Mencoba Memahami Beban Mental yang Dihadapi Sulli Semasa Hidup

kumparan Dipublikasikan 09.04, 17/10/2019 • Masajeng Rahmiasri
Sulli F(x). Foto: Han Myung-Gu/WireImage/Getty Images

Mantan anggota idola grup f(x), Sulli, ditemukan tewas di kediamannya pada Senin (14/10) lalu. Sulli dikabarkan melakukan tindakan bunuh diri akibat komentar negatif dan pandangan orang-orang yang terus membully-nya.

Kabar kematiannya ini menjadi contoh nyata dari efek buruk cyber bullying, yang sejak bertahun-tahun lalu banyak dialami oleh para selebriti Korea Selatan, termasuk juga Sulli. Bullying yang dialaminya lambat laun menjadi suatu beban mental yang terus dipikulnya, bahkan hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Sedikit flashback, 14 tahun silam, Sulli alias Choi Jin Ri memulai debutnya di dunia hiburan Korea Selatan. Saat baru berusia 11 tahun, ia beraktivitas sebagai seorang aktris cilik dalam beberapa drama Korea Selatan pada 2005, sebelum akhirnya debut sebagai penyanyi idola K-Pop bersama girlband f(x) empat tahun setelahnya. Ia mulai mengecap kehidupan idola pada usia 15 tahun, menjadikannya sebagai anggota termuda dalam tim besutan agensi SM Entertainment tersebut.

Girlband K-Pop f(x). Foto: Facebook/@fx.smtown

Sebagai anggota termuda dari girlband Korea, ia sering ditampilkan sebagai seorang dengan citra yang cerah dan manis. Ia juga kerap mendapatkan pujian karena fisiknya yang dinilai sesuai dengan standar Korea Selatan--putih dan berparas cantik.

Namun, hidup Sulli tak bebas hambatan. Aneka masalah menghampirinya, terutama setelah ia ketahuan berpacaran dengan Choiza, rapper dari duo hip-hop Dynamic Duo. Hubungan mereka begitu banyak mendapat kritik, lantaran keduanya memiliki perbedaan usia yang begitu jauh.

Saat ketahuan berpacaran di 2014, Sulli masih berusia 20 tahun, sementara Choiza atau Choi Jae Ho telah berusia 34 tahun. Netizen dan fans yang merasa ‘memiliki’ dan sayang terhadap Sulli pun merasa khawatir bahwa idola pujaan mereka akan mendapat pengaruh buruk dari pria tersebut. Apalagi, Choiza sendiri tak memiliki reputasi yang terlalu positif.

Choiza Dynamic Duo. Foto: choiza11

Menurut Kpopstarz, sebelum mengakui hubungannya dengan Choiza, Sulli sempat vakum dari industri hiburan pada 2014, lantaran merasa stres akibat aneka rumor mengenai mereka. Akan tetapi, keduanya akhirnya mengaku berpacaran dan Sulli pun kembali hadir di hadapan publik. Setahun setelahnya, Sulli hengkang dari girlband f(x) dan beraktivitas sebagai seorang aktris.

Hubungan mereka terus menarik perhatian netizen. Sebagian dari mereka bahkan menduga bahwa Sulli pernah mencoba bunuh diri pada 2016, saat hubungan keduanya dicurigai merenggang dan Sulli sempat dilarikan ke rumah sakit karena luka di bagian pergelangan tangan. Namun, tuduhan tersebut tak terbukti. Selanjutnya, pada 2017, Sulli dan Choiza memutuskan untuk berpisah.

Akan tetapi, masalah yang merundung Sulli tak berhenti sampai di situ. Pasca hengkang dari f(x), gaya hidupnya terus menarik perhatian. Sulli tak ragu untuk menunjukkan sosoknya yang sedang minum-minum dan mabuk lewat Instagramnya. Ia juga tak ragu untuk tampil tanpa bra di hadapan publik. Selain itu, ia juga semakin mendapat penilaian buruk karena pernah melakukan photoshoot bertema lolita yang dianggap mengarah pada konsep pedofil, serta tampil dengan adegan ranjang dalam film 'Real'.

Senyum ceriah selalu ditampilkan Sulli saat dirinya traveling ke suatu tempat. Foto: Instagram @jelly_jilli

Hal-hal yang dilakukannya ini sukses menuai kritik dari publik Korea Selatan yang menuntut kesempurnaan seorang idola karena mereka dianggap sebagai figur publik. Akibat tindakannya, banyak haters yang menyebutnya sebagai tukang cari perhatian, pengguna narkoba, bahkan tak cocok menjadi selebriti hanya karena hal tersebut. Seperti diungkapkan dalam laporan The Korea Times, publik Korea Selatan memang cenderung menerapkan standar moral yang begitu tinggi terhadap selebriti, lebih dari mereka menuntut kesempurnaan moral para politisi.

