Leluhur Kasta Tertinggi India pada Orang Indonesia

Historia.id Diupdate 13.44, 19/10/2019 • Dipublikasikan 13.44, 19/10/2019 • historia.id
Aryatama Nurhasyim, peserta tes DNA dalam Proyek DNA Historia Asal Usul Orang Indonesia. (Fernando Randy/Historia)

Aryatama Nurhasyim membuka amplop berisi hasil tes DNA-nya. Dalam diagram lingkaran, ia melihat komposisi genetika leluhur Asia Timur paling dominan. Ia punya 80,85 persen gen leluhur dari wilayah Tiongkok, Korea, Hongkong, Taiwan, dan Jepang.

Sementara sebanyak 18,81 persen adalah DNA moyang orang-orang Asia Timur yang menjelajah ke Amerika utara. Lalu 0,02 persen DNA leluhur Timur Tengah. Sisanya, 0,32 persen menunjukkan jejak genetis leluhur dari India-Brahmana.

“Lumayan mengejutkan. Menarik yang Brahmin ini,” kata Arya.

Sebelum tes DNA, Arya sudah tahu asal-usul leluhurnya memang gado-gado. Ia lahir di Jakarta. Ayahnya berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Ibunya orang Riau, Kabupaten Indragiri Hulu.

“Terus terang saya ini krisis identitas,” kata Arya.

Menurut Arya, kakek dari pihak ayahnya masih keturunan Tionghoa di Surabaya. Sementara keluarga neneknya keturunan Bugis yang menetap di Bima selama ratusan tahun.

“Tapi waktu saya tanya,bilangnya kalau di kampung itu disebut orang Gowa. Ini nggak cocok karena orang Gowa itu Makassar, Bugis bukan orang Gowa. Jadi bingung orang Bugis atau orang Makassar,” kata Arya. “Beliau (ayahnya, red.) waktu kecil nggak pernah ketemu kakek neneknya karena sudah wafat.”

Arya lalu bercerita juga kalau ibunya adalah orang Melayu Riau. Sembari mengingat, dia mengatakan, kakeknya, ayah ibunya, tinggal di Kota Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Tepatnya, di Jalan Narasinga II. Menurut penuturan sang kakek, Narasinga II adalah salah satu moyang mereka.

“Narasinga adalah salah satu raja Kerajaan Indragiri. Ada makamnya juga di sana (di Jalan Narasinga II, red.),” jelas Arya.

Berdasarkan penelusurannya, Kerajaan Indragiri adalah kelanjutan dari Kerajaan Keritangyang masih punya hubungan dengan Kesultanan Malaka.

“Legendanya, Sultan Malaka itu raja pertamanya Parameswara. Parameswara asalnya dari Sriwijaya di Palembang,” kata Arya. “Jadi,mungkin dari situ (DNA leluhur Brahamana didapat, red.).”

Arya bisa sedikit yakin karena melihat keluarga ibunya mempunyai profil muka yang mirip orang dari Asia Selatan. “Cenderung tulang hidungnya tinggi,” kata Arya.

Seingat Arya, di rumah sang kakek ada beberapa foto dan kitab tua. Dia menduga di dalam kitab-kitab itu mungkin ada keterangan silsilah keluarganya yang lebih jelas. Sayangnya, hanya sebatas perkiraan karena buku itu tak tersentuh sejak ratusan tahun silam.

“Tulisannya juga pakai huruf Jawi. Itu pun sudah tak jelas. Jadi silsilah pastinya kami nggak tahu,” katanya.

Asal-Usul Genetik Brahmana di India

Herawati Supolo-Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang meneliti DNA sejumlah orang Indonesia menjelaskan, sebagaimana umumnya masyarakat yang mendiami wilayah barat Indonesia, muasal gen moyang Asia Timur dalam hasil tes Arya bisa didapat dari dua kemungkinkan. Itu bisa dari para penutur Austronesia, yang bermigrasi dari Formosa. Bisa pula dari para penutur Austroasiatik yang bermigrasi dari Asia Daratan ke Nusantara.

“Nah,tapi ini yang menarik banget. Ada genetik Asia Selatan, itu dari India. Tapi Brahmin, jadi Brahmana, kasta yang paling tinggi,ya,” ujar Hera.

Mengenai asal usul Brahmana di India telah lama dibicarakan para ahli. Salah satunya yang menyebut adanya berbagai gelombang imigran yang mempengaruhi struktur genetika India.

Michael Bamshad, peneliti dari Departement of Pediatrics, University of Utah, dalam“Genetic Evidence on the Origins of Indian Caste Populations” termuat di Jurnal Genome Research, menyebutkanbahwayang terbaru diperkirakan kalau orang-orang berbahasa Indo-Eropa dari Eurasia Barat memasuki India dari Barat Laut dan menyebar ke seluruh anak benua. Para imigran itu konon bercampur dengan orang-orang Dravida. Kedatangan mereka diperkirakan juga menggusur populasi penduduk asli berbahasa Dravida dari India utara ke selatan.

“Mereka mungkin telah mendirikan sistem kasta Hindu dan menempatkan diri mereka pada kasta yang tinggi,” tulisBamshad.

Untuk memastikan dugaan itu, Bamshad dan timnya membandingkan DNA orang-orang Eurasia dan DNA populasi kasta di India kontemporer. Hasilnya, mereka yang berkasta tinggi memiliki kecenderungan yang lebih dekat secara genetik dengan orang Eropa daripada dengan orang Asia. Orang-orang berkasta tinggi secara signifikan lebih mirip dengan orang Eropa daripada mereka yang kastanya lebih rendah.

