Masa depanmu cerah, Chilwell

Pandit Football Dipublikasikan 17.02, 18/11/2019 • Petrick Sinuraya
Masa depanmu cerah, Chilwell

Memasuki pertengahan November 2019, Leicester City menduduki peringkat kedua klasemen sementara Premier League dengan torehan 26 poin dari 12 laga. Terakhir kali The Foxes berada di jajaran elit klasemen dalam rentang laga yang sama adalah pada tahun 2015. Pada saat itu, mereka menduduki tempat ketiga sementara dengan perolehan 25 poin. Enam bulan kemudian, Leicester berhasil mengakhiri musim dengan gelar juara. Tentu kita semua masih ingat betapa mengejutkannya hal tersebut.

Secara kasat mata, gaya permainan Leicester di bawah asuhan Brendan Rodgers boleh dibilang berbeda dengan Leicester era Claudio Ranieri dulu. Dilihat dari produktivitas dalam jangka waktu yang sama, pada tahun 2015 Leicester berhasil mencetak 25 gol dan kebobolan 20 gol. Saat ini, Leicester telah membobol gawang lawan 29 kali dan hanya kemasukan delapan. Salah satu faktor yang tidak dapat dilepaskan dari apiknya penampilan The Foxes sejauh ini adalah performa dari sang bek kiri andalan, Ben Chilwell.

Sumber: whoscored.com

Chilwell adalah pemain yang berposisi utama sebagai bek kiri bagi Leicester. Tidak hanya itu, Chilwell juga merupakan pemain yang mempunyai agresivitas cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuannya bermain sebagai gelandang sayap kiri ketika dibutuhkan. Dengan usianya yang masih 22 tahun, Chilwell kini digadang-gadang menjadi bek kiri utama Inggris pada Euro 2020 mendatang.

Pilihan utama Rodgers

Permainan ofensif yang dipilih oleh Rodgers membuat kualitas menyerang Chilwell menjadi salah satu senjata penting bagi Leicester. Meskipun demikian, kemampuan bertahan Chilwell juga patut diacungi jempol mengingat tanggung jawabnya membantu pertahanan Leicester yang baru ditembus delapan kali musim ini; paling sedikit di seantero Inggris.

Perbandingan statistik bertahan Chilwell dengan Christian Fuchs.

Secara kasat mata, terlihat Fuchs (bek kiri utama Leicester City pada musim 2015/16) lebih unggul hampir di semua bidang pertahanan. Perlu diingat bahwa Leicester pada musim tersebut merupakan tim yang lebih defensif dibanding dengan saat ini. Hal ini dibuktikan dengan rataan 22.9 tekel dan 21.9 intersep per laga yang mereka tunjukkan; keduanya masuk dua besar tertinggi di antara semua klub Liga Inggris saat itu. Sebagai perbandingan, musim ini Leicester hanya membuat 11.5 intersep per pertandingan.

Meskipun demikian, statistik pertahanan Chilwell juga menunjukkan beberapa sisi positif. Pertama,rataan 0.3 blok yang dibuatnya tiap pertandingan; sama dengan rataan yang dicapai oleh Fuchs. Kedua, angka 0.5 dilewati lawan per laga, jauh lebih baik dari angka 1.7 milik Fuchs. Ini berarti, rata-rata Chilwell hanya bisa dilewati satu kali oleh penyerang lawan dalam dua pertandingan. Bukti kuat bahwa Chilwell mempunyai kualitas bertahan yang baik.

Perbandingan statistik menyerang Chilwell dengan Fuchs.

Musim ini, Leicester di bawah Rodgers rata-rata mempunyai penguasaan bola sebesar 55.1% dan membuat 82.3% operan sukses di tiap laga; belum lagi total 29 gol dari 12 pertandingan liga sejauh ini. Ketiga hal tersebut menjadi bukti sahih permainan menyerang yang ditunjukkan skuat asuhan Rodgers ini. Sebagai perbandingan, empat musim lalu Leicester di bawah Ranieri hanya mampu mencapai angka rata-rata 44.7% penguasaan bola dan 70.3% operan sukses sepanjang musim.

Perbandingan statistik operan Chilwell dengan Fuchs.

