Meluruskan Stereotip di Indonesia yang Bikin Hati Miris

Opini Stories Dipublikasikan 07.29, 12/08/2019 • Maria Septia

Laki-laki harus begini, perempuan tidak boleh begitu. Sejak dulu, banyak stereotip, baik gender, suku, budaya dan banyak hal melekat dalam masyarakat. Dan sejak dulu pula, orang berusaha melawan stereotip yang melekat pada mereka. Anggapan atau konsep mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Beragamnya masyarakat Indonesia juga tak terlepas dari stereotip etnis yang hingga sekarang sulit diluruskan. Sebagai contoh, 'orang Batak kasar', orang Betawi malas, 'orang Jawa lamban' dan masih banyak stereotip etnis yang melekat di Indonesia. Akan selalu ada cap yang melekat pada diri seseorang, baik karena suku atau budayanya.

Stereotip Indonesia di mata dunia

1. Orang Indonesia Gak Pernah Bisa On Time!

Coba perhatikan saat kamu mendapatkan undangan sebuah acara. Keterangan waktu yang ada di undangan dan kenyataan waktu saat mulai acara. Hampir bisa dipastikan tidak selalu tepat dengan waktu yang tertera pada undangan. Alasannya, menunggu peserta undangan yang lain dulu.

Kebiasaan ngaret di Indonesia sering kali dianggap menjadi budaya yang bahkan sudah melekat dalam DNA. Kesannya, sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging tersebut. Stereotip negatif tersebut terlihat semakin nyata karena sulitnya orang Indonesia menghargai waktu, khususnya datang sebelum waktu yang ditentukan atau setidaknya tepat waktu.

Seperti dalam buku Naked Traveler, ada sebuah kutipan dari salah satu teman Trinity, berkewarganegaraan asing yang berkata, "There's no way to make Indonesians faster," yang artinya "Tidak ada cara untuk membuat orang Indonesia bergerak lebih cepat." 

Padahal anggapan itu tidak melulu ada pada setiap orang Indonesia yang sudah terbiasa datang tepat waktu.

2. Indonesia Itu Adanya di Bali, Loh?

Bicara soal Bali, pulau dewata ini memang jadi pilihan favorit turis asing saat berkunjung ke Indonesia. Buktinya, Kata Data berhasil merajut data jumlah wisatawan mancanegara ke Bali di tahun 2018 yang mencapai 72 persen dari tahun sebelumnya.

Sayangnya, sampai sekarang banyak turis yang hanya tahu jika Indonesia itu hanya Bali saja. Stereotip ini terus terjadi, meski sudah diberikan penjelasan oleh sebagian besar orang Indonesia.

Stereotip Gender di Indonesia

Dalam konteks gender, perempuan kerap digambarkan sebagai pribadi yang mudah menangis, lemah, tidak mandiri dan emosian. Perempuan juga kerap dinilai dan diatur tubuhnya, dari penampilannya.

Rambut panjang, badan harus langsing, tidak boleh berpakaian terlalu seksi dan lain sebagainya. Sementara laki-laki kerap digambarkan sebagai pribadi yang kuat, perkasa, dan minim aturan. Dan karena itu juga laki-laki gak boleh menangis.

          Lihat postingan ini di Instagram                

Bro, Tidak usah malu untuk berbelanja sayuran dan kebutuhan masak di pasar. Harganya tentu lebih murah dibandingkan belanja di supermarket, jadi kita bisa lebih berhemat. Selain itu kita juga membantu memberdayakan perekonomian pedagang kecil dan menjalin pertemanan dengan mereka. Jika tidak sempat berbelanja kebutuhan masak tadi pagi, bisa juga loh disempatkan setelah pulang kerja di sore atau malam hari. Sambil ke arah rumah, kita bisa mampir ke swalayan atau cari pasar tradisional dekat rumah yang masih buka. Sampai di rumah kita bisa langsung masak untuk makan malam atau untuk santap sahur nanti bersama keluarga. Menyenangkan, bukan? #KitaMulaiSekarang yuk, bro! #domesticwork #pembagianperan #setara #berbagiperan #kesetaraan #rumahtangga #domesticlife #equality #GenderEquality #healthyrelationships #kerjadomestik #investinginwomen #maleinvolvement #lakilakibaru

Sebuah kiriman dibagikan oleh lakilakibaru (@lakilakibaru) pada 6 Mei 2019 jam 6:52

1.Laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga

Dalam lingkup rumah tangga, laki-laki masih dianggap bertugas dan bertanggung jawab sebagai pemberi nafkah dan perempuan yang mengurus rumah tangga. Tidak ada yang salah memang, mengingat bekerja mengurus rumah tangga juga bukan sebuah pekerjaan yang mudah.

Stereotip ini membuat posisi perempuan dalam ranah domestik seringkali dianggap lebih rendah dibanding laki-laki yang bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Kebanyakan masyarakat menilai laki-laki yang bekerja di luar lebih punya nilai karena interaksinya lebih besar dibanding sang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.

