Mengenal Bendungan Kering, Jurus Jokowi Atasi Banjir DKI

Kompas.com Dipublikasikan 05.39, 18/01/2020 • Muhammad Idris
Dok. Kementerian PUPR
Pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi ditargetkan rampung pada akhir 2020.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernah mendengar bendungan kering atau dry dam? Istilah tersebut bisa jadi masih asing di telinga banyak orang. Berbeda dengan bendungan pada umumnya, bendungan kering merupakan waduk yang memang sengaja tidak dialiri atau digenangi air.

Sesuai namanya, penampakan bendungan ini juga lebih sering terlihat kering. Bendungan ini baru akan digenangi air pada saat musim hujan.

Contoh dua bendungan kering adalah Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi, keduanya berada di Kabupaten Bogor yang merupakan daerah hulu sungai-sungai yang mengalir ke Jakarta.

Mengutip laman publikasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), bendungan kering tidak dibuat untuk keperluan irigasi atau air baku, tetapi untuk pengendalian banjir.

Saat hujan datang, bendungan ini akan menampung air dan memperlambat aliran air hujan ke daerah yang rendah.

Baik Bendungan Ciawi maupun Bendungan Sukamahi, merupakan bendungan kering pertama yang ada di Indonesia, fungsinya untuk mengurangi resiko banjir Jakarta.

Baca juga: Drainase Vertikal Penangkal Banjir Jakarta, Sudah Tahu Belum?

Per awal Januari 2020, Bendungan Ciawi telah mencapai progress penyelesaian 45 persen, sementara progress pembangunan Bendungan Sukamahi mendekati 40 persen.

Pembangunan kedua bendungan tersebut merupakan upaya Pemerintah di hulu Sungai Ciliwung untuk mengurangi kerentanan kawasan strategis nasional (KSN) Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dari bencana banjir.

Dua bendungan kering yang dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane juga merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control) Jakarta.

Dengan dibangunnya kedua waduk tersebut turut berkontribusi mengurangi debit banjir di hulu Ciliwung sekitar 30 persen.

Kedua bendungan tersebut didesain untuk mengurangi debit banjir yang masuk ke Jakarta dengan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung.

Selain itu bendungan juga bermanfaat untuk konservasi air dan pengembangan potensi pariwisata di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Kontrak pembangunan Waduk Ciawi sendiri ditandatangani pada 23 November 2016 antara Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dengan kontraktor PT Brantas Abipraya-Sacna KSO dengan nilai pekerjaan konstruksi Rp 757,8 miliar melalui kontrak tahun jamak (multi years).

Baca juga: Mengenal Lagi Naturalisasi, Cara Anies Baswedan Atasi Banjir Jakarta

Waduk ini menampung aliran Sungai Cisarua, Sungai Cibogo dan anak Sungai Ciliwung dengan volume tampungan 6,45 juta m3.

Sementara penandatanganan kontrak pembangunan Waduk Sukamahi dengan daya tampung 1,68 juta m3, senilai Rp 436,97 miliar dilakukan pada 20 Desember 2016 dengan kontraktor PT Wijaya Karya-Basuki KSO.

Penulis: Muhammad IdrisEditor: Muhammad Idris

Artikel Asli