Lingsir Wengi Tembang 2: Kuntilanak (Part 15)

kumparan Dipublikasikan 23.00, 21/02 • Mbah Ngesot
Kuntilanak. Foto: Argy Pradypta/kumparan

Sepulangnya dari mencari kayu bakar, Mbah Rumi terperangah merlihat Ngartasih tewas digantung. Gubuknya acak-acakan, Melati hilang, dia yakin ini pasti perlakuan warga Balangandang. Sambil menangis, Mbah Rumi menurunkan jasad Ngartasih yang sudah kaku dari tiang gantungan.

"Nasibmu Nduk-Nduk. Maafkan Mbah ya tidak bisa nolong kamu." Ia membaringkan jasad Ngartasih di atas tempat tidur. Membuka pakaian Ngartasih lalu memandikan jasadnya sambil terus menangis.

Mbah Rumi sudah menganggap Ngartasih seperti anaknya sendiri. Ia tidak terima kalau warga Balangandang memperlakukan Ngartasih seperti ini. Maka, malam itu juga, ia menggendong jasad Ngartasih dan membawanya ke sebuah mata air. Di sana, ia letakkan jasad Ngatasih di atas dedaunan kering. Cahaya rembulan menyinari sekelilingnya. Mbah Rumi duduk sila di depan jasad Ngartasih sambil melantunkan tembang Lingsir Wengi.

Sesaat kemudian, jasad Ngartasih lenyap dari hadapannya. Mbah Rumi tersenyum puas. Dan di atas dahan pohon beringin, menggelantung sesosok kuntilanak yang tidak lain adalah Ngartasih. Tubuhnya sebesar kerbau, rambutnya menjuntai panjang, matanya merah menyala, bau busuk menguar dari tubuhnya.

"Melati," lirih sosok kuntilanak itu mengucapkan nama Melati.

Kemudian ia terbang perlahan menuju desa Balangandang. Ngartasih yang sudah menjelma menjadi sosok kuntilanak tidak henti menjadi teror bagi warga Balangandang. Anak-anak mereka hilang tanpa sebab lalu besoknya tengkorak mereka mengapung di pantai. Balangandang mencekam, tidak ada warga yang berani ke luar rumah saat malam tiba.

***

Puluhan Tahun Kemudian di Desa Balangandang

Rini menyaksikan perkelahian Arya dan orang gila itu sampai keduanya mati. Sumur yang sudah ia bacakan mantra terus mengepul mengeluarkan asap putih tebal. Sesosok kuntilanak sebesar tubuh kerbau melayang perlahan sambil memeluk tubuh Jesika.

"Kumohon kembalikan Jesika," pinta Rini sambil mendongak ke atas.

Kuntilanak itu kemudian melemparkan tubuh Jesika dan hilang seketika. Tergolek tak berdaya Jesika di atas lantai rumah yang sudah hangus terbakar.

"Gua di mana, Rin?" Tanya Jesika sambil memicingkan matanya.

"Lu aman sekarang, ayo kita pulang, Jes. Ibu sama bapak Lu pasti senang kalau tahu lu masih hidup."

Rini membantu Jesika untuk bangun, ia memapah temannya itu pergi meninggalkan Balangandang yang sudah tidak berpenghuni. Diperjalanan pulang, tidak henti Rini memeluk temannya itu. Ia senang kalau Jesika ternyata benar-benar masih hidup. Setelah ini, tidak akan pernah lagi dia menginjakkan kaki di Balangandang.

Kepulangan Jesika membuat heboh, media ramai memberitakannya. Beberapa kali, Rini dan Jesika diundang ke acara TV untuk menceritakan pengalamannya di desa Balangandang. Wajah mereka terpampang di koran-koran nasional. Bahkan, jadi pemberitaan media internasional.

Dibalik kepulangan Jesika, ada hal aneh dalam dirinya; sekarang ia suka makan daging mentah, bunga melati, dan cangkang kecapi. Tapi, Rini tidak terlalu ambil pusing terhadap perubahan temannya itu. Yang terpenting sekarang Jesika sudah selamat.

"Gue ke toilet dulu, ya," kata Jesika. Siang itu mereka makan di sebuah restoran di Jakarta.

"Iya, Jes," timpal Rini.

Tiba-tiba perut Rini mules juga. Buru-buru ia menyusul Jesika ke toilet. Setelah selesai buang air besar saat Rini mencuci tangannya di wastafel, Rini mencium bau busuk yang sangat aneh. Juga terdengar suara seseorang seperti sedang mengunyah. Ada satu pintu toilet yang terkunci dan itu pasti diisi oleh Jesika.

"Jes?" Panggil Rini, tapi tidak ada jawaban.

Rini mengecek ke bawah pintu toilet, seharusnya terlihat sepasang kaki Jesika di sana, tapi tidak ada. Rini mendorong pintu toilet itu, namun terkunci. Suara orang mengunyah terdengar jelas dari dalam toilet itu. Saat Rini balik badan, dari cermin westafel Rini melihat Jesika sedang berdiri sambil tersenyum di belakangnya. Namun, saat ia berbalik kembali, sosok Jesika itu hilang. Jantungnya berdetak kencang, napasnya turun naik. Dan, saat itu juga terdengar suara Jesika dari dalam toilet melantunkan tembang Lingsir Wengi.

"JESIKA JANGAN NYANYI LAGU ITU!"

Teriak Rini. Pintu toilet terbuka sendiri, tapi tidak ada siapa-siapa di dalam.

SELESAI

Artikel Asli