Mahasiswa Papua di Makassar: Rasialisme Menular

Medcom.id Dipublikasikan 07.52, 19/08/2019 • https://www.medcom.id
Ketua Asrama Papua di Makassar, Antoni. (Medcom.id/Muhammad Syawaluddin)
Ketua Asrama Papua di Makassar, Antoni. (Medcom.id/Muhammad Syawaluddin)

Makassar: Asrama Papua di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dijaga ketat kepolisian, sejak pukul 08.00 WITA. Penjagaan buntut dari kerusuhan di Manokwari, Papua Barat, dan aksi damai yang masih berlangsung di Jayapura, Papua. 

Ketua Asrama Papua di Makassar, Antoni, meminta Presiden Joko Widodo menindak tegas pelaku teriakan rasialisme ke mahasiswa Papua. Penindakan dinilai tidak boleh pandang bulu.

"Kami berharap Presiden Jokowi menindak pelaku tegas baik itu TNI, Polri, serta ormas yang melakukan tindakan yang seenaknya," Antoni ditemui Asrama Papua di Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, 19 Agustus 2019.

Antonio meminta agar sesama warga negara Indonesia untuk tidak rasis ke warga Papua di mana pun. Lantaran, dia mengaku, warga Papua tidak pernah membedakan suku, ras, dan agama setiap warga Indonesia.

"Kita di sana berbeda-beda tapi tetap satu. Tolong lepaskan teman-teman kami yang ditahan 42 orang itu,"  ucapnya.

Dia mengaku bila dugaan rasialisme tak diselesaikan maka akan menurun ke generasi selanjutnya. Sehingga dia meminta pemerintah bertindak tegas. 

"Kami mahasiswa di Makassar meminta demokrasi dan meminta pelaku ditangkap," tegasnya. 

Kerusuhan pecah di Manokwari, Papua Barat, Senin, 19 Agustus 2019. Lalu lintas di sejumlah jalan di Manokwari, lumpuh akibat diblokade massa. Massa memprotes insiden di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Artikel Asli