Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Tersimpan dalam Doa

a story by Lifiana from JOYLADA | source picture : pixabay.com

Kerjaan yang cukup padat membuatku sedikit penat. Kuhentikan kegiatan sejenak, dan tanpa sengaja menatap seorang pria di seberang mejaku yang sibuk bermain dengan keyboard-nya. 

 

"Masyaallah, sungguh tampan sekali Firman dan akhlaknya juga baik. Andai saja jodohku adalah Firman, Ya Allah, pasti aku akan merasa beruntung sekali." Aku bergumam dalam hati dan mengingat masa lalu, ketika aku dan Firman dalam satu forum. Di forum tersebut ada sesi yang membuat aku meneteskan air mata dan Firman yang duduk di sebelahku spontan memberikan tisu untuk menghapus air mataku. Sejak saat itu hatiku tersentuh dan perhatianku selalu tertuju pada Firman. Aku selalu berdoa agar jodohku adalah dia.

 

Malam semakin larut, semua karyawan satu persatu telah pulang. Hanya tinggal aku yang masih berjuang. 

 

"Yap, tinggal sedikit lagi, akhirnya kelar juga." Aku langsung berkemas dan meninggalkan kantor. Aku mulai menyalakan motor. Berulang kali aku nyalakan, motorku tak mau bersuara juga. Aku harus minta tolong pada siapa, di kantor tak ada siapapun.

 

"Kenapa, Ra? Motornya nggak bisa nyala?" Suara Firman membuatku sedikit terkejut.

 

"Iya, nih, nggak tahu kenapa. Boleh minta tolong buat nyalain, nggak?" Akhirnya Firman mencoba menyalakan motorku dan hasilnya nihil.

 

"Gimana kalau motormu kita bawa ke bengkel aja? Nanti kamu pulangnya biar kuantar." Entah aku harus senang atau sedih. Senang karena alasan ini aku bisa diantar Firman, sedih karena motorku harus masuk bengkel. Tapi, tak apalah mungkin ini semua ada hikmahnya. Atau ini bisa jadi cara Allah mendekatkan aku dengan Firman. Ah, aku bisa saja berasumsi membenarkan kata hati.

 

Sepanjang perjalanan aku banyak ngobrol dengan Firman, dia tak terlalu pendiam seperti yang aku kira. Setelah sampai rumah kami berpisah dan tak lupa aku ucapkan terima kasih padanya.

 

"Ehemmm … siapa, tuh? Alhamdulillahakhirnya aku punya calon mantu." Ternyata ibuku melihat kepulanganku diantar Firman.

 

"Ih, apaan, sih, Bu, orang cuma temen kantor, kok. Aku nggak akan diantar pulang kalau motorku nggak ngambek."

 

"Kalau gitu, sering-sering aja ya motormu ngambek. Biar bisa dianter pulang terus. Ibumu ini sudah tua, Nduk, pengen cepet-cepet punya mantu dan gendong cucu." Lagi-lagi ibu mulai mengingatkan aku akan hal itu.

 

"Iya Bu, Era tahu. Ibu yang sabar ya sama doain Era biar dapet jodoh yang tepat. Era juga udah usaha ikut ta'arufantapi kalau emang belum ada yang srek, gimana? Nggak mungkin juga kan Era paksakan." 

 

Aku mencoba memberi penjelasan pada ibu tentang usaha yang sudah aku lakukan selama ini untuk menemukan pasangan hidup. Aku adalah anak sulung, jadi ibu dan ayah selalu menyuruhku untuk segera menikah. Beliau menganggap dirinya dan ayah sudah semakin tua sehingga ingin sekali segera memiliki seorang menantu dan cucu. Tapi, apa dayaku jikalau tiap kali aku berikhtiar belum juga dipertemukan dengan orang yang pas dengan hatiku. Sebenarnya dalam doaku tersimpan satu nama yaitu Firman.

 

Semenjak saat itu, aku dan Firman sering bertegur sapa. Tak jarang kami makan di kantin bersama, sholat di mushola bersama dan saling menunggu jika kami lembur. Kami juga sering berbalas pesan. Firman juga mengenalkan aku pada keluarganya. Sampai akhirnya Ibu Firman menyuruhku berkunjung ke rumah makanya dan saat itu tak ada Firman di sana.

 

"Nak Era, gimana kabarnya?" Ibu Firman memulai pembicaraan dengan menanyakan kabarku.

 

"Alhamdulillah, baik, Bu. Ibu sendiri?"

 

"Alhamdulillahbaik juga. Ya, beginilah kondisi rumah makan Ibu yang sederhana. Bapak sama Ibu merintis bisnis ini dari awal bersama-sama. Firman sering cerita kalau ayah Era seorang koki, ya, di katering terkenal di Surabaya? Wah, asyik, nih, kalau bisa diajak bisnis bersama."

 

"Iya, Bu, Ayah saya memang koki. Tapi, sama seperti Ibu dan Bapak. Ayah saya juga memulai pekerjaannya dari bawah."

 

"Memang semuanya itu nggak bisa instan, Nak, butuh perjuangan. Ngomong-ngomong gimana ini hubungan Era dengan Firman nggak berniat menuju ke arah yang lebih serius? Soalnya Firman sering cerita tentang kamu ke saya. Kalau kalian sama-sama mantap kenapa nggak serius aja." 

