Lakuning Lintang - Part 3: [2] Rumah

Storial.co Dipublikasikan 05.16, 02/07 • dherilsofia
[2] Rumah

Amba terdiam kehabisan kata-kata sekaligus tidak mampu menyembunyikan kejengkelannya begitu turun dari becak.

Satu dua tetangganya mulai keluar dari rumah-rumah mereka. Lelaki dengan peci dan sarung sementara perempuan sudah mengenakan mukena putih. Langit petang yang makin pekat membuat sosok-sosok itu tampak bagai bayangan kabur. Hentakan pertama suara azan maghrib menyetak Amba. Letak rumahnya yang di ujung jalan persis di samping musola tidak pernah membuat Amba terbiasa dikagetkan dan mau tidak mau membuatnya berpapasan dengan setiap orang. Beberapa dari mereka menyapa dan pura-pura terkejut melihat Amba.

“Ayo, masuk. Enggak enak kalau dilihatin kita enggak ikut jamaah. Kamu pasti capek.”

Begitulah perempuan itu.

Tidak bisa tidak mengabaikan apa kata orang dan apa yang mereka lihat.

Amba pikir itulah kutukan di hidup ibunya.

Setelah membayar tukang becak, Mayang berjalan cepat-cepat di setapak kecil yang mengarah masuk ke pekarangan rumah. Di kedua sisi tanaman bunga matahari menciptakan dinding rapat setinggi satu meter lebih sepanjang jalan yang setengah basah. Teras bahkan tidak terlihat dari tempat Amba berdiri. Beberapa pot pecah terongok begitu saja di beberapa tempat. Selang air tergeletak tanpa digulung rapi. Lumut menguburnya ke dalam tanah. Sepeda tua yang sering dipakai Mayang ke toko kelontong tidak terurus, semakin berkarat dan menjadi sarang laba-laba. Rantainya putus. Amba memasang telinga, berusaha mencari suara kecil itu di tengah lengkingan muazin. Dia tidak melihat sepasang kenari kuning di sangkarnya yang menggantung di tiang teras. Wadah makan dan minumnya berdebu dan pintu kandang terbuka serampangan. 

Pemandangan inilah yang sejak tadi membuat Amba merasa tercekik dan ingin mencekik seseorang. Hatinya berkata, “Lihat apa yang kamu sebabkan. Lihat perbuatanmu kepada kami.”

“Mbak, lapar.”

Amba buru–buru menepis airmata. Tidak biasanya anak itu minta makan kepada Amba. Namun, dari raut sayu itu Amba paham bahwa maksud kata ‘lapar’ Aras berarti tidak ada makanan.

Ya tuhan, sudah sesering apa hal ini terjadi? 

“Tadi ibu bilang mau mampir ke warung pecel lele, tapi kayaknya ibu lupa karena terlalu senang Mbak pulang.”

Amba tidak tahu apakah remaja seusia adiknya memang punya tulang selangka dan lutut menonjol keluar yang membuat kedua tungkainya tampak berbonggol dan sebesar punya Aras. Mata cekung dan bibir mengerut seperti selalu kedinginan. 

“Habis salat, kita ke mini market. Nanti kita belanja dan masak nasi goreng kornet.”

“Nambah sosis boleh? Sama Pocky, ya? Satuuu aja! Aku rebusin air buat Mbak mandi sekarang! Teh manis udah di kamar!” seru Aras sambil berlari ke dapur.

Bukan Aras Kembang namanya jika tidak pandai mengambil hati orang.

---

Ketika masuk ke rumah ini, pandangan akan langsung tertuju pada sebuah lukisan selebar rentang kedua tangan orang dewasa yang telah sering mengelabuhi banyak mata. Padang bunga tanpa batas, hanya ada hamparan kelopak warna-warni seperti konfeti. Di tengah kemeriahan bak pesta musim semi sesosok perempuan berdiri telanjang. Rambut hitam panjang dihiasi rangkaian bunga sampai ke ujungnya. Kulit putih gading terpapar matahari dan berpendar seperti matanya yang menatap lurus tanpa dosa. Postur tidak menggoda, sikap sama sekali tidak menyimpan metafora apapun selain keberadaan. Kedua payudara bulat matang sempurna dan kemaluannya dibiarkan apa adanya. Wajah tanpa emosi, tetapi kehadirannya membuat napas dan aliran darah pasang surut seperti dasar lautan diguncang gempa.

Amba yang dulu mulai beranjak remaja selalu menunduk ke lantai saat melewati lukisan itu. Dia punya pemikiran sendiri tentang siapa perempuan itu. Jelas bukan dirinya yang hanya anak-anak. Bukan pula ibunya yang berkulit lebih langsat dan berperawakan lebih mungil. Siapa persisnya, Amba tidak tahu. Namun, seumur hidupnya lukisan itu membuat Amba merasa tubuhnya bukan tubuh seorang perempuan. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan karena setiap hari diperlihatkan pada sesuatu yang tidak dimilikinya, sesuatu yang kelihatannya hanya bisa menjadi nyata di pikiran seorang seniman.

Jika ada hal yang dipelajari Amba dari keluarganya, itu adalah jangan coba-coba mempertanyakan apa yang diperbuat Bapak. Oleh karena itu, dia hanya menyimpan pertanyaannya dan membuat teori-teori sendiri tentang lukisan itu. Dia pernah menciptakan mitos seram yang akan dia jual ke teman SD-nya di jam istirahat hanya agar mereka mau meminjamkan seperangkat pensil warna mahal yang tidak bisa Amba beli karena terlalu takut meminta kepada ibunya. Sepulang sekolah, mereka akan mampir ke rumah Amba untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Ada yang percaya kelopak bunga di sana bisa bergerak sendiri. Ada yang bilang mata perempuan itu melirik ke kiri. Ada yang tidak percaya dan ada yang melaporkan apa yang baru saja mereka lihat kepada orang tuanya. Amba berakhir dimarahi guru dan dihukum karena dituduh berbohong dan menjadi pengaruh buruk untuk teman-teman sebayanya. Namun, teman-temannya itu selalu kembali kepadanya untuk menagih lanjutan cerita mengenai perempuan yang berusaha melarikan diri dari bunga-bunga yang memangsanya.

Amba tidak tahu pasti bagaimana sejauh ini dia masih mampu bertahan di dunia di mana sejak kecil kepalanya ditanami pikiran bahwa untuk dikagumi sebagai perempuan, dia harus sesempurna fantasi orang lain.

Semua itu bermula di rumah ini. 

Jika pemandangan halaman membuat Amba begitu miris, keadaan di dalam rumah jauh lebih baik. Mungkin karena Aras masih bisa bersih-bersih dan melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk membuat ruangan di dalam rumah tampak tetap terurus. Rumah mungil itu tak banyak menyimpan ornamen, hanya barang-barang yang memang keberadaannya punya fungsi jelas. Meja, kursi, dipan dan satu dua tiga lukisan. Ada empat kamar tidur dan kamar mandi yang semuanya terpakai. Dapur cukup luas jika diperlukan untuk memasak cukup besar untuk acara atau hajatan. Namun, bukan hal ringan untuk memastikan semua rapi dan bebas debu. Aras pasti sudah bekerja keras. Amba bahkan mendapati kamar tidurnya wangi sitrus pengharum ruangan yang digantung di kipas angin. Lantai ubin terasa nyaman di kaki tanda baru saja dipel. Ruang tamu rapi seolah jarang dipakai. Keadaan dapur dan ruang makan memang lebih sepi dari biasanya. Seingat Amba, setiap dia pulang akan ada satu atau dua panci yang masih berisi sayur dan lauk. Rice cooker juga selalu menyimpan nasi hangat dan toples-toples kaca berisi keripik aneka jenis mulai dari yang asin dan manis. 

Kali ini, yang tampak tersisa hanya beras, enam butir telur, lada dan garam

Bagian belakang kepala Amba berdenyut tiba-tiba dikuasai pikiran yang terasa menggelayut memiliki beban tersendiri. Dia berusaha untuk tidak mulai memberi dirinya pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat pusing sendiri, tetapi itu terlalu sulit. Dia nyaris lupa tidak menyentuh nasi goreng di piringnya.

Kenapa meja makan ini begitu sepi?

“Ada pasar malam di lapangan. Sabtu kita ke sana, yuk!” Aras memecah keheningan.

“Musim hujan begini?” timpal Amba.

“Justru itu enaknya. Enggak ramai dan rasanya kayak milik sendiri.”

