Mendikbud Nadiem Akui PJJ Miliki Efek yang Sangat Negatif

Jawapos Diupdate 12.08, 07/08 • Dipublikasikan 19.30, 07/08 • Bintang Pradewo
Mendikbud Nadiem Akui PJJ Miliki Efek yang Sangat Negatif

JawaPos.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkapkan alasan kenapa zona kuning diperbolehkan tatap muka. Salah satunya adalah karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) memberikan dampak negatif.

Bukan hanya untuk peserta didik, namun juga bagi orang tua. Adapun satuan pendidikan yang diperkenankan melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka adalah tingkat SD, SMP dan SMA. Sedangkan PAUD masih tidak boleh.

“Efek daripada melakukan PJJ secara berkepanjangan, itu bagi siswa adalah efek yang bisa sangat negatif dan permanen,” jelas dia dalam Taklimat Media Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 secara daring, Jumat (7/8).

Terdapat tiga dampak utama yang membuat efek negatif akibat PJJ. Pertama adalah peserta didik berpotensi putus sekolah.

“Ancaman putus sekolah, ada berbagai macam anak yang terpaksa bekerja, dan karena kondisi sekolah PJJ tidak optimal, akhirnya mereka putus sekolah. Ancaman putus sekolah adalah dampak yang real dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita,” jelasnya.

Kemudian, akan adanya penurunan capaian pembelajaran. Bahkan, dengan adanya itu, Indonesia berpotensi memiliki tingkat lost generation (perbedaan kemampuan di satu generasi) yang lebih tinggi.

“Kesenjangan kualitas antara yang punya akses teknologi dan yang tidak, itu jadi semakin besar. Dan kita beresiko punya generasi dengan Learning Loss. Di mana akan ada dampak permanen dalam generasi kita, terutama bagi yang lebih muda jenjangnya,” tutur dia.

Terakhir adalah dampak psikologis. Pasalnya, selama di belajar dari rumah, interaksi antar peserta didik semakin terbatas yang mampu meningkatkan tingkat stres seseorang.

“Tentunya ada juga banyak riset yang menunjukan peningkatan kekerasan pada anak dan risiko psikososial. Dengan stres di dalam rumah, tidak bisa ketemu temannya. Jadi dampak psikologis, dampak masa depan anak-anak kita untuk tidak melakukan PJJ secara berkepanjangan ini real,” ujar dia.

Maka dari itu, pihaknya bersama dengan Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melakukan revisi terhadap SKB Empat Menteri dengan harapan mengurangi dampak-dampak tersebut.

“Untuk mengantipsipasi semua konsekuensi negatif ini, kami beserta 3 kementerian lainnya mengimplementasikan perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning,” tutupnya.

Artikel Asli