Mahalnya Harga Lockdown di Seluruh Dunia

tirto.id Dipublikasikan 10.40, 03/07
Karyawan menghitung mata uang Dolar AS di sebuah tempat penukaran uang, di pusat kota Kairo, di Mesir, Rabu (18/3/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Abd El Ghany/ama/djo.

Kasus kematian akibat COVID-19 telah menembus 508.844 per 30 Juni, menurut Worldometer. Total yang terinfeksi telah menembus 10.435.321. Gelombang pertama virus COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir hingga semester pertama tahun ini ditutup.

Pimpinan WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pandemi COVID-19 masih jauh dari selesai. “Sebagian besar orang masih bisa menjadi suspect, virus masih memiliki ruang yang luas untuk bergerak,” terangnya dalam briefing pada Senin, 29 Juni 2020, seperti dilansir dari Straits Times.

Meski demikian, ada negara yang sudah mendeklarasikan diri nol kasus COVID-19, salah satunya Selandia Baru. Beberapa negara lain mengumumkan kurva kematian yang flat, bahkan nol seperti Vietnam. Namun, sejumlah negara justru melaporkan kasus yang sangat pesat peningkatannya seperti Amerika Serikat, India, dan Brazil.

Pada saat bersamaan, sebagian negara memutuskan untuk tetap membuka perekonomiannya. Gita Gopinath, penasihat ekonomi sekaligus Direktur Riset IMF mencatat 75% negara-negara di dunia kini sudah membuka kembali perekonomiannya, meski pandemi masih belum terkendali.

Lockdown untuk menghambat pandemi memang telah menyebabkan perekonomian menderita. Ekonomi mengalami kontraksi, pengangguran meningkat pesat, jumlah penduduk miskin melonjak. Tak ada pilihan kecuali membuka ekonomi, sembari menata sektor kesehatan untuk menekan angka kematian.

Ekonomi Tergerus Akibat Pandemi

Pandemi COVID-19 telah mengubah total wajah ekonomi dunia. Selama satu semester ini, IMF harus tiga kali mengubah proyeksinya. Pada Januari, IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 3,3%. April 2020, IMF menurunkan proyeksinya menjadi minus 3%, yang diubah lagi menjadi minus 4,9% pada Juni. Dengan proyeksi tersebut, IMF memperkirakan total kerugian ekonomi global selama dua tahun (2020-2021) mencapai 12 triliun dolar akibat krisis.

Perubahan-perubahan proyeksi itu menegaskan bahwa dampak pandemi terhadap perekonomian lebih luas dari perkiraan semula.

Pemerintah negara-negara dunia memang berkomitmen menggelontorkan berbagai stimulus untuk menggerakkan lagi perekonomian. IMF mencatat, dukungan fiskal secara global untuk mengatasi pandemi COVID-19 ini sudah mencapai 10 triliun dolar AS. Beragam kebijakan moneter juga digelontorkan mulai dari pemotongan tingkat suku bunga, injeksi likuiditas, pembelian aset.

Sementara Bank Dunia memperkirakan ekonomi dunia akan menyusut 5,2 persen pada tahun ini. Ini berarti merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II. Demikian Global Economic Prospects yang dirilis Bank Dunia pada Juni 2020. Diperkirakan ekonomi akan rebound ke 4,2% pada 2021.

Pelemahan ekonomi membawa dampak yang luas. Jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan. Pada April, Bank Dunia memperkirakan 40-60 juta orang ke kemiskinan ekstrem. Setelah April, pendulum pandemi ternyata beralih dari Eropa dan Amerika Utara ke belahan Selatan. Hal itu meningkatkan angka kematian di negara-negara dengan penghasilan rendah-menengah, memicu shutdown lebih lama dan meningkatkan biaya ekonomi pandemi.

Bank Dunia kemudian memperbarui proyeksinya. Melalui Global Economic Prospect, Bank Dunia memperkirakan 71 juta orang akan masuk ke kemiskinan ekstrem. Angka itu dengan menggunakan skenario kontraksi ekonomi 5% pada 2020. Jika menggunakan skenario bawah kontraksi ekonomi sebesar 8%, kemiskinan ekstrem diperkirakan mencapai 100 juta.

Pandemi juga menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaannya. ILO memperkirakan, 6,7% atau setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu terkena dampak akibat pandemi secara global pada kuartal II.

Dirjen ILO Guy Ryder mengatakan, pada awal tahun, sebelum COVID-19, tingkat pengangguran global mencapai 190 juta. Kini, diperkirakan 81% dari 3,3 miliar pekerja global terkena dampak penuh atau sebagian.

