Lingsir Wengi Tembang 2: Hikayat Balangandang (Part 1)

kumparan Dipublikasikan 23.00, 25/01 • Mbah Ngesot
Foto: Unsplash/Sebastian Pociecha

Setelah membaca mantara lingsir wengi, Rini melongokkan kepalanya ke dalam sumur sambil berjinjit. Tiba-tiba, dari arah belakangnya, seorang lelaki tanpa mengenakan sandal berjalan perlahan dengan sebilah pisau di tangannya seperti hendak menikam Rini. Sekiranya tinggal satu depa jaraknya dari Rini, ia bersiap menusuk punggung Rini dengan sekuat tenaga. Namun, seorang lelaki bertubuh gendut tiba-tiba datang dari arah yang tidak terduga. Ia menubruk lelaki yang hendak menikam Rini.

Rini terkejut saat berbalik badan dan melihat Arya sedang berkelahi dengan orang gila yang pernah mengganggunya dulu. Dengan ganas, Arya menusuk-nusukkan pisaunya ke tubuh lelaki gendut. Darah mengucur dengan deras dari lubang-lubang bekas tusukkan ditubuhnya. Tapi, ia masih mampu bertahan melawan Arya. Sebuah batu berhasil diraih lelaki gendut itu, kemudian dihantamkan bertubi-tubi ke kepala Arya sampai darah tercecer di mana-mana. Batu itu mengenai kepala bagian belakang Arya, membuatnya lemas, lalu tidak sadarkan diri. Sementara lelaki gendut berusaha berdiri sambil memegangi luka tusuk di perutnya. Kedua matanya sayup lalu terkatup perlahan. Sebelum ambruk ia sempat mengucapkan sesuatu pada Rini.

"Pulanglah," katanya dengan parau.

***

*Dulu sekali di desa Balangandang. *

Beduk ditabuh bertalu-talu beradu dengan suara gong, gamelan, gambang, dan nyanyian sinden yang melantunkan tembang Lingsir Wengi. Warga desa berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan di halaman rumah Ki Bamantara--seorang saudagar paling kaya. Obor ditancapkan mengelilingi di sana-sini. Semua penonton sesekali bersorak ikut menimpali alunan musik, membuat pertunjukan semakin ramai. Asap dari obor menguar di tengah-tengah pertunjukkan, membuat lima sinden yang sedang menari berkeringat. Semakin malam, rasanya semakin panas saja.

Sinden-sinden itu berpakaian hijau dan berselendang kuning. Rambut mereka dikonde dengan rapi dan elok dipandang, wajahnya didandani dengan sangat medok. Tubuh mereka sintal, bergoyang-goyang mengikuti alunan suara gamelan. Para sinden itu tampil tanpa panggung alias langsung di atas tanah. Kaki mereka nyeker, gerakkannya gemulai dan menggoda. Sepanjang pertunjukkan, tidak sedikit pun bibir mereka turun, mereka tetap berusaha tersenyum dan terkesan dipaksakan. Bukan! Bukan hanya sinden itu yang gerak-geriknya terkesan dipaksakan, tapi para penabuh gamelan, penonton yang hadir, anak-anak kecil yang dipaksa bangun tengah malam, orang-orang lanjut usia yang bahkan sudah tidak bisa mendengar apa pun alias tuli, anjing-anjing liar yang diseret paksa ke tempat pertunjukkan, mereka semua memaksakan dirinya untuk terlihat menikmati pertunjukan tari sinden. Sebab, takut kepada Ki Bamantara.

Ya, Ki Bamantara. Seperti biasa, selama pertunjukkan berlangsung, ia hanya duduk di teras rumahnya sambil menghisap lintingan tembakau. Kedua kakinya disilangkan, terlihat sangat tenang. Tatapannya sendu tapi mengerikan. Ia mengenakan baju adat jawa berwarna hitam dengan hiasan rantai emas di saku kanannya. Celana hitam yang ia gunakan itu cingkrang semata kaki. Sendalnya terbuat dari karet bekas ban mobil warna hitam. Selama pertunjukkan berlangsung, tidak ada seorang warga pun yang berani menoleh pada Ki Bamantara. Selain dihormati, ia juga ditakuti lantaran sudah bukan rahasia umum lagi kalau dia adalah seorang dukun santet yang punya ratusan pasukan jin di rumahnya.

Ketakutan warga Balangandang bukan tanpa bukti. Suatu hari pernah ada seorang lelaki yang tidak sengaja melintasi rumah Ki Bamantara tanpa membungkuk--yang biasa dilakukan semua warga saat melintasi rumah Ki Bamantara sebagai wujud rasa hormat. Malamnya, tubuh lelaki itu melepuh, bahkan lebih parah lagi, punggungnya mendidih seperti timah yang dipanaskan. Ia menjerit meminta ampun pada Ki Bamantara, namun Si dukun santet itu sudah terlanjur murka. Dan tidak ada satu pun yang bisa menyelamatkan nyawa lelaki itu.

Bukan hanya itu saja buktinya, dua puluh orang pernah mati secara bersamaan saat hendak memprovokasi warga untuk melawan Ki Bamantara. Orang-orang itu mati dengan cara mengenaskan, mereka memuntahkan silet, paku, beling, dan kalajengking. Halaman rumah Ki Bamantara yang jadi saksi kematian mereka.

Bukan hanya itu saja buktinya, lima belas orang mati secara tiba-tiba karena hendak melarikan diri dari desa Balangandang. Kata salah seorang warga yang melihat mereka, orang-orang yang kabur itu diadang seeokor macan yang tubuhnya lima kali lebih besar dari kerbau dewasa. Macan itu dengan ganas mencabik-cabik tubuh mereka. Paginya, potongan tubuh mereka tercecer disepanjang jalan Balangandang.

Atas semua bukti-bukti itu, maka tidak ada satu pun yang berani melawan atau bahkan meludah di depan rumah Ki Bamantara, mereka tahu akibatnya akan fatal. Jadi, di tengah malam buta pun kalau Ki Bamantara membunyikan kentungan yang menggelantung di depan rumahnya, maka semua warga desa harus berkumpul. Anak-anak ditarik paksa oleh kedua orang tuanya untuk menonton, wanita-wanita cantik mendadak dandan medok padahal baru bangun tidur, para lansia yang seharusnya tidur dengan tenang sambil menunggu ajal malah harus memaksakan tubuhnya yang bungkuk untuk berjalan ke halaman rumah ki Bamantara. Mereka semua dipaksa bahagia, tapi tidak sedikit pun merasa bahagia.

Artikel Asli