Ledakan Beirut Menimbulkan Luka Baru

Media Indonesia Dipublikasikan 09.01, 12/08/2020 • http://mediaindonesia.com/
Anggota keluarga korban ledakan Beirut meratapi peristiwa tragis tersebut.

WARGA yang selamat dari ledakan di Beirut, Libanon, masih terguncang. Apalagi bencana itu merusak sebagian kota.

Ledakan dahsyat di wilayah Ibu Kota Libanon telah menewaskan 171 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang. Pukulan mengerikan bagi negara yang berada dalam masa krisis.

Hampir setiap generasi di Libanon pernah mengalami konflik. Mulai dari perang saudara 1975-1990 hingga konflik dengan Israel pada 2006. Walaupun episode suram telah berlalu, namun trauma masih tertinggal jelas di benak masyarakat.

Baca juga: 

Ledakan dahsyat pekan lalu kembali menambah luka pada jiwa warga Libanon. Seperti Carla, seorang warga Beirut yang mengira perang akan kembali dimulai. Saat peristiwa tragis itu dia tengah berada di balkon.

**"Awalnya, saya mengira itu serangan udara. Karena saya mengaitkan kebisingan itu dengan apa yang saya ingat dari perang 2006," ujar warga berusia 28 tahun.

Setelah ledakan menghancurkan jendelanya, dia bergegas ke tangga dan berdiam cukup lama. Namun sebelum Carla bisa menenangkan diri, tetangganya yang sudah tua dan selamat dari perang saudara 1975-1990, sudah sibuk menyapu lantai.

"Ini adalah refleks dari perang, setiap kali ada yang rusak, mereka langsung menyapu," tutur Carla.

Baca juga: 

Doctors of the World, sebuah badan amal internasional, menawarkan pendampingan psikologis gratis bagi warga Beirut. Pascaledakan di pelabuhan Beirut, warga sibuk mencari pertolongan medis dan membersihkan puing-puing bangunan. Saat keadaan perlahan kembali normal, mereka tampak lebih siap untuk berbicara.

**"Itu membantu meredakan semua amarah mereka," ujar Direktur Doctors of the World, Noelle Jouane.

Situasi berbeda di distrik Mar Mikhael yang hancur akibat ledakan. Suara benturan sedikit saja sudah memicu alarm. Di pintu masuk lingkungan itu, seorang lelaki tua tampat terkejut dengan benturan palu pada lempengan besi. Dia bahkan merunduk dan menempelkan tubuh ke kap mobilnya.

Baca juga: 

"Bukan apa-apa," seorang pejalan kaki meyakinkannya.

**Rima Makki, manajer aktivitas kesehatan mental untuk Doctors Without Borders, mengungkapkan banyak warga Libanon yang mengalami trauma. Kepanikan dan ketakutan menjadi reaksi normal terhadap peristiwa abnormal. Apalagi ledakan terjadi saat Libanon berjuang melawan krisis ekonomi dan pandemi covid-19.

"Seluruh masyarakat sudah berada di bawah tekanan psikologis. Adanya insiden besar jelas membawa dampak trauma,” pungkas Makki.(CNA/AFP/OL-11)

 **

Artikel Asli