Mengukur Level Kejengkelan Samuel Eto'o Terhadap Pep Guardiola

INDOSPORT.com Diupdate 11.41, 09/08 • Dipublikasikan 13.35, 09/08 • Editor: Nugrahenny Putri Untari

INDOSPORT.COM - Pep Guardiola pernah menjadi sosok paling menyebalkan bagi seorang Samuel Eto’o ketika masih membela klub LaLiga Spanyol, Barcelona, beberapa tahun silam.

Kejadian berawal ketika Guardiola memulai karier kepelatihannya bersama Blaugrana pada musim 2008-2009. Saat pertama kali masuk, ia sudah berbeda visi dengan Ronaldinho, Deco, dan Samuel Eto’o sendiri.

Lalu muncul di benak Guardiola untuk melepas ketiganya, namun Eto’o jadi satu-satunya yang berhasil bertahan di Barcelona kala itu, meski ia dianggap memiliki perangai lumayan buruk dan mudah meledak di ruang ganti.

Padahal sebenarnya, Eto’o punya kans besar mencari lapangan yang lebih hijau untuk merumput. Ia kabarnya diminati banyak klub besar Eropa seperti Inter Milan, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan AC Milan.

Sadar dirinya dan Guardiola tak rukun, Samuel Eto’o ingin membuktikan diri kepada pelatihnya itu bahwa ia tak layak dibuang. Ia bahkan sampai menjadikan ajang tur pramusim layaknya audisi untuk bertahan di Camp Nou.

Upaya itu pun berbuah manis ketika Guardiola pada akhirnya bersedia memberi ruang di skuat Barcelona untuk Eto’o. Ia bahkan memuji pemainnya itu dan membiarkannya tinggal untuk mengarungi musim 2008-2009.

“Pada hari pertama saya di sini, saya memang berkata saya tak akan mengandalkannya, tapi saya juga bilang kalau saya akan tetap memperlakukannya seperti pemain lainnya,” ucap Guardiola pada tahun 2008 silam seperti dikutip dari The Telegraph.

“Melihat sikapnya saat berada di Skotlandia dan Amerika Serikat, saya pun mengambil keputusan untuk mempertahankannya. Bagaimanapun juga dia adalah pemain dengan bakat hebat,” tambah pria yang kini menangani Manchester City tersebut.

Awal musim Barcelona kala itu dimulai dengan hasil kurang maksimal lantaran hanya bisa bermain imbang melawan Racing Santander dan malah menelan kekalahan saat melawan klub promosi, Numancia.

Namun semua itu hanya sebuah permulaan buruk karena pada musim tersebut Barcelona berhasil meraih trebel dengan memenangkan LaLiga Spanyol, Copa del Rey, dan Liga Champions. Samuel Eto’o pun jadi bagian dari itu semua.

Ia memainkan peran sebagai centre-forward, ditemani Thierry Henry dan Lionel Messi yang menempati bagian sayap. Produktivitas Blaugrana saat itu pun tak main-main, mereka mencetak 105 gol dari 38 pertandingan.

Momen ini tentu menjadi memori tak terlupakan bagi Eto’o yang sempat menyinggung peran besarnya di Barcelona. Namun ia masih menyimpan perasaan yang begitu mengganjal pada Pep Guardiola yang konon lebih suka memasang Messi sebagai aktor utama.

“Saya berkata kepada Guardiola bahwa dia sebaiknya minta maaf kepada saya karena sayalah yang bisa membuat Barcelona menang, bukan Messi. Tanya saja Xavi, Iniesta, dan yang lain, saat itu adalah era saya,” ujar Eto’o pada 2019.

“Pep menghabiskan hidupnya di Barcelona tapi selama saya berada di sana, dia tidak mengerti skuat. Dia tidak menyukai kehidupan kami,” tambahnya.

Usai memenangkan trebel bersama Barcelona pada 2008-2009, akhirnya Samuel Eto’o terbebas dari seorang Pep Guardiola. Ia pun merapat ke Inter Milan sebagai bagian kesepakatan barter Zlatan Ibrahimovic. 

1. Pep Guardiola Hancurkan Karier Samuel Eto'o?

Benarkah Pep Guardiola jadi penghancur karier Samuel Eto'o?

Sebagai pemain yang dibuang Pep Guardiola setelah musim trebel, Samuel Eto’o termasuk beruntung lantaran berkat kejadian kurang menyenangkan tersebut, ia malah meraih kejayaan bersama klub Serie A Liga Italia, Inter Milan.

Namun sebuah pengakuan mengejutkan sempat terlontar dari presiden Barcelona saat itu, Juan Laporta, yang menyebut pihaknya ingin mempertahan Eto’o. Namun di sisi lain, Pep Guardiola ternyata sudah ngebet ingin mendatangkan Zlatan Ibrahimovic.

“Kami berusaha menemukan cara supaya dia bisa tetap bertahan, saya sudah meneleponnya berkali-kali tapi tak ada jawaban. Situasi ini membuat saya sedih, kami menawarinya kontrak dua tahun dan kami menunggu jawabannya,” ucap Laporta.

Selama menjalani musim 2008-2009, Eto’o dan Guardiola memang tidak banyak bicara. Bahkan, ada satu momen Guardiola merasa gengsi ketika pemainnya tersebut tampil apik di lapangan.

Momen itu terjadi ketika Barcelona menghadapi Chivas. Eto’o yang hanya diberi waktu main terbatas menciptakan tiga gol dan menurut pengakuannya, Guardiola saat itu seperti melihat hantu karena tak berani menghadapi pemainnya tersebut secaraface to face.

Lalu dalam sebuah kesempatan lain, Guardiola sempat memuji dan berterima kasih kepada Eto’o atas kontribusinya yang besar untuk tim sekaligus menjadi top skor klub. Berkat ucapan tersebut, hati Eto’o pun mulai melunak.

Akan tetapi, kedamaian yang menyelimuti Eto’o itu tak berlangsung lama lantaran ternyata ia dibuang ke Inter Milan. Rasa dongkol inilah yang terus diingat pemain asal Kamerun tersebut bahkan hingga saat ini.

Meski dongkol, untung saja kekesalan Eto’o pada waktu itu tidak berlarut-larut. Ia langsung mengalihkan fokusnya ke Inter Milan dan berharap bisa mengulang kesuksesan serupa, atau kalau bisa, lebih dari yang ia dapatkan di Barcelona.

Benar saja, ia pun tampil gemilang bersama Nerazurri dan kembali meraih trebel, kali ini di tanah Italia. Bersama Inter Milan musim 2009-2010, ia memenangkan Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Samuel Eto’o pun menjadi pemain yang sukses menggondol trebel Eropa dalam dua musim berturut-turut, prestasi yang tentunya tak dimiliki setiap pesepak bola. Jadi apakah klaim yang selama ini menyebut Guardiola menghancurkan kariernya layak dibenarkan?

Mungkin Eto’o memang layak kesal, tapi melihat apa yang telah diperolehnya, ada sebuah blessing in disguise yang sampai padanya lewat seorang Pep Guardiola. 

Artikel Asli