Mengenal Istilah Ban 'Kedaluwarsa' dan Efek Sampingnya

kumparan Dipublikasikan 04.02, 15/11/2019 • Ghulam Muhammad Nayazri
Ilustrasi ban soft kompon. Foto: dok. Istimewa

Anda mungkin saja pernah mendengar istilah ban kedaluwarsa. Ya, kalau pada makanan, istilah ini merujuk pada batas waktu berlakunya yang sudah lewat, dari yang sudah ditetapkan, ya bisa juga disebut basi.

Nah bagaimana kemudian bila status 'kedaluwarsa' disematkan pada ban?

Menurut Senior Brand Executive & Product Development PT Gajah Tunggal Tbk, Dodi Yanto, tidak ada ban yang punya tanggal kedaluwarsa, tapi lebih ke pada laik atau tidak laik. Nah ini merujuk pada cara penyimpanan ban --sebelum ban laku dibeli konsumen atau digunakan pada kendaraan.

"Misalnya dari cara penyimpanan dia kena matahari terus nih selama satu bulan non stop. Begitu dilihat di pinggirnya sudah pecah-pecah, berarti dia (ban) sudah enggak laik," kata Dodi saat ditemui di kawasan Karawang, Jawa Barat.

Dodi mengatakan, ban kendaraan bermotor memiliki kode produksi yang menunjukkan kapan ban tersebut dibuat. Ia menyebut belum tentu ban yang sudah lama diproduksi, menjadi tidak laik pakai.

Berisiko pecah di jalan

Ilustrasi ban tak layak. Foto: www.edmunds.com

Dodi menjelaskan, ban tidak laik pakai akan membahayakan keselamatan pengendara. Karena, pengendara tidak dapat bermanuver di jalanan dengan stabil.

"Kalau orang bawa motor pakai ban tidak laik, dia nanti akan oleng. Apalagi Kalau dia bannya tubeless, kan enggak pakai ban dalam, jadi kalau dia lagi ngebut (ban luar) gampang pecah di jalan," jelas Dodi.

Cek kelaikan ban ke produsen

Mengingat tidak adanya masa kedaluwarsa sebuah ban, Dodi menyarankan agar pengemudi menyimpan ban tidak di udara terbuka. Sehingga, ban tersebut tidak cepat lapuk karena terkena panas dan hujan.

Untuk perbaikan ban, Anda bisa mengecek ke produsen melalui pelacakan kode produksi ban. "Produsen bertanggung jawab dari ban yang dibikin sampai 2 tahun sejak ban diproduksi tergantung kerusakannya apa," tutup Dodi.

Artikel Asli