 

Pertanyaan Ibu Firman seketika membuat jantungku terpacu dengan cepat karena aku sendiri bingung harus berkata apa. Tak ada kata cinta di antara kami karena kami merasa sebagai teman kantor biasa, ya walaupun akhir-akhir ini kita sering bersama. Apa ini adalah petunjuk dari Allah untuk membukakan jalan menuju jodohku? Sepertinya aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan padaku.

 

"Gimana, ya, Bu, Era jadi bingung jawabnya. Jujur aja sebenernya Era juga suka sama Firman, akhir-akhir ini memang kita dekat dan saya merasa nyaman. Tapi, semua kembali ke Firmannya, Bu. Kalau Firman memiliki perasaan yang sama dengan saya, ya, alhamdulillah. Tapi kalau tidak juga nggak apa-apa karena perasaan itu tidak bisa dipaksakan Bu."

 

"Oh gitu, ya. Alhamdulillahkalau kamu punya itikad baik seperti itu. Untuk masalah Firman, gampang nanti biar saya cari tahu tentang perasaannya pada kamu. Jadi gimana, apabila kalian memiliki perasaan yang sama. Apa kalian mau segera menikah?" 

 

Detak jantung ini semakin tak tentu arah karena ada kata "menikah", sungguh akan menjadi hal yang paling menakjubkan jikalau Firman benar-benar menikah denganku. Doa yang tersimpan selama ini akan menjadi sebuah kenyataan. Cukup, Ra, cukup, hentikan khayalanmu. Jangan berharap terlalu tinggi karena belum tentu Firman punya perasaan denganmu. Seketika aku bangun dari anganku dan mencoba menjawab pertanyaan Ibu Firman.

 

"Oh, iya Bu. Insyaallah saya siap menikah, jika Firman juga mengiyakan." 

 

"Bagus, Ra, jawaban yang singkat dan mantap tanpa banyak keraguan." Aku bergumam dalam hati.

 

***

 

Beberapa minggu telah berlalu sejak pertemuanku dengan Ibu Firman, semenjak itu hatiku merasa gelisah menunggu jawaban dari Firman apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Sampai akhirnya Firman mengajakku bertemu di sebuah cafe untuk berbicara empat mata. Tak ada pengantar obrolan dan sepertinya Firman ingin mengungkapkan hal yang ingin aku dengar.

 

"Ra, sebelumnya kamu sudah bertemu dengan Ibuku tentunya membicarakan tentang kita. Ibu sudah bercerita banyak tentang kamu. Dan beliau menyuruhku untuk segera mengungkapkan perasaanku kepada kamu, Ra, agar hubungan ini semakin jelas. Selama aku punya teman dekat wanita belum pernah ada yang bisa meluluhkan hati Ibu, kecuali kamu. Untuk kali ini apa yang aku suka ternyata Ibu juga menyukainya. Oleh karena itu, atas izin Allah maukah kamu menikah denganku?" 

 

Aku terdiam, terperangah dan mataku berhenti berkedip sekejap. Ya Allah, apakah aku tidak salah dengar. Apakah pria yang di depanku ini serius ingin menjadikan aku sebagai istrinya? Apakah benar yang di depanku ini adalah Firman yang selama ini aku simpan namanya dalam doaku? Apakah ini nyata, ya Allah? Apakah ini akhir dari pencarianku? Tak henti-hentinya aku menanyakan pertanyaan pada diriku sendiri karena masih belum percaya apa yang telah terjadi padaku.

 

"Ra, kamu baik-baik saja?" Karena mungkin terlalu lama aku terdiam dalam angan, Firman mencoba menyadarkanku.

 

"Oh … maaf, aku masih terkejut dengan ajakanmu untuk menikah. Baiklah, aku akan menjawabnya. Bismillahhirrahmanirahim, Insyaallah aku siap dan mantap menerima kamu menjadi calon imamku yang artinya aku bersedia menikah dengan kamu Firman." Aku menjawab ajakan Firman untuk menikah dengan hati yang pas dan tidak ada lagi keraguan. Karena hal inilah yang aku nanti-nantikan.

 

Seperti air hulu yang mengalir melewati pegunungan, bukit, lembah dan membentur banyak bebatuan yang akhirnya sampai ke hilir. Seperti itulah perjalanan kisah cintaku yang selalu dipenuhi dengan segala cobaan untuk menemukan pasangan yang membuatku nyaman. Dan arus cintaku berakhir pada Firman, pria yang selalu aku simpan namanya dalam doa berharap Allah mewujudkannya. Akhirnya, aku menikah dengan Firman dan kami sudah dikaruniai malaikat kecil yang cantik. Aku berdoa pada Allah semoga keluarga kecilku selalu bisa menghadapi setiap ujian yang menyapa, karena tidak ada bahtera rumah tangga tanpa diterpa badai dari-Nya. 

 

TERSIMPAN DALAM DOA: THE END

 

***

 

Hola semua, perkenalkan namaku Falisca Amelinda nama penaku di Joylada adalah Lifiana. Aku baru gabung di Joylada sebagai author baru tahun ini lho, tepatnya awal tahun 2021. Aku seneng bisa nulis di Joylada karena respon pembaca terhadap karyaku apresiatif banget. Kini aku sudah punya 15 cerita yang udah aku share di Joylada, mau genre apa aja ada di sana. Joylada adalah platform yang keren buat kamu yang suka baca atau nulis. Di Joylada juga banyak challenge dan eventnya lho. Cuz, ayo gabung di Joylada bareng Lifiana.

Akun medsos.  : IG falisca_amelinda, FB Falisca Amelinda, twitter @FaliscaA

Artikel Asli