Mengenal Bahaya Child Grooming

Gadis Dipublikasikan 06.00, 17/09/2019 • Magang

Maraknya social media dan internet akhir-akhir ini nggak selalu diiringi dengan cara penggunaannya yang baik dan benar. Salah satu kejahatan online yang bisa saja terjadi adalah Child Grooming.

1. Mengenal Child Grooming

Buat kamu yang aktif berinternet, rasanya kamu perlu tahu apa itu child grooming. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., selaku psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga, “Child grooming ini termasuk ke sexual abuse.”

Ia menjelaskan, “Child Grooming adalah salah satu bentuk dari pelecehan seksual yang menargetkan anak kecil serta remaja. Sebenarnya, hal ini sudah lama terjadi dan bahkan sering terjadi. Namun, dengan berkembangnya zaman dan teknologi, wadah yang digunakan untuk melakukan aksi child grooming sendiri pun ikut berkembang.”

Bentuk dari child grooming ini sendiri variasinya bermacam-macam. Roslina menambahkan, “Child grooming saat ini dapat berbentuk seperti memperlihatkan tontonan yang tidak sesuai kepada anak di bawah umur atau tindak kekerasan sexual kepada anak melalui berbagai wadah, yang saat ini diketahui dapat melalui media sosial.”

2. Bentuk Aksi dari Child Grooming

“Pada dasarnya, saat pelaku merencanakan untuk melakukan aksi child grooming, biasanya mereka memulai aksinya dengan membina relasi kepada anak-anak maupun remaja secara berkala dan akhirnya dapat masuk ke kehidupan korban,” ungkap Roslina.

Hal ini juga disebabkan karena anak-anak di usia remaja senangnya berinteraksi dengan orang baru. Apalagi bila orang baru tersebut memperlakukan calon korban sebaik mungkin.

Nantinya, setelah calon korban sudah mengenal para pelaku, si korban dapat bergantung kepada si pelaku. Roslina kembali menjelaskan, “Hal ini terjadi karena saat melihat pelaku, calon korban berpikir bahwa mereka mengenalinya.

Setelah itu, korban bisa menjadi nyaman dengan pelaku karena mereka terbuai dalam omongan yang diberikannya, seperti memuji, memberi support, dan tidak memaksa mereka untuk mengikuti keinginan orang lain maupun keinginan dari si pelaku pada awalnya.”

Mereka akan mengobrol, bahkan bisa sampai berbicara di telepon, melalui berbagai aplikasi yang ada.

Roslina menambahkan, “Intinya, para pelaku akan masuk ke kehidupan korban secara perlahan. Dengan tujuan agar menjadi teman baik terlebih dahulu untuk calon korban. Setelah akrab dengan korban, si pelaku perlahan akan memasuki omongan yang tidak seharusnya dibicarakan bagi anak usia di bawah 18 tahun.

Setelah itu, dengan cara perlahan lagi, pelaku akan meminta beberapa hal yang sudah bisa dikatakan sebagai pelecehan seksual. Hal ini bisa seperti meminta foto korban dengan hal yang negatif dan berbagai hal lainnya.”

Intinya, para pelaku pengin menjadi bagian dari kehidupan calon korban, girls. Karena bila hal ini terlaksana, pelaku akan dengan mudah melakukan aksinya secara perlahan.

3. Target dari Child Grooming

Menurut Roslina, “Child grooming sering terjadi pada anak yang relasinya terhambat dengan keluarganya atau orang terdekatnya, sosialisasinya kurang, atau bermain di dunia online tanpa pengawasan.”

Karena dengan berkembangnya zaman, berkembang pula kejahatan yang ada di sekitar kita. Kita harus bisa memilah-milih teman, girls.

Roslina berkata, “Dalam bermain media sosial, make sure bahwa teman yang kita miliki pun adalah teman kita yang dari dunia nyata.”

4. Tips Terhindar dari Child Grooming

Roslina Verauli, M. Psi., punya tips untuk kita agar dapat berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan games online.

Tahu tujuan dalam menggunakan media sosial. Jika kalian menggunakannya untuk hal positif seperti berjualan dan lain-lain,tidak masalah. Roslina bilang, “Tidak disarankan untuk menggunakan media sosial sebagai wadah curhat.”

Roslina pun memberi saran agar media sosial di private. “Lebih aman untuk membuat account media sosial menjadi private account. Hal ini bertujuan agar tidak sembarangan orang mengetahui hal pribadi yang kalian miliki dalam akun kalian”, ujarnya.

Karena, bila tidak di-private, orang lain yang tidak kita kenal dapat mengawasi kita melalui update-an yang telah kita post.

Lebih baik bila segala aksi media sosial kita diketahui oleh orang tua kita. Hal ini pun bertujuan agar orang tua dapat memantau serta melindungi kita apabila terjadi sesuatu.

Roslina menambahkan, “Jangan sampai kita curhat di media sosial. Lebih baik untuk area yang melibatkan perasaan harus diceritakan kepada orang tua.”

Roslina pun memberikan tips terakhirnya, yaitu, “Apabila terdapat komentar dari orang yang tidak dikenal walaupun komentar memuji, seperti “Wow, you look pretty”, abaikan saja.”

Bahkan, jika dirasa perlu, kalian boleh block orang tersebut. Karena hal ini seperti tidak ada bedanya dengan catcall (kebiasaan orang tidak dikenal memanggil-manggil kita) di jalan.

Well, sudah seharusnya kita sebagai pengguna media sosial dapat lebih cermat dalam memilih teman dan membagikan keseharian kita. Jangan sampai kita mudah percaya kepada orang yang baru saja kita kenal.

Editor: Ria Juwita - Foto: Dok. pribadi, pexels.com, freedesignfile.com, pixabay.com

Artikel Asli