Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Bertahan demi Anak, Suami Malah Minggat dengan Selingkuhan

kumparan Dipublikasikan 08.39, 16/10 • Cinta dan Rahasia
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Aku adalah wanita idealis yang memiliki prinsip yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Kupikir prinsipku sudah kuat, kupikir aku akan tetap memegang teguh idealismeku sampai kapan pun tapi ternyata aku salah. Hidupku berubah saat aku bertemu dengan Rio, seorang blasteran Belanda yang menjadi rekan kerjaku selama hampir sepuluh tahun.

Mulanya semua berjalan layaknya pertemanan biasa, aku memiliki kekasih lain dan begitu pula dengan dia tapi seiring berjalannya, waktu saat kami merasa benar-benar dekat, kami saling bertukar cerita tentang banyak hal. Mulai dari prinsip hidup, pekerjaan, sampai masalah percintaan dan aku tidak menyangka kalau kami pernah berada di posisi yang sama. Dicampakkan, dibohongi, dan yang berbeda adalah mantan kekasihku suka kasar padaku baik fisik maupun verbal.

Aku tahu dia merasa iba tapi kukatakan padanya kalau semua sudah berlalu. Aku tidak ingin dia merasa iba untuk sesuatu yang sudah berlalu lama sekali, saat bertukar cerita itu posisiku sedang melajang sedangkan dia menjalin hubungan dengan seorang wanita asal Italia. Meski dia blasteran Belanda-Jepang tapi perawakannya benar-benar terlihat seperti orang bule, bukan Asia. Jadi kupikir pola pikir dia pun pasti seperti bule yang senang menjaga privasi dan mementingkan kebahagiaan pasangan.

“Wanita itu pasti bahagia karena mereka sama-sama memiliki prinsip yang sama sebagai orang asing” pikirku, waktu berjalan begitu saja. Aku dan Rio masih menjadi rekan kerja yang saling suportif dan mendukung apa pun yang kami lakukan sampai suatu hari ketika kami diutus untuk pergi ke sebuah negara untuk menjalankan pekerjaan tiba-tiba dia meminta satu kamar kepada resepsionis hotel. Aku baru tahu saat kami sampai di depan pintu kamar “loh kok kamarnya cuma satu?” Tanyaku, “kamar di sini sudah penuh dan dia hanya tersisa ini tapi sudah kupastikan mereka memiliki kasur yang berbeda” jawabnya.

Sejujurnya aku tidak masalah dengan hal itu, tapi merasa janggal karena sebelumnya tidak pernah ada konfirmasi dari kantor untuk tidur satu kamar dengan rekan kerja apalagi dengan jenis kelamin berbeda. Kalaupun si rekan kerja itu memiliki hubungan tetapi tetap saja kamar yang dipesan dari perusahaan tetap saja ada dua tapi aku tidak mempermasalahkannya lagi. Kami berada di dalam satu kamar untuk waktu yang sangat lama, pekerjaan kami banyak di bidang yang berbeda pula dan untuk pertama kali aku merasa sedekat ini dengan Rio.

Melihat bentuk tubuhnya yang kekar membuat jantungku mulai berdebar, belum lagi wanginya yang semerbak saat dia keluar dari kamar mandi. Aku pasti mandi pertama karena harus berdandan dan menata rambut lalu Rio setelahku tapi tetap saja saat berada di kamar sikapnya sangat berbeda padaku seolah kami benar-benar sepasang kekasih. Diam-diam aku mulai berpikiran liar tentang Rio dan mulai memancingnya dengan banyak cara agar dia bergerak lebih dulu.

Maklum saja, meski sebagai wanita yang modern aku tetap saja gengsi untuk memulai percakapan tentang hal sensual terlebih dulu. Aku ingin playing hard to get sampai dia merasa tidak tahan dengan hasratnya sendiri, mulai dari menanggalkan bra di dalam kamar mandi atau sengaja melepas selimut saat tidur, semua kulakukan senatural mungkin sampai akhirnya usahaku itu tidak sia-sia. Suatu hari setelah pulang bekerja, aku langsung mandi dan memakai skin care seperti biasa tiba-tiba Rio keluar dari kamar mandi lalu menggendongku sampai ke tempat tidur.

Dia menindih tubuh mungilku hingga wajah kami hanya berjarak tidak lebih dari satu jengkal. Aku melihat matanya yang berwarna hijau permata, hidung mancungnya menekan hidungku yang mungil. “Kamu sedang apa?” Tanyaku, “bukankah ini yang kamu mau? Selama ini kamu mencoba memancing aku agar aku melakukan ini kan?” jawabnya. Aku hanya tersenyum nakal dan melingkarkan kedua tanganku di lehernya “kamu yakin? Bukannya kamu yang sudah tidak tahan padaku sejak awa?” Tanyaku, “sudah jangan banyak bicara” jawabnya lalu menciumku dengan perlahan namun lama-lama penuh gairah.

