LCGC Tidak Lagi Spesial, Kini Kena Pajak Barang Mewah

CNN Indonesia Dipublikasikan 00.32, 24/10/2019 • CNN Indonesia

Aturan baru hitung-hitungan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tidak lagi menjadikan mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) sebagai 'anak emas'.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PM) Nomor 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM), produk LCGC kini dibebani PPnBM.

LCGC kini kena PPnBM meski begitu syarat terkait efisiensi bahan bakarnya tetap sama, yakni minimal 20 km per liter atau emisi CO2 pada gas buang maksimal 120 gram per km. Ketentuan ini berlaku bagi mobil LCGC bermesin bensin hingga 1.200 cc.

Syarat buat mesin diesel maksimal 1.500 cc yakni minimal 21,8 km per liter atau maksimal 120 gram CO2 per km.

PM Nomor 73 Tahun 2019 telah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2019 dan telah diundangkan pada 16 Oktober 2019. Namun peraturan ini disebut akan berlaku dua tahun sejak diundangkan, yakni pada 16 Oktober 2021.

Sebelumnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menginginkan LCGC jilid dua tetap bebas PPnBM namun syaratnya emisi CO2 ditingkatkan yaitu tidak lebih dari 100 gram per km atau setara 23 km per liter naik dari yang saat ini berlaku 20 km per liter.

Sementara itu dalam draft yang dibocorkan pada Juli 2019, tingkat konsumsi bahan bakar LCGC disebut tidak berubah namun kena PPnBM tiga persen.

Program LCGC telah bergulir sejak 2013. Saat ini ada lima produsen yang menjadi peserta, yaitu Honda (Brio Satya), Toyota (Calya dan Agya), Suzuki (Karimun Wagon R), Daihatsu (Sigra dan Ayla), serta Nissan dengan merek Datsun (Go dan GO+).

Artikel Asli