Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Menganggap Spirit Doll Bernyawa, Pakar UNS: Pemiliknya Butuh Bantuan 'Profesional'

Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) UNS, Dr. Tri Rejeki Andayani. Foto: Dok. UNS

Jakarta:  Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., pun menanggapi fenomena spirit doll yang ramai diperbincangkan di jagad maya.  Meski ada sisi positifnya, namun perlakuan berlebihan terhadap spirit doll disebut akan berdampak negatif pada pemiliknya.

Ia mengatakan, sebenarnya memiliki boneka arwah termasuk berbentuk bayi adalah hal yang wajar asal dimanfaatkan sebagai media latihan untuk mengasuh anak.  Setidaknya dengan keberadaan spirit doll, orang-orang bisa menyiapkan diri sebelum memiliki anak sesungguhnya.

“Bagi orang dewasa, memelihara boneka arwah dan merawatnya selayaknya ‘bayi’ masih wajar. Bahkan hal itu bisa dimanfaatkan untuk media praktik bagi mahasiswa kebidanan atau keperawatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, boneka apa pun bagi anak-anak termasuk spirit doll bisa menjadi sarana bermain pura-pura atau pretend playPretend play yang dimaksud Tri adalah anak yang memainkan spirit doll bisa berperan sebagai ibu atau kakak yang sedang mengasuh bayi.

Metode ini disebutnya mirip dengan mainan yang sangat viral di Indonesia pada tahun 90-an, Tamagotchi. Ada pun, Tamagotchi menuntut pemainnya untuk memelihara hewan virtual dalam sebuah konsol.

Hewan virtual yang dipelihara harus dirawat sejak dalam telur hingga dewasa, termasuk memberinya makan, memandikan, mengajak bermain, bahkan merawatnya jika sakit. 

“Layaknya spirit doll yang viral belakangan ini, Tamagotchi juga dapat melatih tanggung jawab anak sebelum memelihara binatang peliharaan sungguhan,” imbuhnya.

Kesiapan Memiliki Anak

Tri menerangkan, bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan akan rasa cinta dan ingin memiliki atau need for love and belongingness.  Hal ini diungkapkan Tri mengutip pendapat pencipta teori hierarki kebutuhan, Maslow.

“Hal ini mendorong seseorang untuk menjalin hubungan emosional dengan orang lain yang jika tidak terpenuhi akan memunculkan rasa kesepian,” katanya.

Ia juga menambahkan, sejatinya manusia memiliki dorongan untuk memelihara, merawat, dan membantu (nurturance).  Bisa jadi dengan memiliki dan memelihara spirit doll dapat menjadi media untuk menyalurkan dan melampiaskan dorongan tersebut.

“Karena pada kenyataannya, tidak semua orang siap memiliki anak, atau belum memenuhi syarat untuk mengadopsi anak.  Seperti kita tahu, prosedur untuk mengadopsi anak juga tidak mudah. Selain itu, tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga mental,” imbuhnya.

Sehingga, selama masa tunggu itu, spirit doll bisa menjadi alternatif untuk menyalurkan naluri pengasuhan seseorang karena risikonya lebih kecil dan relatif lebih mudah dirawat. 

Walau ada sisi positif ketika merawat spirit doll, Tri memperingatkan boneka ini bisa membuat seseorang kehilangan realitasnya.  Ia menyampaikan, pemilik spirit doll dapat terikat emosi secara berlebihan dengan dan membangun realitas sendiri yang sifatnya semu.

“Mengganggap boneka tersebut bernyawa atau ada arwahnya dan memberikan fasilitas yang berlebihan yang cenderung mengarah pada hal-hal yang sifatnya mubazir,” imbuhnya.

Baca juga:  Tren Spirit Doll, Psikolog: Tak Wajar jika Dimainkan Orang Dewasa

Apabila hal ini benar-benar dialami seseorang, ia menyarankan agar pemilik spirit doll melibatkan bantuan profesional.

“Jika sudah demikian, ada baiknya juga lingkungan sosial segera membantu yang bersangkutan untuk kembali pada realitas yang sesungguhnya,” terangnya.

Sebelumnya, spirit doll atau boneka arwah hingga hari ini masih menjadi topik yang ramai diperbincangkan warganet di media sosial.  Berawal dari salah satu desainer Tanah Air yang  mengunggah foto dua spirit doll yang dianggap sebagai ‘anaknya’ ke Instagram Desember lalu.

Desainer tersebut kemudian memperlakukan dua spirit doll-nya layaknya seorang bayi manusia sungguhan.  Bahkan ia membuatkan kedua boneka itu akun Instagram pribadi.

Karena perilaku desainer tersebut dinilai tidak biasa dan ganjil, banyak warganet sampai heran dan ikut mengkritik.   

Artikel Asli