Aku sangat senang malam itu akhirnya kami tidak tidur di kasur yang terpisah dan terus melakukannya hingga kembali ke Jakarta. Kupikir semuanya akan berakhir begitu saja dan kami kembali pada kehidupan masing-masing, tapi pikiranku tentang Rio tidak pernah hilang. Ingatan itu kembali dan kembali terputar saat aku ingin tidur, rasanya rindu tidur di atas dada bidangnya yang berwarna kecokelatan. Namun ternyata pucuk di cinta ulam pun tiba, dia datang ke rumahku saat aku sedang merindukannya “kenapa kamu ke sini?” Tanyaku, “aku tidak bisa tidur dan kepikiran tentang kita” jawabnya.

“Kamu sudah punya kekasih Rio” sahutku, “tapi apa kamu mau bersamaku kalau dia sudah kulepaskan? Jujur saja aku lebih senang bersamamu dibandingkan dengannya” jawabnya, “sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama padamu, jadi yaaaa kamu sudah tahu jawabannya” sahutku. Rio tersenyum cerah dan kami melakukannya sebanyak tiga kali hingga matahari sudah meninggi, “apa kita tidak akan pergi ke kantor?” Tanyanya, “kita bisa ambil libur hari ini, aku sangat lelah” jawabku lalu kembali tidur.

Entah sejak kapan aku ditinggalkan di kamarku sendirian, kupikir semalam itu hanya mimpi dan hari berikutnya Rio datang kembali untuk memberikanku kabar baik. “Aku sudah tidak bersama Selena” ucapnya, “sejak kapan?” Tanyaku, “hari ini, maukah kamu menepati janjimu sekarang?” Tanyanya padaku “bukankah kita sudah melakukannya tadi pagi? Jadi sepertinya aku sudah menepati janji sebelum kamu menepati janjimu” jawabku. Sejak hari itu aku dan Rio resmi menjadi sepasang kekasih, kami memutuskan untuk tinggal bersama sampai dua tahun kemudian kami menikah.

Aku mendapatkan sepasang anak kembar dari Rio, wajah mereka benar-benar sangat menggemaskan dan aku bersyukur gen Rio sangat kuat hingga anak-anakku terlihat seperti bule. Pernikahan kami terasa sangat baik-baik saja, hanya terkadang pertengkaran kecil karena dia lupa sedang menjaga dua anak kami yang sangat aktif di rumah. Hal-hal sepele yang menjadikan hidup lebih berwarna, namun seiring berjalannya waktu romantisme di rumah kami perlahan mulai luntur.

Aku tidak tahu tepatnya sejak kapan Rio menjauhiku dan apa alasannya tapi aku berusaha untuk mengembalikan keromantisan di antara kami tapi tetap saja tidak berhasil. Sudah kulakukan beragam cara tapi Rio tetap tidak berubah menjadi Rio yang kukenal sebelumnya, semakin aku berusaha maka semakin jarang pula dia pulang tepat waktu. Usia anak kami sudah sepuluh tahun dan selama itu aku tidak pernah merasakan hal yang seperti itu “apakah ini fasenya? Apa dia bosan denganku?” pikirku lagi dan lagi tapi aku berusaha meyakinkan diri kalau dia tidak seperti itu.

Tapi yang namanya bangkai lama-lama pasti akan tercium juga baunya, aku menemukan chat Rio dengan Selena di ponselnya. Jantungku berdebar sangat kencang, marah, kesal, sedih tapi semua itu harus kutahan agar anak-anak kami tidak merasa trauma. Malamnya aku membicarakan masalah itu dengan Rio, dia menyesal dan meminta maaf padaku seharusnya aku marah lebih besar dari hanya mencari solusi tapi tidak kulakukan.

Seharusnya aku merasa kesal karena Rio sudah menyalahkan prinsip yang kupegang selama ini, tapi mungkin ini yang dinamakan perubahan setelah memiliki anak. Semua yang kulakukan semua harus kupikirkan dampaknya pada kedua anakku yang masih kecil, mereka tidak mungkin tidak memiliki ayah. Jadi hari itu aku memaafkan kesalahaannya dan berusaha kembali seperti biasa tapi belum sembuh luka yang ia berikan, Rio sudah melakukan kesalahan yang sama. Lagi dan lagi hingga bertahun-tahun tapi aku tetap bertahan agar anak-anak bisa memiliki keluarga utuh yang bahagia meskipun sebenarnya aku tidak merasa demikian.

Rio selalu melakukannya dengan Selena, seperti dia merasa terikat sesuatu hingga harus kembali padanya lagi dan lagi. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Rio kembali padaku sepenuhnya tapi hatiku perlahan mulai lelah dan membiarkan dia menyakitiku terus-menerus. Sejujurnya aku sangat merindukan Rio, sikap lembutnya, mendengarkan semua keluh-kesahku tapi sepertinya semua keinginan itu harus kukubur dalam-dalam. Aku hanya mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Hingga ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, mereka sendiri yang mengatakan padaku kalau mereka melihat papanya bermesraan dengan wanita lain. Mau tidak mau aku harus mengungkap semua kebenaran yang selama ini kutelan sendiri, anak laki-lakiku marah besar lalu dia bertengkar hebat dengan Rio tapi bukannya merasa bersalah dia justru mengemas semua pakaiannya dan pergi begitu saja. Rio memilih untuk melarikan diri dari kehidupanku demi bersama Selena, aku tidak marah dan hanya merasa sangat sedih karena apa yang seharusnya kulakukan dari dulu harus dilakukan oleh anak laki-lakiku.

Artikel Asli