Posisi Sulli di dunia hiburan pun semakin mengkhawatirkan. Apalagi, ia mengawali kariernya dari usia yang begitu muda, yaitu 11 tahun. Park Jong Seok, kepala dokter di Yonsei Bom Psychiatry, Seoul, mengatakan bahwa para selebriti yang berkarier sejak usia muda menjalani masa remaja tanpa merasakan pertemanan yang sungguh-sungguh. Mereka juga dinilai tidak memiliki stabilitas hubungan dengan rekan sebayanya.

"Banyak selebriti yang berkarier sejak muda mengalami depresi dan kecemasan karena harus hidup di bawah pengawasan publik. Mereka bisa menjadi rentan bila mendapatkan terlalu banyak perhatian," ujar Park Jong Seok, seperti dikutip The Korea Times.

Sang dokter juga mengatakan bahwa hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan sang selebriti. Misalnya, dengan menjadi kurang percaya diri, tak seimbang secara emosi, juga tak dapat beradaptasi dengan lingkungan.

Sulli F(x). Foto: Instagram/@jelly_jilli

"Mereka bisa merasa kekurangan karena tidak memiliki waktu yang cukup bersama keluarga dan teman-temannya. Obsesi untuk sukses dan bertahan di tengah kompetisi yang ekstrem juga bisa menciptakan inferiority complex," tuturnya.

Sulli sendiri juga bukannya tidak pernah mengungkapkan kesulitan dalam hidupnya. Dalam sebuah teaser untuk acara bertajuk 'Jinri Store', perempuan yang tutup usia pada 25 tahun ini mengatakan bahwa dia menderita gangguan kecemasan sejak kecil.

"Bahkan, orang terdekat meninggalkan saya. Saya sedih dan merasa tidak ada yang mengerti saya. Inilah yang membuat saya berantakan," ungkapnya dalam teaser acara tersebut.

Merasa tertekan hingga mentalnya terganggu dalam menghadapi bullyan, Sulli sebenarnya telah meminta agensinya, SM Entertainment, untuk melaporkan netizen yang kerap membullynya kepada pihak berwajib. Sayangnya, kepolisian setempat sulit melacak siapa orang yang melakukan cyber bullying kepada Sulli, karena beberapa di antara mereka langsung menonaktifkan akun media sosialnya dan sisanya berada di luar negeri.

Di lain waktu, pihak kepolisian berhasil melacak netizen yang diduga melakukan bullying kepada Sulli. Namun, Sulli mengurungkan niat untuk membawanya ke jalur hukum lantaran ia tahu bahwa orang tersebut seumuran dengannya dan sedang berkuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Korea. Sulli mencabut laporannya karena tidak ingin merusak masa depan sang pemberi komentar negatif tersebut.

Sulli berpose seakan hendak mencium stroberi saat mengunjungi kebun buah tersebut. Foto: Instagram @jelly_jilli

Sayangnya, Sulli bukanlah satu-satunya idola Korea Selatan yang mengalami tekanan berat. Ada banyak idola yang juga menderita tekanan mental hingga mengganggu kondisi kejiwaannya. Di tahun 2017, Jonghyun SHINee memutuskan untuk merenggut nyawanya karena berjuang melawan depresi. Tahun ini, Mina dari girlband Twice harus hiatus dari sebagian aktivitasnya karena menderita gangguan kecemasan.

Baru-baru ini, idola K-Pop dari era '90an, Kim Dong Wan 'Shinhwa', angkat bicara mengenai masalah tersebut. Menurutnya, selebriti bekerja dalam tekanan yang begitu keras. Level stres mereka juga kian tinggi karena kompetisi yang begitu ketat.

"Para idola K-Pop muda juga tidak dapat makan maupun tidur dengan benar, karena jadwal mereka yang begitu ketat. Namun mereka diminta untuk menutupi emosinya dan tersenyum, menunjukkan sikap yang positif untuk para fans di hadapan publik. Mereka harus berpenampilan seksi tapi tidak boleh melakukan hubungan seksual, juga menjadi kuat tapi tidak boleh melawan apapun," tulisnya.

Apa yang digambarkan oleh Kim Dong Wan pun menggambarkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi oleh selebriti, termasuk juga Sulli yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara sangat disayangkan. Karena inilah, banyak netizen yang meminta pemerintah Korea Selatan untuk menerapkan aturan dalam memberantas netizen yang hobi meninggalkan komentar negatif pada akun media sosial selebriti.

----------------------------

Anda bisa mencari bantuan jika mengetahui ada sahabat atau kerabat, termasuk diri anda sendiri, yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Informasi terkait depresi dan isu kesehatan mental bisa diperoleh dengan menghubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat, atau mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Jangan Bunuh Diri via email janganbunuhdiri@yahoo.com dan saluran telepon (021) 9696 9293, dan Yayasan Pulih di (021) 78842580.

Artikel Asli