Mengapa Pemerintah Menolak untuk Melakukan Lockdown?

Quora Dipublikasikan 04.19, 02/04

Artikel ini merupakan kerja sama LINE TODAY x Quora untuk memberikan ruang diskusi yang bermanfaat. Kami juga mengajak pembaca untuk memberikan pendapat di kolom komentar.

Mengapa Pemerintah Menolak untuk Melakukan Lockdown?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Muhammad Toha.

Beginilah hasilnya kebijakan lockdown yang diterapkan oleh Pemerintah India, beberapa hari lalu.

 

 

 

Alih-alih mencegah penyebaran virus Corona, justru penumpukan massa yang berjumlah ribuan tersebut, berpotensi besar terhadap penyebaran Covid-19.

Pasalnya, ribuan penduduk New Delhi yang berasal dari wilayah lain, memilih untuk mudik ke kampung halaman, akibat kebijakan Pemerintah India yang me-lockdown New Delhi selama beberapa minggu ke depan.

Para pekerja migran yang sebagian besar bekerja di sektor informal tersebut, punya penghasilan terbatas. Lock down berarti mereka tak bekerja. Tak bekerja berarti tak bisa makan dan membayar sewa kontrakan. Pilihan masuk akal: kembali ke kampung halaman.

Dan itulah yang terjadi: beberapa saat setelah Presiden India mengumumkan kebijakan Lockdown di New Delhi, ribuan orang yang panik langsung berbondong-bondong menyerbu terminal dan stasiun untuk pulang kampung.

Dan inilah hasilnya:

Bagaimana dengan Indonesia?

Tipikal orang Indonesia tak jauh beda dengan orang India. Sebelas-duabelas lah. Kita itu, menonton Sinetron atau Opera Sabun saja, bisa sampai berurai air mata. Melihat pohon dan lapangan rumput, langsung dipakai nyanyi, menari dan selfie. Kebanyakan dari kita memang sensitif.

Tipekel orang India dan Indonesia itu, tak mampu menyerap informasi dengan baik. Mereka sangat gampang menelan informasi, tanpa dicerna dan "dikunyah" terlebih dahulu. Dampaknya, gampang panik. Mudah terprovokasi.

Selain itu, jumlah penduduk dengan penghasilan rendah pun persentasenya kurang lebih sama, kendati Indonesia agak lebih baik.

Lockdown tak cuma mengunci pergerakan orang. Tetapi juga mengunci seluruh aktivitas penduduk dalam suatu wilayah, termasuk kegiatan pendidikan, sosial, keagamaan dan ekonomi secara total.

China dengan sistem totalitarian ala Pemerintah Komunis, berhasil men-lockdown Wuhan dengan pendekatan yang sama seperti yang diterapkan Korea Utara atau Cuba, yang mengisolasi warganya dari dunia luar dengan ancaman senjata.

Tapi lockdown yang dilakukan di Italia dan Spanyol, tak membuahkan hasil yang sama. Kedua negara ini justru punya tingkat kematian akibat Corona, jauh di atas China. Tertinggi di dunia.

Indonesia bagaimana?

Boro-boro mau lockdown. Palang pintu Kereta Api yang sudah tertutup, dan kereta sedetik lagi mau lewat, masih saja ada motor yang nekat terabas.

Mau lock down? Lha wong disuruh antri di ATM saja, kadang kala mesti bertengkar dulu, sambil cakar-cakaran.

Tapi, apapun itu. Jika pun kebijakan lockdown nantinya akan diterapkan di Indonesia, demi kemaslahatan bersama, mari kita dukung bersama.

Dan mudah-mudahan, kejadian di India tak terulang di Indonesia.

Jawaban lainnya:

Dijawab di Quora Indonesia oleh Syarif Hidayatullah.

Saya sebenarnya ingin memberi komentar di jawaban sebelumnya. Tetapi karena ini pendapat yg sedikit berbeda, maka saya untuk memilih jawab sendiri saja.

