Mengapa Tidak Mengambil Antibodi dari Pasien yang Sudah Sembuh dari Covid19 daripada Membuat Vaksin?

Quora Dipublikasikan 09.27, 31/03

Artikel ini merupakan kerja sama LINE TODAY x Quora untuk memberikan ruang diskusi yang bermanfaat. Kami juga mengajak pembaca untuk memberikan pendapat di kolom komentar.

Daripada membuat vaksin yang cenderung memakan waktu, mengapa para peneliti tidak mengambil antibodi dari orang yang sudah sembuh dari COVID-19 lalu disuntikkan ke orang-orang yang belum tertular saja?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Diana Wijayanti.

Selamat, kamu berhasil membaca pikiran beberapa dokter!

Ini artikel yang cukup baru. Bisa langsung cekidot.

Sekilas saja ya, ini yang namanya plasma darah:

Sepemahaman saya, hasil penelitiannya begini. Sewaktu pandemi kemarin, beberapa dokter menangani pasien kritis dengan plasma darah pasien yang baru sembuh dari Covid-19. Mereka menyebutnya dengan istilah convalescent plasma. Tujuannya kurang lebih seperti hipotesis kamu: plasma si pasien yang sembuh mengandung antibodi untuk melawan SARS-CoV-2. Selain itu juga diduga ada sel imun yang dapat membantu melawan infeksi, dalam konteks ini disebut sel memori.

Pada tahun 2009 dan 2003, eksperimen yang sama pernah dilakukan. Pasien yang terinfeksi SARS dan H1N1 diinjeksikan plasma darah pasien yang sudah sembuh.

Pada kasus Covid-19 ini, ada 5 pasien kritis dengan pneumonia berat, distres respirasi yang membutuhkan ventilator, serta tidak membaik setelah diberikan antiviral. Mereka pun diberikan convalescent plasma selama 10ā€“22 hari. Dari 5 pasien, empat di antaranya membaik secara signifikan dalam waktu 12 hari. Tiga di antaranya dibolehkan pulang, dua sisanya dalam kondisi stabil.

Nah, sekarang kembali ke pertanyaannya. Apakah bisa menyembuhkan pasien Covid-19 serta mencegah individu sehat tertular dengan menyuntikkan antibodi yang didapatkan dari pasien yang sudah sembuh?

Sayangnya belum bisa dijawab. Penelitian di atas hanya memiliki 5 sampel. Pun tidak ada pasien lain sebagai pembanding, yang seharusnya memiliki kondisi yang sama namun tidak diberikan convalescent plasma. Sulit untuk menyatakan intervensi berhasil karena tidak ada pembanding. Karena pada prinsipnya, penyakit Covid-19 mampu sembuh dengan sendirinya asal mendapatkan bantuan medis yang cukup. Misal pada pasien pneumonia berat, pemberian oksigen dan penggunaan ventilator menjadi penting. Nutrisi dan rehidrasi harus terjaga. Namun semua faktor itu tidak menyembuhkan, hanya membantu menjaga pasien supaya sistem imunnya dapat bekerja dengan baik.

Selain faktor di atas, injeksi cairan atau komponen asing (dari pasien yang sudah sembuh) ke orang lain (pasien Covid-19 atau bahkan individu sehat) berpotensi menimbulkan reaksi imun yang berbahaya. Jadi, meski secara teori seharusnya bisa berhasil, pelaksanaannya mungkin sangat berbeda.

Seandainya aplikasi sains dan medis semudah film sci-fi!

Jawaban lainnya:

Dijawab di Quora Indonesia oleh Oki Krisbianto.

Seandainya saja hidup semudah film Hollywood šŸ˜ sayangnya tidak. Kemungkinan besar orang yang disuntik malah drop daya tahan tubuhnya karena sel darah putihnya terbagi: antara yang nyerang virus dengan yang nyerang "benda asing" yang masuk ke dalam tubuh.

Antibodi tersebut harus diekstrak dan dimurnikan sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh semua manusia tanpa menyebabkan reaksi alergi ataupun dampak negatif lainnya. Barulah bisa diberikan dengan aman ke setiap pasien. Jika tidak demikian, bukannya ngasih obat, kita malah bakal mempercepat kematian pasien dengan menambah penderitaannya karena mekanisme penolakan dari dalam tubuhnya.

Bagaimana menurutmu? Share di kolom komentar ya.

Artikel Asli