          Lihat postingan ini di Instagram                  

Alffy: ?Ga ada aku atau kamu, tapi selalu hanya ada kita. Kita atau tidak sama sekali. Senja & Pagi bukan sebatas pemikiran orang-orang karena kita pengantin baru, tapi Senja & Pagi akan selalu ada untuk selamanya.? ?? . Senja & Pagi adalah 2 sosok idealis yang keliatannya ga mungkin dipersatukan. Awal saya mengenal Alffy, saya menyadari kita sangat mungkin bentrok krn ke-idealisan dan betapa independen nya masing2 kita, tapi setelah pertemuan pertama itu kami justru memutuskan untuk menikah. Perkenalan kami justru berjalan paralel seiring mempersiapkan pernikahan. Beresiko memang. Tapi ga ada keraguan untuk itu ??? #sederhanaitupriceless #senjadanpagi

Sebuah kiriman dibagikan oleh Linka Angelia (@linkangelia) pada 18 Feb 2019 jam 4:00 PST

Jika melihat komitmen pernikahan, tanggung jawab dalam rumah tangga tidak hanya dibebankan kepada laki-laki saja. Namun juga pada perempuan. Saat ini, tak sedikit perempuan yang memutuskan untuk tetap bekerja setelah menikah dan sukses dalam karier.

Perempuan mengambil peran juga dalam tanggung jawab rumah tangga. Sayangnya dalam budaya masyarakat kita masih menganggap perempuan juga harus bertanggung jawab penuh terhadap tugas rumah tangganya. Jika laki-laki turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, misalnya mengurus anak atau mencuci, maka kebanyakan masyarakat memandang sebelah mata.

2. Kesempatan dalam Dunia Kerja

Stereotip bahwa perempuan berpikir dan mengambil keputusan berdasarkan hati, sedangkan laki-laki berdasarkan logika juga masih melekat dalam dunia pekerjaan.

Perempuan tidak bisa menjadi pemimpin yang baik karena dianggap tak mampu berpikir dengan logika dan fakta. Perempuan juga dinilai tidak mampu mengambil keputusan tegas karena stigma yang melekat terhadap perempuan; lemah, labil dan emosian.

Nyatanya, tidak sedikit jumlah perempuan yang sukses menjadi pemimpin dan berhasil membangun bisnis hingga besar. Bahkan banyak perempuan kuat yang melawan arus pendobrak kebiasaan.

3. Stereotip Kasus Kekerasan Seksual

foto: cosmopolitan

"Kenapa baru lapor sekarang?"
"Bajunya terlalu terbuka, kali!"
"Tapi itu kan pacarnya sendiri."

Pertanyaan-pertanyaan yang kerap dilempar masyarakat terhadap pemberitaan kasus kekerasan seksual pada kolom komentar. Bayangkan, di Indonesia khususnya, korban kekerasan seksual masih kerap dianggap sebagai pihak yang disalahkan. Ini menjadi salah satu alasan penyintas kekerasan seksual enggan melapor.

Dikutip dari BBC Indonesia, sebagian besar penyintas kekerasan seksual enggan melaporkan kasus yang dialaminya ke polisi. Hasil survei daring pada tahun 2016 yang dilakukan oleh Lentera Sintas Indonesia, Magdalene.co dan Change.org menunjukkan 93% penyintas kasus pemerkosaan tidak melaporkan kasus mereka ke kepolisian.

Hasil survei juga menunjukkan hanya 1 % dari 25.214 responden menyebutkan kasusnya dituntaskan secara hukum. Sementara lainnya, menyatakan, kasus mereka dipetieskan, pelaku dibebaskan, dan sejumlah kondisi yang dinilai tak memihak korban.

Juga demikian dalam kasus kekerasan rumah tangga. Demi anak-anak dan keutuhan rumah tangga, perempuan yang mendapat KDRT memilih untuk menerima takdir dan tunduk.

Dalam survei PBB 2013, laporan dari 'Why Do Some Men Use Violence Against Women and How Can We Prevent it?' yang dikutip dari Tirto, menunjukkan setidaknya 40 persen responden menganggap perempuan mesti rela mengalami kekerasan agar keluarga tetap bisa bertahan. Rata-rata 97 persen responden meyakini perempuan mesti tunduk pada suami dalam keluarga.

Laporan itu menyebut ada 21,1 persen pria Papua setuju perempuan ada kalanya pantas dipukul. Papua dipilih karena "secara budaya berbeda dengan daerah Indonesia lain dan Papua adalah salah satu tempat untuk program bersama PBB dalam eliminasi kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang dilaksanakan oleh UN Women, UNFPA, dan UNICEF."

Di kota yang diwakili Jakarta, ada 4,9 persen pria beranggapan demikian. Sementara survei pedesaan di Purworejo, ada 8,5 persen laki-laki beranggapan wanita boleh dipukul.

Selain stereotip Indonesia di mata dunia dan stereotip gender, masih banyak stereotip lain yang melekat pada masyarakat Indonesia. Mungkin saja memang benar, tapi stereotip tersebut tidak boleh membuat orang Indonesia direndahkan.

Salah satu cara untuk meluruskannya adalah dengan menumbuhkan kesadaran dan keinginan melawannya. Tidak setuju dengan cap negatif yang melekat, mari lawan dengan membuktikan untuk menunjukkan nilai positif.

Artikel Asli