Jujur saja bahwa pemerintah kita sangat tidak siap untuk menghadapi invasi virus ini. Alhasil, kebijakannya tumpang tindih. Antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah tidak sinkron. Alih - alih menghimbau masyarakat untuk isolasi diri sendiri, malah pemerintah daerah ada yang sudah menerapkan karantina wilayah (mungkin semi lockdown). Jadilah, ada yang kekacauan akses transportasi dan kegiatan bisnis. Di daerah saya, banyak warkop yang mendapat tindakan represif dari aparat setempat padahal katanya tidak lockdown. Inilah jadinya, rakyat kecil dirugikan.

Selanjutnya, apakah kita bisa menerapkan lockdown? Bisa, tetapi tidak mudah. Kebijakan lockdown harus dibarengi dengan sistem yang mumpuni. Seperti yang dialami banyak teman - teman pekerja pabrik atau pekerja harian, tidak lockdown saja mereka sudah mengalami kerugian yang cukup besar. Banyak pabrik yang mengurangi karyawannya karena produksinya tidak memenuhi target harian. Apalagi lockdown ? Bisa terjadi banyak kebangkrutan bukan ? Ya pemerintah terutama saya sangat gregetan dengan Menkes yang tidak melihat hal ini menjadi problem yang serius.

Seharusnya, jika pemerintah benar benar memahami tentang kesejahteraan rakyat maka dipikirkan betul kebijakan apa yang harus dikeluarkan. Lockdown seperti yang diterapkan di negara-negara maju memang terbukti bisa mengurangi penyebaran virus ini. Tetapi untuk mendukungnya, pemerintah hendaknya memperhatikan kebutuhan harian masyarakatnya. Ketika mereka tidak bekerja, maka perhatikan kebutuhan dasar mereka yaitu makan. Pemerintah harus berani menjamin kebutuhan dasar ini. Kedua, karena terlanjur sudah banyak pabrik yang mengurangi karyawannya maka pemerintah harus bersiap menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran baru ini entah kebijakan lain yang bisa menjamin pekerjaan mereka usai wabah ini mereda. Saya yakin, kita berbeda dengan India. SDM kita lebih maju dari mereka (maaf ini optimisme belaka), buktinya banyak yang mendesak pemerintah untuk melakukan lockdown. Tetapi ada belahan masyarakat lain yang menggerutu dan sengsara bila lockdown terjadi tanpa ada tanggung jawab lebih lanjut dari pemerintah.

Spekulasi saya, pemerintah tidak siap untuk menyiapkan dua hal tersebut sehingga isinya hanya himbauan - himbauan saja tetapi pakai pasal" yang bisa menjerat masyarakat pada hukum agar masyarakat menuruti himbauan tersebut. Cara berpikirnya sungguh ironi, tidak heran bila pemerintah banyak mengalami penolakan dan tidak dihormati oleh masyarakat. Kalau ada yg membela pemerintah dengan dalih "uang siapa untuk menyiapkan itu semua?". Boy, ini kejadian tidak terduga dan luar biasa. Ada mekanisme pengalihan anggaran. Rencana untuk membangun infrastruktur ini itu, bisa dipending dulu. Kita utamakan keselamatan masyarakat, alihkan anggaran pembangunan itu untuk mengatasi penyebaran virus ini bila memang anggaran untuk tanggap bencana tidak cukup.

Tidak hanya kasus ini saja, tetapi untuk peristiwa luar biasa berikutnya pemerintah harus siap. Kebijakan harus paket lengkap, agar masyarakat dapat menerima dengan baik. Pantas saja banyak yg pro kontra, karena kebijakan simpang siur, tidak komorehensif, dan tumpang tindih. Demikian, selagi pemerintah masih kelimpungan mengatasi ini semua maka kita harus pandai - pandai menjaga diri kita sendiri. Semoga kita semua dapat melalui cobaan ini. Kita bisa!

Kalau kamu, apa pendapatmu terkait hal ini? Share di kolom komentar yuk!

Artikel Asli