Membuka Ekonomi

Setelah beberapa bulan ekonomi tersandera akibat COVID-19, beberapa negara memutuskan membuka lagi perekonomiannya secara bertahap, meski kasus positif terus bertambah. Salah satunya adalah Singapura.

Sejak 1 Juni, Singapura sudah masuk tahap pertama membuka ekonominya. Pembukaan ekonomi dijalankan dalam tiga tahap. Rencana itu dijalankan saat kasus positif Corona terus bertambah. Per 28 Juni, ada tambahan 213 kasus, sehingga total menjadi 43.459 di Singapura.

Demikian pula Australia. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, pembukaan kembali perbatasan akan menyokong pertumbuhan lapangan kerja, meski wabah baru muncul di negara bagian dengan penduduk terpadat kedua.

Australia dikategorikan dalam negara yang bisa mengatasi penyebaran virus Corona. Total ada 7.700 kasus, dengan 104 kematian. Namun, dalam beberapa hari terakhir ada peningkatan kasus di negara bagian Victoria. Hal itu mengancam rencana untuk menghapuskan pembatasan social distancing pada akhir Juli. Victoria berbatasan dengan New South Wales dan Australia Selatan. Pembukaan perbatasan dikhawatirkan akan memperluas penyebaran virus.

Pada 11 Juni, Beijing melaporkan kasus pertama virus Corona hampir setelah dua bulan nihil. Namun, Beijing tidak menerapkan lockdown seperti Wuhan. Yang dilakukan pemerintah Beijing adalah melakukan tracing, testing, kemudian karantina terhadap yang positif. Per 24 Juni, jumlah kasus positif mencapai 269, dengan kasus tambahan sudah di bawah 15.

Ekonomi Cina pada kuartal I mengalami kontraksi terburuk sejak tahun 1970. Ekonomi Cina menyusut hingga 6,8 persen, menyusul penutupan ekonomi untuk meredam penyebaran COVID-19.

Demikian pula Indonesia. Per 30 Juni, kasus positif COVID-19 di Indonesia menembus 56.385, dengan 2.876 kasus meninggal.

Pada 26 Mei, saat kasus positif Corona mencapai 23.165, dengan jumlah kematian sebanyak 1.418 jiwa, Presiden Joko Widodo malah mempersiapkan pembukaan ekonomi. Ia melakukan kunjungan ke Summarecon Mall Bekasi, untuk memastikan kesiapan menuju "normal baru".

Infografik Pandemi Vs Ekonomi Dunia

“Kita ingin tetap produktif tapi aman COVID-19. Produktif dan aman COVID-19, ini yang kita inginkan,” kata Presiden Jokowi.

Sebulan setelah kunjungan Jokowi ke Bekasi itu, sektor-sektor ekonomi secara bertahap dibuka, dengan menerapkan protokol kesehatan. Faktor ekonomi adalah pertimbangan utama. Selama masa pandemi dan PSBB diberlakukan, perekonomian Indonesia memang babak belur.

Pada kuartal I, ekonomi hanya mampu tumbuh 2,97%. Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran -0,4% hingga 1%. Pada tahun 2019, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,02%.

Hanya konsumsi pemerintah yang diharapkan masih mencatat pertumbuhan positif di kisaran 3,3% hingga 4%, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 3,2%. Tak ada pilihan lain selain membuka perekonomian untuk menyelamatkan ekonomi.

Ancaman ekonomi makin jelas terlihat. Di saat yang sama, penyebaran virus secara masif masih terus berlangsung. Muncul kekhawatiran gelombang kedua akan lebih buruk. Meski demikian, diperkirakan tidak akan terjadi penutupan ekonomi kembali.

“Gelombang kedua virus ini menjadi keprihatinan investor… Tetapi saya pikir kunci perbedaannya bahwa ini tidak akan seperti yang terjadi pada Maret. Kali ini, kita tidak akan melihat penutupan total ekonomi global,” kata Suresh Tantia, senior investment strategist pada APAC CIO Credit Suisse, seperti dilansir dari CNBC.

Saat gelombang pertama pandemi terjadi pada Maret, negara-negara di dunia bergerak menutup perekonomian. Di pasar saham terjadi aksi jual besar-besaran. Ekonomi terpuruk. Tiga bulan berlalu, kasus Corona terus bertambah. Namun, ekonomi tak lagi ditutup. Harapannya, perekonomian bisa pulih dan di saat yang sama, penyebaran virus bisa semakin terkendali.

Baca juga artikel terkait LOCKDOWN

Artikel Asli