Masalah Kesehatan Hantui Warga Korban Kabut Asap

Media Indonesia Dipublikasikan 06.15, 17/09/2019 • http://mediaindonesia.com/
Warga menggunakan masker saat berada di objek wisata bantaran Sungai Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

SEJUMLAH wilayah di Indonesia antara lain Kalimantan dan Sumatra, tengah dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Karhutla dapat berdampak pada kesehatan masyarakat apabila tidak segera ditangani.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam menuturkan paparan kabut asap dampak dari karhutla bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan antara lain infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) seperti sesak nafas, sakit tenggorokan, iritasi pada mata, hingga hipoksia.

Ia menjelaskan hipoksia merupakan keadaan ketika seseorang kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan pada organ-organ tubuh.

Di dalam tubuh, keseimbangan oksigen diatur sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan.

*Baca juga: *

Orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darah, baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung, terang Ari, sebaiknya dicegah agar jangan sampai mengalami hipoksia. Sebab, kadar oksigen yang rendah menyebabkan jantung mengalami penurunan suplai oksigen yang berat. Hal itu bisa menyebabkan terjadinya infark atau kematian jaringan pada jantung.

"Begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak, kekurangan oksigen dapat memperburuk kondisi pasien hingga mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri," terangnya di Jakarta, Senin (16/9).

Dalam sebuah penelitian, terangnya tanpa merinci dilakukan oleh siapa, diketahui bahwa kondisi hipoksia sistematik kronik dapat menyebabkan kerusakan pada organ seperti hati, ginjal, jantung dan lambung.

Menurutnya, di daerah yang tengah dilanda Karhutla, perlu ada pengukuran persentase penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat kabut asap sehingga hipoksi pada masyarakat bisa dicegah.

"Selain pengukuran kadar oksigen, komponen asap akibat kebakaran hutan juga harus dianalisa, sehingga dapat diprediksi dampaknya buat kesehatan," imbuh dia.

FKUI, ucapnya, pernah melakukan penelitian berjudul "Hubungan antara paparan kabut asap dengan masalah kesehatan selama kebakaran hutan dan lahan September hingga Oktober 2015", oleh Ari Fahrial Syam, Elina, A, Hapsari, F C P, Rahardja, C, dan Makmun, D.

Penelitian tersebut menggunakan metode survei secara daring pada masyarakat yang terkena dampak kabut asap. Hasil penelitian menunjukkan semakin lama terpapar asap akan menyebabkan iritasi pada mata, batuk, sesak nafas, pilek dan sakit tenggorokan.

Untuk mencegah semakin berat paparan, masyarakat diimbau melakukan proteksi sederhana misalnya dengan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan guna meminimalkan asap yang terhirup ke dalam tubuh.

"Untuk sementara memang masyarakat dianjurkan untuk tidak terhirup asap dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi," tukasnya. (OL-2)

Artikel Asli