Mengenal Keraton Jipang di Blora, Mengenang Arya Penangsang dan Kerajaan Demak

Kompas.com Dipublikasikan 23.36, 17/01/2020 • Rachmawati
Dokumen Yayasan Keraton Jipang
Kirab budaya Keraton Jipang

KOMPAS.com - Masyarakat dihebohkan dengan Keraton Agung Sejagat yang muncul di Purworejo, Jawa Tengah yang menyeret sang raja dan ratu, Toto dan Fanny ke kantor polisi.

Berbeda dengan Keraton Agung Sejagat, di Blora , Jawa Tengah ada Yayasan Keraton Jipang yang muncul sejak tahun 2014

Kerajaan Jipang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI sejak tahun 2016 lalu dan telah masuk dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.

Baca juga: Kisah Keraton Jipang di Blora yang Beda dengan Keraton Agung Sejagat

Keraton Jipang yang ada di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah adalah perkumpulan 'trah' Raja Adipati Jipang dan dipimpin oleh PRA Barik Barliyan Surowiyoto.

Yayasan tersebut bertujuan untuk melestarikan dan mengikat sejarah leluhur.

"Kami melestarikan sejarah dan budaya, termasuk juga untuk menggairahkan sektor pariwisata. Kami pun sering gelar kirab budaya di berbagai daerah. Selain nguri-nguri budaya, juga promosi aset wisata. Tentunya sangat berbeda dengan yang di Purworejo yang berorientasi pada penipuan dan makar," jelas Gusti Pangeran Raja Adipati Arya Jipang II Barik Barliyan, dari Yayasan Keraton Jipang kepadaKompas.com, Jumat (17/1/2020).

Baca juga: Tak Mau Disamakan dengan Keraton Agung Sejagat, Keraton di Sukoharjo Beri Penjelasan

Mengenang Arya Penangsang

Barik bercerita Yayasan Keraton Jipang sangat erat dengan cerita Arya Penangsang atau Arya Jipang, Raja Adipati Jipang yang memerintah pada pertengahan abad ke-15.

Kala itu, Arya Penangsang yang disebut sebagai Raja Demak ke-5 atau penguasa terakhir Demak memboyong pusat pemerintahan Kerajaan Demak ke Jipang.

Wilayah pusat Kerajaan Demak yang baru, saat ini ada di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Masa itu dikenal dengan sebutan "Demak Jipang".

Baca juga: Semua Pengikut Keraton Agung Sejagat di Klaten Miliki Seragam dan KTA

Riwayat mengenai Arya Penangsang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.

Pada Serat Kanda dijelaskan bahwa ayah dari Arya Penangsang adalah Surowiyoto atau Raden Kikin atau sering disebut Pangeran Sekar.

Surowiyoto adalah putra Raden Patah, Raja Demak yang pertama.

Pemerintahan Demak yang telah dipindahkan ke Jipang dianggap tidak sah karena saat itu Sunan Prawoto (Raja Demak ke-4) dibunuh oleh utusan Arya Penangsang.

Baca juga: Makam di Kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat Dibongkar dan Dipindahkan

Padahal Sunan Prawoto adalah raja baru di Demak setelah raja sebelumnya yakni Sultan Trenggana terbunuh di Situbondo.

Penguasa daerah Demak tidak puas dan melawan Arya Penangsang.

Pada tahun 1554, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya atau Joko Tingkir di peperangan besar di dekat Bengawan Sore.

Demak Jipang pun runtuh dan digantikan oleh Kesultanan Pajang.

"Wilayah Jipang terletak di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jateng. Sekali lagi, kami bukan mendirikan kerajaan baru, namun hanya nguri-nguri budaya. Ngawur itu beritanya," tegas Barik Barilyan.

Baca juga: Keraton Agung Sejagat Sediakan 13 Posisi Menteri, Polisi: Tersangka Bisa Bertambah

Ia menjelaskan Keraton Jipang muncul di publik melalui pagelaran budaya pada tahun 2014.

"Trah Arya Penangsang terpecah di berbagai daerah mulai Cepu, Brebes, Cimahi, Palembang dan lain-lain. Untuk Yayasan ada di Cepu. Sejak dahulu, kami sudah nguri uri (melestarikan) budaya dengan mempertahankan tradisi jamasan dan sebagainya," jelas Barik Barilyan.

Ia juga memastikan tidak ada rencana untuk mendirikan kerajaan dan tidak akan merekrut pengikut atau berorientasi menyimpang.

"Kami hanya ingin mengangkat sektor pariwisata melalui sejarah kerajaan jipang. Harapannya bisa diwujudkan pemerintah dengan menghidupkan kembali sejarah dan baungunan-bangunan bersejarahnya. Nanti kan geliat perekonomian akan muncul disana," katanya.

Baca juga: Ditemukan Gundukan di Halaman Kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat, Ternyata Makam Janin Ratu

Ganjar sebut Keraton Jipang tak buat geger

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut Keraton Jipang memiliki orientasi untuk pengembangan pariwisata dan tidak meresahkan masyarakat.

Selan itu Keraton Jipang tidak membuat geger dan tidak ada ancama seperti di Keratom Agung Sejagat yang didirikan Toto Santoo.

"Beda dengan yang di Purworejo (Keraton Agung Sejagat). Kalau di Purworejo itu kan ngeri, kalau ndak dukung disumpahin tidak selamat, dikutuk dan sebagainya. Kalau yang di Blora ini tidak ada ancaman seperti itu," kata Ganjar di Semarang, Kamis (16/01/2020).

Ganjar juga meminta kepada masyarakat untuk tidak sembarangan mendirikan kerajaan atau keraton.

Baca juga: Ganjar Sebut Keraton Djipang, Kerajaan Baru di Blora untuk Pengembangan Pariwisata

Orang yang ingin mendirikan kerajaan baru atau membangkitkan kerajaan masa lalu, diwajibkan melapor ke pemerintah.

"Barang siapa mau mendirikan kerajaan atau ada kerajaan masa lalu, lapor ke kami. Tolong kami diajak bicara agar kami mengerti dan tidak menimbulkan kegaduhan," jelas Ganjar.

Hal senada juga dijelaskan Wakil Bupati Blora, Arief Rohman. Ia mengatakan selama ini aktivitas Kerajaan Jipang terpantau positif.

"Pak Barik Barilyan yang mengaku keturunan Arya Penangsang ingin melestarikan sejarah leluhurnya. Mendukung sektor pariwisata juga. Kegiatannya hanya saat kirab budaya pada waktu waktu tertentu," kata Arief saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/1/2020).

Baca juga: Ganjar: Kalau Mau Buat Keraton Lapor ke Kami

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Puthut Dwi Putranto Nugroho, Riska Farasonalia | Editor: Khairina, Teuku Muhammad Valdy Arief)

Editor: Rachmawati

Artikel Asli