Mayora targetkan ekspor Le Minerale tumbuh dobel digit tahun ini

Kontan.co.id Dipublikasikan 10.26, 16/10/2019 • Agung Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (MYOR, anggota indeks Kompas100) tengah menggenjot ekspor produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), Le Minerale. Lewat anak usahanya yang menaungi bisnis minuman Mayora, PT Tirta Fresindo Jaya, grup bisnis consumer goods ini optimistis ekspor produk tersebut tumbuh dobel digit.

Porsi ekspor Le Minerale dari total ekspor memang masih kecil. Presiden Direktur MYOR Andre Sukendra Atmadja mengatakan porsinya sekitar 1%-2% setiap tahun. "Dalam setahun ekspor ini (Le Minerale) masih kisaran Rp 100 miliar," katanya ditemui usai seremoni ekspor perusahaan, Rabu (16/10).

*Baca Juga: Kembangkan ekspor, Le Minerale masuk ke pasar Singapura *

Berkaca pada laporan keuangan MYOR sampai semester-I 2019 penjualan ekspor berkontribusi sekitar Rp 5,13 triliun atau sebanyak 43% dari total penjualan bersih MYOR. Penjualan ekspor naik sekitar 6% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 4,85 triliun.

Dengan porsi ekspor Le Minerale 1%-2% dari total penjualan ekspor MYOR, maka diperkirakan sampai semester-I 2019 ekspor Le Minerale mencapai Rp 51,3 miliar sampai Rp 102 miliar. Ekspor produk AMDK jadi tantangan tersendiri bagi MYOR dimana regulasi negara tujuan bisa berbeda-beda.

Belum lagi produk minuman kemasan ini tergolong punya margin rendah sehingga harus pandai mengatur strategi agar dapat profit. Hartono Gunawan, General Manager Export MYOR optimistis mampu menumbuhkan ekspor Le Minerale tahun ini hingga 31% dibandingkan tahun lalu.

"Tahun lalu kami mampu menumbuhkan penjualan ekspor AMDK ini sekitar 23%," ungkap Hartono ditemui dikesempatan yang sama. Perkara margin keuntungan, meski tipis namun MYOR menyebut masih mendapatkan profit yang signifikan.

*Baca Juga: Pengusaha pastikan tidak ada pasal yang jegal industri di UU SDA *

Apalagi ketika dijual di luar negeri, harga produknya akan menyesuaikan tempat tersebut. Saat ini, mayoritas ekspor Le Minerale masih menyisir pasar Filipina. Di negara tersebut, MYOR gencar melakukan promosi lewat iklan di media massa.

Saat ini MYOR memiliki empat pabrik AMDK yang masing-masing punya kapasitas 100.000 sampai 120.000 karton per hari. Satu karton berisikan 24 botol minuman. Sehingga dalam satu tahun perusahaan mampu memproduksi sekitar 876 juta botol hingga 1 miliar botol AMDK.

Sejauh ini utilitas keempat pabrik hampir 100%. Sampai paruh pertama tahun 2019 ini bisnis minuman dalam kemasan menyumbang Rp 6,25 triliun bagi pendapatan MYOR atau tumbuh sekitar 8,6% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 5,75 triliun.

Beberapa brand minuman yang digarap Mayora beragam segmen, jenis minuman siap saji teh yakni teh pucuk masih menjadi kontributor utama, diikuti bisnis AMDK.

*Baca Juga: Persaingan AMDK masih ketat *

Sekadar informasi, sampai semester-I 2019 MYOR membukukan penjualan bersih sebesar Rp 12,05 triliun. Jumlah itu naik 11,48% secara year on year. Di semester I tahun lalu, MYOR membukukan pendapatan sebesar Rp 10,81 triliun.

Pasar domestik menjadi penyumbang utama penjualan MYOR yakni sebesar 57,5% atau sebesar Rp 6,92 triliun. Jumlah itu naik sekitar 16% secara year on year (yoy).

Realisasi penjualan MYOR di semester I 2019 itu setara 45% dari target pendapatan tahun ini. Catatan Kontan menunjukkan, tahun ini MYOR membidik pendapatan sebesar Rp 26,72 triliun atau tumbuh 11% dari pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp 24,06 triliun.

Namun, beban MYOR juga tercatat masih meningkat. Pada semester-I tahun ini, MYOR harus melakukan write-off atas piutang yang tak tertagih sebesar Rp 16,29 miliar.

Disamping kenaikan beberapa pos beban penjualan yang lain, angka penghapusan piutang itu cukup membebani dan membuat MYOR harus menanggung beban penjualan sebesar Rp 1,86 triliun. Angka itu naik hampir sebesar 29% dari tahun lalu yang sebesar Rp 1,44 triliun.

Meski begitu kenaikan beban itu tak terlalu memengaruhi kinerja bottom line MYOR. Tercatat, MYOR membukukan laba bersih senilai Rp 807,48 miliar sepanjang semester I tahun ini, naik sekitar 9,73% dari semester I tahun lalu yang sebesar Rp 735,86 miliar.

*Baca Juga: Komisi V DPR dan pemerintah setuju RUU SDA dilanjutkan ke rapat paripurna DPR *

Artikel Asli