LAPSUS: Tahun Ajaran Baru akan Dimulai, 127 Anak di Surabaya Positif COVID-19

kumparan Dipublikasikan 22.22, 31/05 • BASRA (Berita Anak Surabaya)
Pixabay.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020.

Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.

Salah satu alasannya, dimulainya Tahun Ajaran Baru berbeda dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka.

“Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid seperti dikutip dari laman Kemendikbud (28/5).

Rapid test di sejumlah kawasan di Surabaya.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya ada 127 anak berusia 0-14 tahun yang dinyatakan positif COVID-19.

Fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, M Fikser.

"Kemarin (30/5) ada tambahan delapan kasus. Untuk anak usia 0-4 tahun ada 36 kasus, sementara anak usia 5-14 tahun ada 91 kasus. Jadi sekarang total ada 127 kasus anak yang terinfeksi COVID-19," ungkap Fikser ketika ditemui Basra, Minggu (31/5).

Terkait proses penularan virus pada anak, Fikser mengatakan jika sebagian anak tertular dari orang tuanya. "Kalau balita tertular dari ibunya," kata Fikser.

Agar virus tidak menginfeksi orang lain, pihaknya telah melakukan proses isolasi mandiri kepada balita serta keluarga yang terinfeksi.

"Ada enam kasus yang kita lakukan isolasi di asrama haji sama keluarganya. Terus sisanya ada yang di rawat di rumah sakit, dan melakukan isolasi mandiri di rumah," pungkasnya.

Muncul Petisi Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi di laman Change.org

Adalah Watiek Ideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD, yang menggagas petisi 'Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi' di laman change.org.

Saat diwawancara Basra pada Minggu 31 Mei 2020, Watiek menceritakan awal mula dirinya membuat petisi yang kini telah ditandatangani 95.720 orang ini.

"Jadi awalnya saya gelisah. Anak saya kan tahun ini lulus SD, dan waktunya daftar SMP. Tapi kondisinya masih pandemi seperti sekarang ini. Saya coba bujuk anak saya untuk homeschooling saja, tapi dia enggak mau. Lalu ada wacana pemerintah sedang menyiapkan konsep new normal di tengah pandemi. Saya akhirnya tulis kegelisahan itu di Facebook saya. Ternyata banyak sekali yang merasa gelisah seperti saya. Bukan hanya orang tua, tapi pihak sekolah juga. Guru-guru ada yang ikut curhat juga, bahkan tulisan saya itu akhirnya disebarkan sampai ribuan kali," kata Watiek.

Merasa bahwa ada banyak anak, orang tua dan tenaga pengajar yang tak siap bila proses belajar tatap muka dilakukan di tengah pandemi, Watiek pun merasa kegundahan ini harus ada muaranya.

"Kalau cuma curhat sana-sini ya buat apa. Karena itu saya berpikir keras untuk mencari ujungnya harus kemana. Akhirnya terpikirlah untuk membuat petisi. Kalau petisi, kita kan bisa mendesak para pembuat keputusan untuk mau memikirkan kembali situasi masuk ke sekolah di saat pandemi," kata Watiek.

Watiek memberi gambaran, bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

Membayangkan bagaimana anak-anak menjalankan protokol kesehatan yang sedemikian ketat, membuat Watiek dan orang tua di luar sana ragu untuk memasukkan anak mereka ke sekolah saat pandemi.

Watiek berharap, pemerintah mau mempertimbangkan saran Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk tetap melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh mengingat sulitnya melakukan pengendalian transmisi apabila terbentuk kerumunan.

Menurut data IDAI, hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Sedangkan jumlah anak yang berstatus PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19.

Dari temuan ini menunjukkan, tidak benar kalau kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19.

Artikel Asli