Mengapa Giggs Menyebut Zanetti sebagai Lawan Terkuat yang Pernah Dihadapinya?

kumparan Dipublikasikan 10.39, 25/05 • kumparanBOLA
Bendera bergambar dua legenda Inter, Javier Zanetti dan Giacinto Facchetti, di Giuseppe Meazza. Foto: Reuters/Alberto Lingria

Javier Zanetti akan selalu dikenang Ryan Giggs sebagai lawan paling tangguh. Mantan kapten Inter Milan tersebut menjaga pertahanan timnya sampai batas paling muskil yang bisa ditempuh seorang bek.

Laga perempat final Liga Champions 1998/99 yang mempertemukan Inter dan Manchester United adalah panggung yang menahbiskan Zanetti sebagai lawan terkuat Giggs. Di mata Giggs, Zanetti berlaga seperti orang yang tidak memiliki hari esok. Mati-matian.

"Ia berlari sepanjang laga dan terbiasa bermain sebagai gelandang sehingga nyaman saat menguasai bola. Ia mahir membangun pertahanan yang betul-betul kokoh," jelas Giggs dalam ManUtdPodcast, dilansirGoal.

"Dia bahkan mematahkan hidung saya saat kami bertemu di perempat final Liga Champions. Sebagai bek, ia memberikan segalanya," tutur Giggs.

Ryan Giggs membela Man United pada musim 2003/04. Sebelumnya dia sempat dirumorkan pindah ke Inter Milan. Foto: AFP/Paul Barker

Giggs dan Zanetti menempati posisi yang memungkinkan mereka acap berduel setiap bertemu dalam satu laga yang sama. Giggs merupakan pemain sayap kiri, sedangkan Zanetti--dalam masa mudanya--bertanding sebagai full-back kanan.

Zanetti adalah pemain istimewa untuk Inter. Meski tak tercatat sebagai one-man club di level profesional, ia menghabiskan 19 tahun dari 22 tahun kariernya sebagai pesepak bola di Inter.

Sosok yang berjuluk El Tractor ini memberikan segalanya untuk Inter. Ia tak cuma bersedia bermain sebagai full-back kanan, tetapi juga bersedia untuk berjaga di area sebaliknya.

Zanetti bahkan tak segan untuk bergerak mendekati pusat lapangan dan mengubah perannya sebagai gelandang bertahan. Padahal, ruang yang didapat sebagaifull-back jauh lebih luas ketimbang gelandang bertahan.

Ketangguhan Zanetti tidak bersumber dari kemahiran menekel, tetapi memahami ritme pertandingan. Ia bukan menebak, tetapi membaca ke mana lawan menggiring bola.

Sosok asal Argentina ini tahu kapan harus meledak, kapan harus tenang. Tak heran jika kariernya panjang, Zanetti bahkan bermain lebih dari 1.100 kali untuk Inter.

Akan tetapi, laga melawan United tersebut tidak berakhir menyenangkan untuk Inter. Zanetti dan kawan-kawannya tersingkir akibat kalah agregat 1-3 dari United.

Sebaliknya, United berlaga hingga puncak. Setan Merah menutup Liga Champions 1998/99 dengan sorak-sorai ala kampiun usai menundukkan Bayern Muenchen 2-1.

====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona!

Artikel Asli