Amba menatap adiknya lebih dalam dan itu membuat jantungnya seperti diremas. Dia ingat piyama bermotif kupu-kupu yang dikenakan Aras. Dulu Amba selalu merasa piyama itu terlalu pendek untuknya, tetapi justru tampak kedodoran di tubuh Aras. Mungkin sudah jutaan kali Aras memimpikan segala hal menjadi miliknya sendiri dan bukan lungsuran. Hanya saja anak itu ingin terlihat tidak egois.

“Ibu mungkin juga bosan di rumah terus,” Aras menambahkan.

Mayang hanya tersenyum lalu kembali sibuk mengunyah.

“Bukannya kamu lagi ujian tengah semester?”

“Kan besoknya libur. Jadi enggak?”

“Udah, belajar sajalah. Aku bakal sibuk sepanjang minggu.”

“Enggak asyik. Kalau gitu, Aras pinjam laptop buat nonton film.”

“Mbak emang pulang ke rumah, tapi bukan buat santai-santai. Banyak kerjaan…”

“Pelit banget. Coba Mbak Mega masih ada. Dia pasti kasih pinjam kapan saja. Yang selalu nemenin Aras bikin PR dan belajar buat ujian. Bu, kenapa sih, Mbak Mega enggak jadi guru les privat Aras lagi?”

Mayang menjatuhkan sendoknya ke lantai. Dia buru-buru menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik taplak meja. Wajahnya tertunduk dalam hingga buku-buku tulang leher belakangnya yang menonjol kelihatan.

Pertanyaan itu membuat Amba berhenti bernapas untuk beberapa detik. Pikirannya berkabut, menggelap sebelum padam karena amarah.

Tangannya terangkat ke arah pipi Aras dengan jari-jari terbuka. Keras dan panas. Darah seolah berdenyut di pusat telapak tangannya. Semua kekuatan terkumpul di lengan memberikan dorongan kuat sampai-sampai Amba yakin jika dia melakukan apa yang ada di pikirannya sekarang, adiknya bisa pingsan terkena tamparan. Amba membiarkan itu terjadi hanya di dalam bayangannya. Walaupun begitu, rasa geram begitu nyata di kepalan tangannya yang basah berkeringat.

Amba meraih tangan Mayang di bawah meja dan mengelus perlahan untuk menyadarkannya bahwa mereka masih harus melanjutkan sandiwara itu di depan Aras.

Mayang mengambil sendok yang jatuh lalu menempatkannya di samping piring. Berusaha memasang wajah tenang saat bertemu pandang dengan Aras, dia menyedok sepotong telur dadar dan meletakkannya di atas nasi goreng Aras.

“Aras ‘kan udah punya guru privat baru,” ujar Amba.

“Yang benar?”

Amba membuka catatan di ponselnya dan menyodorkannya pada Aras. “Itu daftar buku-buku yang akan kita baca bulan ini. Di bawahnya ada peraturan belajar yang harus Aras patuhi. Terutama tentang main medsos hanya di akhir pekan. Bonusnya, kalau kamu bisa mengalahkan jumlah buku yang aku baca, kamu dapat uang tabungan untuk setiap buku yang kamu baca. Sanggup? Kita mulai Sabtu ini?”

Aras selalu menyukai tantangan, “Ngapain lama-lama. Sekarang aja!”

Mayang beranjak dari kursi sambil membawa piring dan gelas kotor, tetapi Amba mencegahnya. Tangannya masih tidak berhenti gemetar dan menciptakan bunyi kelontang di mana-mana.

“Biar Amba dan Aras yang beresin, Bu.”

“Ibu bisa,” suara Mayang terdengar seperti sedang meyakinkan diri sendiri. “Kalian lanjutin ngobrolnya.”

Amba membiarkan Aras larut dalam celoteh tentang bagaimana dia akan mengalahkan kakaknya karena dia yakin sanggup melahap buku-buku itu. Aras berencana membaca di jeda ujian dan setiap kali sebelum tidur. Dia semakin yakin dengan kemenangannya karena beberapa judul yang ada di daftar sudah pernah dia baca. Aras sedikit kurang percaya diri dengan buku-buku berbahasa Inggris yang dia protes dan harus dihilangkan dari daftar tantangan. Aras bertanya apakah novel ‘The Vegetarian’ tidak terlalu dewasa untuknya karena ada keterangan berlabel 18+ dan apakah Han Kang itu laki-laki atau perempuan saat Amba sibuk memperhatikan bayangan ibunya yang jatuh di lantai dapur. Terguncang dalam isak yang tidak dia perdengarkan.

Artikel Asli