang atas," jelasnya.

"Pewarnaan kulit pada dasarnya dilakukan dengan melukis, semuanya dilakukan dengan tangan berlapis-lapis."

Selanjutnya merancang pencahayaan.

"Jika cahayanya salah atau tidak seimbang dengan warna kulit, Anda akan melihat kesalahan," kata Loughrey.

Akhirnya, dia menambahkan tanda wajah dan rambut, yang disesuaikan menggunakan input manual dan algoritme pintar.

Loughrey juga memperbaiki cacat pada topeng Henry VII, seperti mata kanan yang berantakan dan alis kanan yang tidak dicat, mungkin disebabkan oleh kerusakan karena sudah sangat tua.

Topeng lilin Henry VII menunjukkan wajah yang dicukur bersih. Mungkin, raja dicukur setelah ia meninggal sehingga pembuatan topeng liling untuk mengenang sosoknya lebih mudah dibuat.

Untuk diketahui, laki-laki pada zaman itu umumnya berjanggut.

Baca juga: Video Syur Mirip Nagita Slavina dan Gisel, Kenapa Wajah Bisa Serupa?

"Kita tak benar-benar tahu apakah dia berjanggut atau tidak. Untuk mengingat tren di zaman itu, saya menambahkan janggut," kata Loughrey.

Loughrey juga telah membuat rekonstruksi wajah dari topeng lilin tokoh-tokoh seperti Mary Queen of Scots, Oliver Cromwell dan George Washington.

Pekerjaan restorasi digitalnya juga dibangun di atas topeng yang bahkan lebih tua, seperti topeng penguburan yang dibuat orang Mesir kuno untuk firaun mumi seperti Tutankhamen.

"Topeng lilin mirip seperti lubang cacing," kata Loughrey.

"Kita mengenal fotografi saat ini, tapi ini benda modern. Jauh sebelumnya, ada teknologi yang bisa membawa kita kembali ke ribuan tahun lalu, untuk melihat wajah-wajah yang hanya bisa kita bayangkan sebelumnya," tutupnya.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli