Ledakan Terasa hingga 160 Km, 300.000 Orang Kehilangan Rumah

SINDOnews Dipublikasikan 23.33, 05/08 • KORAN SINDO
Ledakan Terasa hingga 160 Km, 300.000 Orang Kehilangan Rumah
Kawasan yang luluh lantak karena ledakan dahsyat akibat 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan tanpa pengamanan di area pergudangan pelabuhan Beirut, Lebanon, kemarin. Ledakan tersebut menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang lai

Kawasan Pelabuhan Beirut porak-poranda akibat ledakan dahsyat yang dipicu terbakarnya 2.750 ton amonium nitrat. Ledakan itu menciptakan gelombang seismik yang dirasakan hingga Siprus, 160 kilometer dari lokasi kejadian. Selain menimbulkan korban tewas dan luka, banyak bangunan rusak berat dan mobil yang hancur.

Berbagai rekaman video yang diambil warga lokal dari berbagai sudut menunjukkan asap membubung tinggi dari Pelabuhan Beirut. Tak lama kemudian ledakan hebat meletus hingga beberapa kilometer. Korban luka dengan dilumuri darah keluar dari tengah asap. Mereka berlarian dan berteriak meminta tolong.

Para nelayan yang sedang menangkap ikan juga terkejut. Kapal dan perahu mereka sempat terempas beberapa kilometer. Begitu pun dengan pedagang yang sedang menjajakan makanan dan mereka yang sedang bersantai di balkon apartemen di sekitar lokasi ledakan. Peristiwa itu terjadi tepat pukul 18.02 waktu lokal di Pelabuhan Beirut. "Kami sudah tertimpa krisis ekonomi dan keuangan, masyarakat telah kelaparan, ditambah lagi dengan peristiwa ini. Kami menderita. Ada banyak sekali penjarah dan pencuri. Siapakah yang akan menafkahi anak-anak yang kehilangan orang tuanya?," keluh Bilal, 60, warga Beirut di dekat lokasi kejadian, dikutip Reuters.

Kawasan Pelabuhan Beirut kini lumpuh dan tak dapat digunakan untuk mengimpor makanan dari luar negeri. Padahal, lebih dari 6 juta warga setempat menggantungkan hidup pada bantuan asing. Begitu pun dengan ratusan ribu pengungsi asal Suriah. Gudang utama gandum di pelabuhan juga hancur lebur. (Baca: Israel dan Hizbullah Salig Bantah Jadi Biang Ledakan)

Sedikitnya 100 orang tewas dan 4.000 lainnya luka-luka. Ratusan korban juga dinyatakan hilang tertimbun reruntuhan bangunan. Peristiwa ini menjadi kejadian terburuk yang mengguncang Lebanon di tengah lilitan utang dan wabah virus corona Covid-19 yang menewaskan 65 orang.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan, 2.750 ton amonium nitrat disimpan selama enam tahun di Pelabuhan Beirut tanpa sistem keamanan memadai. "Hal ini tidak dapat ditoleransi. Kami perlu menggelar pertemuan dan mendeklarasikan darurat negara selama dua pekan," kata Aoun, dikutip Reuters.

Perdana Menteri (PM) Lebanon Hassan Diab mengatakan orang yang bertanggung jawab di balik peristiwa ini akan mendapatkan hukuman berat. Pemerintah Lebanon juga memperingatkan agar tidak mendekati lokasi menyusul adanya laporan bocornya gas beracun. Petugas juga diimbau mengenakan masker. (Baca juga: Polisi Selidiki Unsur Pidana Terkait Laporan Terhadap Anji)

Kepala Palang Merah Lebanon, George Kettani, menggambarkan peristiwa ini sebagai musibah paling mengerikan. Beberapa jam setelah ledakan, api berwarna oranye masih berkobar di bawah langit Beirut yang gelap gulita. Helikopter melayang di atas pelabuhan dan sirene mobil ambulans terdengar di mana-mana.

Sebagian korban dibawa menuju luar Beirut mengingat rumah sakit (RS) di kawasan pusat kewalahan menangani korban. Petugas medis dari wilayah Barat, Selatan, dan Timur Lebanon juga dipanggil untuk memberikan bantuan. Ledakan besar ini mengingatkan masyarakat lokal atas perang sipil pada 1975-1990.

Sebagian masyarakat mengira terjadi gempa bumi mengingat gelombang seismik yang ditimbulkannya sangat besar. Kaca jendela pecah, patung hancur, dan tanah berguncang. Seorang petugas kesehatan bernama Rouba mengaku melihat 200-300 korban masuk ruang inap gawat darurat (IGD) di rumah sakit tempatnya bekerja. "Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Peristiwa ini sangat mengerikan," kata Rouba.

Warga Beirut lain, Huda Baroudi, terempas beberapa meter oleh gelombang seismik ledakan besar di Pelabuhan Beirut. "Saya jadi teringat ledakan yang terjadi di Kedubes AS pada 1983," kata Baorudi. (Baca juga: Ini Biang Kerok Penyebab Bisnis BPR Alami Kebangkrutan)

WNI Aman dan Selamat

Duta Besar (Dubes) RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari, mengatakan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam peristiwa itu. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia yang memperhatikan dan menanyakan keselamatan WNI di Lebanon.

"Berdasarkan pengecekan terakhir, seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat," ujar Hajriyanto dalam siaran pers. "Jumlah WNI di Lebanon mencapai 1.447 orang, 1.234 di antaranya adalah Kontingen Garuda dan 213 orang merupakan WNI sipil, termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa."

Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk Lebanon meminta pihak Kepolisian Lebanon segera memberikan informasi jika terdapat WNI yang menjadi korban ledakan. Melalui grup WhatsApp dan simpul-simpul WNI, KBRI untuk Lebanon juga mengimbau seluruh WNI untuk segera melapor jika berada dalam situasi darurat. "Seorang WNI yang dikarantina di RS Rafiq Hariri, Beirut, yang tidak jauh dari lokasi ledakan, juga terkonfirmasi aman," ujar Thohari.

Selain itu, KBRI untuk Lebanon mengimbau seluruh WNI untuk tidak mendekati lokasi kejadian guna menghindari adanya gas beracun dan menaati arahan pemerintah setempat. (Baca juga: Dua Buronan Kakap Asal Indonesia Ditangkap di Amerika Serikat)

Wilayah sekitar Pelabuhan Beirut porak-poranda: gedung-gedung rusak, serpihan benda-benda berserakan, dan mobil-mobil ringsek. Sejauh ini otoritas terkait Lebanon tidak mengungkapkan penyebab ledakan. Namun, peristiwa itu terjadi ketika tim kontraktor melakukan pengelasan sebuah lubang di gudang pelabuhan.

Sebagian orang menduga peristiwa itu terjadi di gudang amonium nitrat. Ledakan itu juga terjadi dengan radius beberapa kilometer. "Ada banyak orang menanyakan saudaranya yang hilang. Kami kesulitan melakukan pencarian malam hari karena tidak ada listrik," kata Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hasan.

Sebagian negara di dunia menawarkan bantuan kemanusiaan dan kesehatan kepada Lebanon. Beberapa di antaranya Israel, Suriah, Arab Saudi, Qatar, Irak, Amerika Serikat (AS), Prancis, Jerman, dan Inggris. Negara Teluk yang menjadi donor setia Lebanon mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan.

Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarga korban atas ledakan yang terjadi di Pelabuhan Beirut, Lebanon. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mengimbau kepada WNI yang berada di Lebanon untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi situasi tersebut. "Kami mengimbau juga kepada warga negara Indonesia yang ada di Lebanon untuk tetap tenang dan tidak panik," imbaunnya. (Lihat videonya: Suasana Terkini Pascaledakan Maut di Beirut Ibu Kota Lebanon)

Dasco melanjutkan, jika WNI di sana dalam keadaan mengkhawatirkan dan membutuhkan sesuatu, jangan segan untuk menghubungi perwakilan Indonesia di Lebanon. (Muh Shamil/Kiswondari)

Artikel Asli