Luhut: Suka Tidak Suka, Cina Kekuatan Dunia Tak Bisa Diabaikan

Tempo.co Dipublikasikan 23.56, 05/06 • Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan seusai menghadiri diskusi bertajuk 'Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara' di Jakarta Pusat, Rabu, 26 Februari 2020. TEMPO/Francisca Christy Rosana
“Supaya anak muda tahu, ekonomi Tiongkok ini hampir 18 persen berpengaruh ke ekonomi global. Amerika kira-kira 25 persen,” kata Luhut.

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Cina menjadi salah satu kekuatan dunia yang tidak bisa diabaikan, termasuk oleh Indonesia. Hal ini disampaikan menyusul banyaknya isu negatif yang berhembus soal keterkaitannya dengan negara tirai bambu, khususnya dalam bidang investasi.
"Supaya anak muda tahu, ekonomi Tiongkok ini hampir 18 persen berpengaruh ke ekonomi global. Amerika kira-kira 25 persen. Jadi suka tidak suka, senang tidak senang, mau bilang apapun, Tiongkok ini merupakan kekuatan dunia yang tidak bisa diabaikan," katanya dalam kuliah umum virtual, Jumat, 5 Juni 2020.
Di hadapan para generasi milenial dan generasi Z, Luhut meminta publik tidak berpikiran terlalu sempit soal investasi Cina ini. Bahkan, Indonesia sebagai negara yang bebas aktif, harusnya membangun hubungan yang baik dengan negara manapun.

Luhut menyebutkan, hal itu harus dilakukan untuk mendukung kekuatan Indonesia. "Jadi tidak bisa kita musuhin satu (negara), maunya sama ini saja. Dan juga tidak ada alasan kita bermusuhan," katanya.

Tak jarang Luhut dikaitkan secara negatif dengan investasi Cina. Begitu pula dengan isu terkait tenaga kerja asal Cina yang dinilai akan menggusur lapangan kerja tenaga kerja lokal.

Sebelumnya mantan Menko Polhukam itu telah berulang kali menegaskan jumlah TKA Cina yang datang ke Indonesia sangat kecil. Di kawasan industri Konawe, Sulawesi Tenggara, misalnya, TKA Cina hanya sekitar 8 persen dari total tenaga kerja yang terserap dalam proyek.

Jumlah TKA Cina pun diharapkan akan semakin berkurang dengan dibangunnya politeknik di Morowali. "Terkait Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina, sebenarnya jumlah mereka seperti di Konawe hanya kurang lebih 8 persen dari para pekerja yang ada. Saat ini jumlah TKA juga makin berkurang dengan adanya politeknik di Morowali," katanya beberapa waktu sebelumnya.

ANTARA

Artikel Asli