Melalui perbandingan statistik menyerang di atas dapat dilihat bahwa Chilwell mempunyai keunggulan dibanding dengan Fuchs. Hal yang paling menonjol adalah angka 0.5 dribel sukses dan satu kali dijatuhkan lawan per pertandingan; jauh di atas perolehan Fuchs. Sebagai seorang bek sayap, kemampuan dribel Chilwell jelas merupakan aset penting bagi Leicester untuk membongkar pertahanan lawan.

Lebih jauh, Chilwell sejauh ini juga telah berhasil membuat 70.1 operan dengan rataan 78.2% operan sukses per pertandingan; amat jauh dengan angka 36.9 operan dan rataan 72.4% operan sukses milik Fuchs. Tugas penyerangan yang diemban Chilwell pun telah memberikan hasil yang cukup baik bagi timnya. Torehan satu gol dan tiga assist dari 10 pertandingan liga sejauh ini menjadi buktinya. Empat tahun lalu, Fuchs hanya berhasil membuat empat assist sepanjang musim.

Meskipun demikian, Chilwell masih mempunyai kekurangan dalam hal penyerangan dibanding dengan Fuchs. Pemain berusia 22 tahun ini masih cenderung mudah dalam kehilangan bola, yang ditunjukkan dengan angka rata-rata 0.7 kehilangan bola dan 1.7 sentuhan buruk di tiap pertandingan. Chilwell juga perlu memperbaiki efektivitas operannya, terlebih di wilayah lawan. Hal ini dikarenakan jumlah umpan silang suksesnya (0.5 per laga) yang masih sangat rendah dibanding dengan pencapaian rekan setimnya ini.

Terbaik di Premier League?

Menengok performa Chilwell dan Leicester yang sangat baik saat ini membuat beberapa orang mulai membandingkannya dengan Andrew Robertson, bek kiri andalan Liverpool. Membandingkan Chilwell dengan Robertson tentu merupakan hal yang menarik, mengingat saat ini sang bek Skotlandia berusia 25 tahun mulai sering disebut sebagai bek kiri terbaik di dunia oleh banyak orang.

Perbandingan statistik bertahan Chilwell dengan Robertson.

Hampir sama dengan Fuchs pada bagian sebelumnya, Robertson terlihat lebih unggul dalam banyak sisi pertahanan. Mulai dari rataan tekel, intersep, blok hingga rataan menjebak offside lawan per laga masih dipimpin oleh bek kiri Liverpool tersebut. Hal yang cukup menarik dapat kita lihat dari angka 0.5 dilewati lawan per laga; lebih baik dibanding 0.8 milik Robertson. Dapat kita simpulkan bahwa Chilwell relatif mempunyai kemampuan bertahan satu lawan satu yang lebih baik dibanding dengan rivalnya tersebut.

Perbandingan statistik menyerang Chilwell dengan Robertson.

Tidak hanya bertahan, ternyata Robertson juga lebih solid ketika naik menyerang. Mutlak, hanya statistik satu kali dijatuhkan lawan per pertandingan yang mengunggulkan Chilwell dibanding Robertson. Meskipun demikian, produktivitas Chilwell dapat disejajarkan dengan pemain yang disebut-sebut sebagai bek kiri terbaik di dunia itu. Pasalnya, perolehan satu gol dan tiga assist yang dipunyai Chilwell hanya lebih sedikit satu assist daripada milik Robertson; itu pun dengan jumlah dua laga lebih sedikit.

Sejujurnya, masih terlalu dini apabila kita menilai Chilwell sebagai bek terbaik di Liga Inggris saat ini. Pemain 22 tahun ini pun baru menjalani musim keduanya bermain sebagai pilihan utama di pos kiri belakang Leicester untuk menggantikan Fuchs. Jauh berbeda dengan Robertson yang telah malang melintang di Premier League sejak 2014 lalu; belum lagi pengalaman bek Skotlandia ini bermain di Liga Champions bersama The Reds.

Pilihan utama Southgate?

