Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Ini Cerita TM Korban Pinjol Ilegal yang Sempat Depresi Diteror Debt Collector

iNews.id Dipublikasikan 15.25, 16/10/2021 • Agus Warsudi
Korban pinjol ilegal di Kota Bandung sempat depresi karena kerap diteror dan diancam. (Foto: Ilustrasi)
Korban pinjol ilegal di Kota Bandung sempat depresi karena kerap diteror dan diancam. (Foto: Ilustrasi)

BANDUNG, iNews.id - TM (39), warga Kota Bandung, yang jadi korban pinjaman online (pinjol) ilegal, membagikan ceritanya diteror oleh debt collector. Dia merasa dijebak oleh pinjol ilegal.

Ditemui wartawan di kantor kuasa hukumnya Hawe Law Associate di Antapani, Kota Bandung, Sabtu (16/9/2021), TM masih tampak lemas. Meski begitu, TM bersedia diwawancara.

Kisah berawal pada September 2021. Saat itu, TM menerimashort messag service (SMS) berisi tagihan sejumlah uang. TM kaget lantaran tidak merasa memiliki utang. SMS tersebut disertai link. 

TM yang tak curiga, lalu menekan link tersebut. Tiba-tiba, dana sebesar Rp1,2 juta masuk ke rekening TM. "Saya kaget. Saya coba untuk mengembalikan," kata TM. 

Masalah justru baru muncul setelah TM mengembalikan uang tersebut. TM justru mendapat transfer dana dengan nominal semakin besar mencapai Rp2,8 juta. "Namun, setiap transferan masuk hanya menerima 50 persen," ujarnya. 

"Tapi ternyata tidak selesai semudah itu. Akhirnya semakin jadi. Uang itu tidak ada yang saya gunakan sama sekali dan tenornya hanya tujuh hari," tutur TM.

Teror dan ancaman mulai berdatangan saat TM tidak mengembalikan uang tersebut. Sebab, TM merasa tidak melakukan peminjaman apapun. 

"(Teror) masuk ke HP pribadi dan kontak keluarga. Mereka langsung menghakimi saya. Akhirnya saya down secara psikis dan mental . Ada rasa takut ketemu orang karena ada ancaman," ucap TM. 

Akibat teror dan ancaman yang dilakukan debt collector pinjol ilegal itu, TM mengaku merasa panik dan khawatir dengan keselamatan keluarganya.

"Sampai sekarang saya belum bisa bekerja secara normal, karena ada rasa khawatir ketemu orang yang ada di phone book telepon saya," ujarnya. 

Lantaran depresi, TM terpaksa dibawa ke IGD RS Kawaluyaan, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan mendapat serangkaian pemeriksaan oleh dokter. 

"Saya kira mau struk karena posisi tangan dan kaki keram semua. Saya dibawa ke IGD dilakukan berbagai macam cek, ternyata saya kekurangan kalium, efeknya seperti itu," tutur TM. 

Setelah itu, TM didampingi kuasa hukum Heri Wijaya melapor ke Polda Jabar pada 13 Oktober 2021. Polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan hingga menggerebek kantor pinjol ilegal itu Samirono, Kelurahan Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis 14 Oktober 2021. 

Heri Wijaya, kuasa hukum TM mengatakan, TM merupakan korban. TM dijebak dengan SMS yang masuk ke ponselnya. "Jadi ada cara yang dilakukan oleh perusahaan atau aplikasi pinjol ilegal ini dengan cara mengirim SMS bahwa klien kami punya utang. Jadi seperti sudah ada sistem yang dibuat sama mereka, ketika diklik link di SMS itu secara otomatis masuk uang ke rekening klien dan itu menjadi utang," kata Heri. 

Heri menyatakan, TM yang bekerja sebagai karyawan swasta ini, pernah melakukan pinjaman online di aplikasi legal yang terdaftar di OJK dan sudah selesai tanpa ada masalah. 

"Jadi, dari mana (pinjol ilegal) dapat data korban yang terjerat ini, yaitu pada saat mengklik tadi, datanya sudah ada, ya karena sebelumnya dia sudah terlibat dengan pinjol legal," ujarnya.

Artikel Asli