Lingsir Wengi Tembang 2: Tumbal (Part 14)

kumparan Dipublikasikan 23.00, 21/02 • Mbah Ngesot
Tumbal. Foto: Argy Pradypta/kumparan

Yang lahir adalah bayi perempuan. Mbah Rumi mengucurkan air ke tubuh bayi itu untuk membersihkan bercak darah, dipotongnya tali ari-ari dengan sebuah pisau, kemudian menyelimuti bayi itu dengan sebuah kain. Bayi Ngartasih lahir dengan sehat, tidak ada cacat sedikit pun.

Ngartasih masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur, sementara Mbah Rumi menimang-nimang jabang bayi sambil melantunkan tembang Lingsir Wengi. Hujan mulai reda, awan hitam bergeser sedikit demi sedikit menampakkan rembulan. Cahayanya menyinari hutan, Mbah Rumi mambawa bayi Ngartasih ke luar dan berdiri di depan pintu sambil terus melantunkan Lingsir Wengi, memandangi cahaya bulan.

Beberapa saat kemudian, Ngartasih tergeragap bangun. Ia memicingkan matanya, pandangannya masih sedikit kabur, ia melihat pintu gubuk terbuka, juga mendengar suara Mbah Rumi melantunkan sebuah tembang. Bercak darah membasahi bagian bokongnya, kainnya basah kuyup oleh cairan lengket, ia meraih sebuah kain berwarna putih di sampingnya lalu menyelimuti tubuhnya yang menggigil kedinginan.

"Mbah," panggil Ngartasih.

"Tuh lihat ibumu sudah bangun," Mbah Rumi masuk ke dalam gubuk sambil terus menimang-nimang bayi.

"Bayimu perempuan, Ngartasih," ucap Mbah rumi sambil tersenyum bahagia.

"Melati, kunamai dia Melati," kata Ngartasih parau.

"Wah, nama yang bagus."

"Melati, kau pasti jadi perempuan yang cantik seperti ibumu." kata Mbah Rumi.

Di gubuk itulah, Ngartasih merawat anaknya. Perlahan Melati tumbuh menjadi anak yang sehat dan aktif. Menginjak umurnya yang kedelapan belas bulan, Melati sudah bisa berjalan walau tertatih-tatih. Setiap hari ia bermain dengan ibunya dan seekor kelinci berwarna putih yang ditangkap Mbah Rumi dari hutan. Ngartasih masih berharap Ki Bamantara menjemputnya, ia yakin suaminya itu pasti akan datang.

Hingga tiba pada sebuah hari yang tidak pernah diinginkan Ngartasih. Tempat persembunyiannya itu ditemukan oleh warga Balangandang. Gubuknya dikepung dua puluh lelaki yang membawa golok. Mereka seperti singa kelaparan yang tidak sabar membunuh Ngartasih. Bagi mereka, selama istri dan keturunan Ki Bamantara masih hidup maka keselamatan warga Balangandang masih terancam.

"Hahaha! Akhirnya kita menemukanmu, Ngartasih!"

"Kau tidak akan bisa lari lagi sekarang."

"Mati kau kali ini!"

"Kita tebas lehernya!"

"Tidak, kita gantung saja dia!"

"Bunuh anaknya!"

"Jangan biarkan mereka hidup!"

Sahut menyahut warga Balangandang mengancam Ngartasih. Saat itu, Mbah Rumi sedang tidak ada di gubuk, ia pergi mencari kayu bakar. Di dalam gubuk, Ngartasih ketakutan sambil memeluk anak perempuannya yang tidak tahu apa apa. Anaknya memandangi Ngartasih lalu lengan mungil itu menyentuh pipi ibunya seolah bertanya kenapa ibu menangis.

Masuklah lima orang lelaki berbadan gemuk, Ngartasih memohon ampun di hadapan mereka sampai berlutut agar anaknya dibiarkan hidup. Tapi, amarah mereka sudah tidak terbendung. Sebuah tali tambang diikatkan pada tiang gubuk, salah satu dari mereka membuat simpul melingkar untuk menggantung Ngartasih.

"Kalian boleh bunuh aku, tapi aku mohon biarkan Melati hidup. Dia tidak tahu apa-apa," Ngartasih terus memohon sambil menangis memeluk anaknya yang ketakutan melihat lelaki gumuk itu.

Sementara teman-temannya yang di luar sudah berkerumun di mulut pintu. Mereka tidak mau ketinggalan menyaksikan kematian Ngartasih.

"Halah! Kami tidak akan membiarkan keturunan Ki Bamantara hidup!" kata salah seorang lelaki itu.

"Aku mohon jangan, biarkan dia hidup. Kalian minta apa pun akan kuberikan termasuk nyawaku, tapi biarkan Melati hidup," rengek Ngartasih.

Tali sudah siap. Dinaikkannya Ngartasih ke atas sebuah balok kayu, sementara anaknya menangis sejadi-jadinya karena ibunya melepas pelukan. Melati dipangku salah seorang lelaki, tangan mungilnya menggapai-gapai ke arah ibunya, berharap ibunya kembali memeluknya.

"Bawa anak itu ke luar," suruh salah satu dari mereka.

Dikalungkan sebuah tali gantung ke leher Ngartasih. Ia menangis pilu sambil melihat ke luar jendela, anaknya menjauh dibawa seorang lelaki gendut. Suara tangis Melati terdengar keras sekali, anak itu ketakutan, anak itu butuh Ngartasih. Kemudian, digulingkan balok kayu yang menjadi pijakan Ngartasih, seketika tali itu mencekik leher Ngartasih. Napasnya tersendak-sendak, lengannya menggapai-gapai, kakinya bergetar, air kencingnya ke luar saking sakitnya digantung. Saat itu juga, Ngartasih mati. Mereka tersenyum puas menyaksikan kematian Ngartasih.

Betapa kejamnya, selang sehari setelah kematian Ngartasih. Jasad Melati mengapung di pantai Balangandang. Entah dengan cara apa mereka membunuhnya, yang jelas mereka tidak mau ada keturunan Ki Bamantara hidup. Mereka menyebut kematian Ngartasih dan anaknya adalah tumbal balas dendam mereka terhadap perlakuan Ki Bamantara.

Artikel Asli