Menengok Lagi Akal Bulus Michel Platini saat Atur Undian Piala Dunia 1998

kumparan Dipublikasikan 09.16, 05/08 • kumparanBOLA
Michel Platini mantan Presiden UEFA. Foto: REUTERS/Ruben Sprich

Michel Platini adalah legenda sepak bola dunia. Pria Prancis ini lihai menggocek bola. Tapi bukan hanya saat menjadi pemain saja kelihaiannya ditunjukkan.

Saat undian Piala Dunia 1998, Platini mengatur undian. Tujuannya memuluskan jalan Prancis agar tak bertemu Brazil di fase awal.

Platini merupakan sosok sentral ketika Prancis menjadi kampiun Piala Eropa edisi 1984. Sebagai kapten sekaligus pengatur permainan, dia adalah alasan utama di balik keberhasilan 'Tim Ayam Jantan' merebut trofi Henri Delauney di kandang sendiri.

Empat belas tahun kemudian, Prancis kembali menghelat turnamen akbar di rumah sendiri: Piala Dunia 1998. Di situ, Platini lagi-lagi menjadi sosok sentral dengan jabatan presiden komite penyelenggara. Jika pada Piala Eropa 1984 Platini mengorkestrasi keberhasilan Prancis di lapangan, pada Piala Dunia 1998 dia melakukannya dengan cara mengatur undian sedemikian rupa untuk memberi keuntungan maksimal bagi armada Aime Jacquet.

Kamis (17/5/2018) sore WIB, jagat sepak bola digegerkan oleh pernyataan Platini yang secara gamblang mengakui adanya pengaturan undian. Tujuannya, tak lain dan tak bukan, adalah agar Prancis tidak bertemu dengan Brasil sampai di partai puncak.

Dele Alli saat membela Prancis di Piala Dunia 1998. Foto: Gabriel Buoys/AFP

Brasil saat itu adalah juara bertahan. Ketika itu, praktik yang umum terjadi adalah tim juara bertahan ditempatkan di Grup A; tidak seperti sekarang di mana tuan rumahlah yang berada di grup tersebut. Kala itu, Brasil berada satu grup dengan Skotlandia, Maroko, dan Norwegia.

Sementara itu, Prancis sengaja diletakkan di Grup C bersama Afrika Selatan, Arab Saudi, dan Denmark. Dengan demikian, seandainya Prancis dan Brasil sama-sama keluar sebagai juara grup, mereka tidak akan bersua sampai final. Dan itulah yang terjadi sampai akhirnya Didier Deschamps dkk. berhasil menang 3-0 atas Dunga cs. pada laga final di Stade de France.

"Prancis melawan Brasil di final. Itu adalah idaman semua orang," seloroh Platini dalam wawancara bersama radio France Bleu Sport, seperti dikutip dari The Guardian.

"Ya, memang ada kecurangan yang kami lakukan. Kami sudah menghabiskan enam tahun mempersiapkan penyelenggaraan Piala Dunia dan kami melakukan sedikit kenakalan. Memangnya kalian pikir tuan rumah lain tidak begitu?" lanjut Platini sambil terkekeh.

Apa yang dilakukan Prancis itu sebenarnya bukan hal baru. Guardian mencatat bahwa pada Piala Dunia 1966 dan Piala Eropa 1996, ketika Inggris menjadi tuan rumah, Inggris mengatur sedemikian rupa agar mereka selalu memainkan laganya di Wembley. Hasilnya, pada Piala Dunia 1966 The Three Lions menjadi juara dan pada Piala Eropa 1996 mereka menjadi semifinalis.

Platini setelah dibebaskan dari penahanan. Foto: Zakaria ABDELKAFI / AFP

Adapun, Platini sendiri sekarang sudah tidak lagi memiliki kuasa untuk melakukan tipu daya. Ketika masih menjabat sebagai Presiden UEFA, Platini diputus bersalah atas kasus korupsi dalam kampanye pemenangan Sepp Blatter sebagai Presiden FIFA. Pria 62 tahun ini pun kemudian divonis larangan berkecimpung di sepak bola selama empat tahun.

Artikel Asli