Laki-laki Keracunan Karbon Monoksida Usai Makan di Restoran Hot Pot

kumparan Dipublikasikan 05.50, 17/09/2019 • Mela Nurhidayati Syamsiyah
Ilustrasi Hot Pot Foto: Shutterstock/Norikko

Belakangan ini hot pot jadi salah menu yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Hidangan berkuah asal China ini biasanya berupa panci berisi kaldu rebus dengan bahan-bahan mentah yang diletakkan di sisi panci.

Di China, hidangan yang biasa disebut steamboat atau chinese fondoue ini jadi santapan favorit saat musim dingin. Alasannya tak lain dan tak bukan karena hot pot bisa membuat badan tetap hangat. Tak hanya itu, hot pot juga dianggap jadi cara yang tepat untuk bersosialisasi dengan keluarga atau sahabat terdekat.

Meski lezat dan menggiurkan, ternyata makanan ini juga bisa menyebabkan masalah serius bagi kesehatan. Masalah kesehatan ini datang, terutama jika restoran hot pot menggunakan arang sebagai bahan bakarnya.

Kasus keracunan usai menyantap hot pot baru-baru ini terjadi di China. Dikutip dari China Press, seorang laki-laki bermarga Wu, dari provinsi Zhejiang, China bersama dengan tiga temannya pergi ke restoran hot pot untuk santap siang. Konon, mereka menyambangi restoran hot pot yang menggunakan arang sebagai pemanasnya.

Saat laki-laki berusia 30 tahun itu asik menyantap hot pot, ia kemudian merasakan mual dan muntah sementara tiga temannya merasa pusing. Mereka lalu dilarikan ke rumah sakit dan diminta untuk melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah diperiksa, mereka didiagnosa mengalami keracunan karbon monoksida.

Dokter mengungkapkan bahwa kadar karboksihemoglobin Wu sekitar 30 persen (di mana 20 kali lebih tinggi dari kadar normal). Sedangkan kadar karboksihemoglobin ketiga temannya sekitar 20 persen.

Tes karboksihemoglobin sendiri pada dasarnya adalah untuk menentukan berapa banyak karbon monoksida yang ada di dalam tubuh seseorang. Lebih lanjut, dokter menerangkan bahwa jika kadar karboksihemoglobin seseorang melebihi 50 persen maka bisa menyebabkan penurunan terkanan darah hingga kematian.

Ilustrasi Hot Pot Foto: Shutterstock/Tom Wang

Tak hanya itu, Dokter juga menyebut bahwa kondisi ini disebabkan oleh arang yang digunakan sebagai pemanas hot pot. Dokter kemudian menunjukkan bahwa karbon monoksida yang dilepaskan dari arang memenuhi udara di sekitar ruangan (karena tidak ada ventilisasi yang tepat) sehingga menyebabkan keracunan.

Untungnya, Wu dan teman-temannya bisa diselamatkan. Setelah menjalani terapi oksigen hiperbarik, gejala seperti pusing dan mual kemudian berangsur membaik.

Bagi kamu yang belum familier, karbon monoksida sendiri adalah gas beracun, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mengiritasi kulit dan mata, namun sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Gas ini sendiri dihasilkan dari pembakaran gas, minyak, petrol, bahan bakar padat hingga kayu.

Menurut Mayo Clinic dibandingkan oksigen, karbon monoksida lebih mudah berkaitan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah, dan menyebabkan jaringan tubuh menjadi kekurangan oksigen. Ada beberapa gejala yang ditimbulkan jika seseorang keracunan karbon monoksida; seperti sakit kepala, mual, pusing, kesulitan berkonsentrasi, nyeri di dadap, hingga sesak napas.

Atas kejadian ini, dokter kemudian mengimbau kepada siapa saja untuk berhati-hati saat mengonsumsi hot pot. Salah satu hal yang harus diperhatikan saat datang ke restoran hot pot adalah memastikan bahwa restoran tersebut memiliki ventilisasi yang tepat, untuk menghindari keracunan karbon monoksida (terutama jika restoran tersebut menggunakan bahan bakar arang).

Artikel Asli