Pada Piala Dunia 2018 lalu, Danny Rose dipilih sebagai bek kiri utama Timnas Inggris oleh Gareth Southgate. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama. Kebiasaan Southgate untuk menggunakan pemain muda menjadi salah satu alasan Chilwell mulai diperhitungkan untuk masuk ke skuat The Three Lions. Bagaimana performa Chilwell jika dibandingkan dengan Rose?

Perbandingan statistik bertahan Chilwell dengan Rose.

Lagi-lagi, Chilwell masih belum dapat unggul dari rivalnya dalam hal statistik bertahan. Meskipun demikian, Chilwell menunjukkan performa lebih baik dalam beberapa sisi dibanding kompatriotnya ini. Rataan 0.9 pelanggaran per laga dibanding 1.6 milik Rose menunjukkan bahwa Chilwell mempunyai disiplin lebih baik ketika berhadapan dengan penyerang lawan. Selain itu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Chilwell juga mempunyai rataan dilewati lawan yang lebih rendah, hanya 0.5 per laga. Berbeda dengan Rose yang rata-rata selalu dilewati satu kali oleh lawan di tiap pertandingan.

Perbandingan statistik menyerang Chilwell dengan Rose.

Sejauh ini, Chilwell telah membukukan rataan 0.7 tembakan per pertandingan, jauh melebihi perolehan Rose di Tottenham. Produktivitas Chilwell dengan satu gol dan tiga assist dalam 10 pertandingan Premier League pun jauh melebihi kompatriotnya, yang hingga detik ini masih belum memproduksi apapun bagi Spurs.

Namun, dari statistik di atas dapat dilihat bahwa Rose ternyata mempunyai kemampuan olah bola yang lebih baik dibanding Chilwell. Hal ini ditunjukkan dengan rataan 0.9 dribel sukses dan 1.8 dijatuhkan lawan per pertandingan yang dimiliki oleh Rose; hampir dua kali lebih baik daripada bek Leicester tersebut. Kendali bola Rose yang baik juga ditunjukkan dengan rataan hanya 0.9 sentuhan buruk per pertandingan; setengah dari capaian Chilwell.

Terlepas dari semua itu, menurunnya performa Tottenham membuat kans Chilwell untuk dipilih ketimbang Rose menjadi lebih besar. Dalam 14 laga kompetisi internasional terakhir (enam di Nations League dan delapan di kualifikasi Euro 2020), Chilwell ternyata mulai diplot menjadi pilihan utama mengisi pos bek kiri Inggris. Bek kiri Leicester ini dipilih untuk bermain dalam total sembilan pertandingan, sedangkan Rose hanya ‘kebagian’ jatah empat laga, sisanya diberikan kepada Luke Shaw.

Pada babak kualifikasi Euro 2020, sepanjang lima laga yang dijalaninya Chilwell telah membukukan total 12 umpan silang sukses dan 86% operan berhasil. Sebagai perbandingan, Rose?—?yang dipilih dalam tiga laga?—?hanya berhasil membuat empat umpan silang sukses. Chilwell juga menunjukkan produktivitas yang cukup baik dengan berhasil membuat tiga assist dalam lima laga yang dilakoninya.

---

Melonjaknya permainan Leicester musim ini tentu tidak dapat dilepaskan dari performa apik yang ditunjukkan oleh Ben Chilwell. Kualitas olah bola dan kemampuan menyerang yang dimilikinya menjadi salah satu senjata andalan bagi The Foxes untuk mengganggu Liverpool di pucuk klasemen. Penampilan gemilang nan agresif Chilwell di level klub itulah yang kini membuatnya menjadi langganan di Timnas Inggris arahan Gareth Southgate.

Namun, Chilwell masih mempunyai beberapa kekurangan, khususnya dalam kemampuan bertahan. Hal inilah yang membuatnya masih belum dapat mengimbangi bek-bek kiri top lainnya, bahkan di tingkat domestik sekalipun. Demi mengamankan pos bek kiri utama di Euro 2020, mau tidak mau Chilwell harus meningkatkan kualitasnya dalam membantu pertahanan. Jika tidak, Rose siap untuk kembali dan merebut pos yang dulu pernah diisi oleh legenda semacam Ashley Cole tersebut.

Menarik untuk ditunggu.

Artikel Asli