Pun dari sisi bahasa. Menurut Bamshad, bahasa Indo-Eropa yang digunakan bersama, yaitu bahasa Hindi dan sebagian besar bahasa Eropa menunjukkan orang India Hindu kontemporer adalah keturunan dari orang-orang Eurasia Barat yang bermigrasi dari Eropa, Timur Dekat, Anatolia, dan Kaukasus pada 3.000-8.000 tahun lalu. Para migran nomaden itu kemungkinan memperteguh kedudukan mereka, bergabung dengan penduduk asli proto-Asia yang berbahasa Dravida. Dari sana mereka lalu mengontrol akses regional ke tanah, tenaga kerja, dan sumber daya. Kemudian mereka mendirikan Hindu dan hierarki kasta untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuatan ini.

“Masuk akal kalau para imigran Eurasia Barat ini juga menunjuk diri mereka sendiri ke dalam kasta-kasta yang berpangkat lebih tinggi,” tulis Bamshad.

Jejak Brahmana India di Nusantara

Tak heran jika kemudian sejarah India kuno dipenuhi oleh contoh raja-raja Brahamana. Pun Brahmana sebagai pejabat administrasi dan militer, pejuang, penyair, peramal, filsuf, penyair, dramawan, dan pemilik tanah.

Padahal,tradisi membuat mereka terkesan eksklusif dan tak tersentuh urusan duniawi. Upinder Singh, mantan kepala jurusan sejarah di University of Delhi, dalam“Brahmana Settlements in Ancient and Early Medieval India” termuat di A Social History of Early India, menjelaskan bahwa Brahmana adalah orang yang melafalkan doa, memformulasikan ritual atau mantra. Namun, Brahmana India kuno adalah sosok yang enigmatik.

“Ini sampai batas tertentu karena sering ada kebingungan antara Brahama ideal, yaitu ketika ia disajikan dalam teks-teks tradisi Brahmanis, dan Brahamana ketika ia menjalani kehidupannya di dunia nyata,” tulis Bamshad.

Dalam tradisi veda, Brahamana muncul sebagai seorang rsi, penggubah puji-pujian dan sebagai imam upacara. Brahmana dalam Kitab Dharmasastra berdiri di puncak tatanan kasta (varna). Kenyataannya, Brahmana di dunia nyata lebih fleksibel.

Sebagaimana dalam cerita Jataka dari kepercayaan Buddhis. Di sana bisa ditemukan seorang Brahmana yang petani, penggembala hewan, penjaja, tukang kayu, penebang pohon, pengemudi kereta, dan pembuat roda.

Karenanya, tak aneh kalau para Brahmana India bisa mudah berhubungan dengan masyarakat Nusantara. Seperti kata Hera, motif kedatangan mereka bisa jadi lebih beragam. Kendati utamanya tetap sebagai pemuka agama. “Mereka juga mengajarkan pertanian, perairan,” katanya.

Sedangkan menurut Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Mitra Satata: Kajian Asia Tenggara Kuna, kedatangan Brahamana bisa jadi via jalur perdagangan. Hubungan ini diperkirakan sudah terbentuk sejak awal Masehi. “Sudah tentu kaum agamawan itu sampai ke Asia Tenggara dengan menaiki perahu para pedagang,” tulisAgus.

Para niagawan India tentu singgah di pantai dan daerah tertentu. Mereka kemudian menetap sementara waktu demi mencari angin baik untuk melanjutkan pelayaran. 

Di tempat-tempat persinggahan sementara itulah mereka sempat mendirikan bangunan, terutama bangunan suci. “Berdasarkan asumsi itu maka dapat dipahami mengapa pada awal tarikh Masehi banyak ditemukan peninggalan arkeologi yang bercorak budaya India,” lanjut Agus.

Bukti keberadaan brahmana pada masa-masa awal masuknya kebudayaan India contohnya ada di dalam beberapa prasasti yupa dari abad ke-5 di Kutai, Kalimantan Timur. Bahasanya Sanskerta, aksaranya Pallawa.

Jelas, Sanskerta bukanlah bahasa rakyat sehari-hari melainkan bahasa resmi keagamaan. Dengan demikian tentu telah ada golongan masyarakat yang menguasai bahasa itu,yaitu para Brahmana.

Menurut Suwardono, pengajar pendidikan sejarah di IKIP Budi Utomo Malang, dalam Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha, kaum Brahmana telah menjadi golongan tersendiri di dalam masyarakat Kutai Kuno.

Golongan ini diberitakan dalam salah satu prasasti yupa bahwa Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Dalam prasasti lain, golongan itu mengadakan kenduri emas yang sangat banyak. Hampir semua prasasti menjelaskan golongan Brahmana yang mendirikan yupa sebagai peringatan kebaikan budi sang raja.

Entah mereka Brahmana yang didatangkan langsung dari India atas undangan para penguasa Nusantara atau Brahamana yang diangkat dari orang-orang lokal. Sebab, menurut sejarawan Belanda, FDK Bosh, dalam teori arus balik, kedatangan Brahamana India menarik agamawan lokal berangkat ke India. Dari sana mereka kembali ke negeri asalnya dengan membawa pengetahuan baru.

Kisah berabad-abad itu menunjukkan bahwa bangsa ini telah begitu lama membuka diri terhadap pendatang danpengaruh yang dibawanya. Bahkan berkarib pula dengan mereka yang berkasta tertinggi di India.

“Bagus juga tahu (DNA leluhur, red.). Ini untuk membangun kesadaran. Orang Indonesia banyak yang nggak sadar bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas,” kata Arya.

Artikel Asli