Kutu Mutan Penghisap Darah Muncul di Rusia

Tagar.id Dipublikasikan 04.34, 04/06
Kutu Mutan Penghisap Darah Muncul di Rusia

Jakarta - Kutu mutan penghisap darah muncul di Rusia, demikian laporan surat kabar resmi pemerintah Rusia melaporkan. Terdapat lonjakan korban gigitan kuta mutan baru yang menghisap darah di wilayah Siberia. Dilaporkan ada 428 kali lebih banyak korban gigitan kutu di daerah tersebut.

Para ilmuwan melaporkan telah menemukan bentuk mutan dari Arakhnida yang disebut memiliki kualitas terburuk dari dua bentuk kutu yang umum ditemukan di Rusia.

Berdasarkan laporan surat kabar Zvezda, yang dikutip, Kamis, 4 Juni 2020, sejumlah wilayah di Siberia telah dilanda kawanan kutu. Di antara laporan itu termasuk penyebutan kutu mutan, yang merupakan gabungan "kualitas terburuk" dari dua jenis kutu Rusia yang umum, yaitu Ixodes persulcatus dan kutu Pavlovsky atau Far Eastern.

Kehadiran kutu mutan ini juga memicu rasa waswas yang semakin besar, karena rumah sakit di Siberia kehabisan vaksin dan obat-obatan untuk jenis penyakit yang dapat ditimbulkan oleh gigitan kutu tersebut.

Hal ini termasuk Ensefalitis, peradangan otak yang diperkirakan telah membunuh lebih dari 150.000 jiwa pada 2015, dan penyakit Lyme yang sering melemahkan jika tidak diobati.

Kasus gigitan kutu mutan ini membuat rumah sakit yang sudah kewalahan karena jumlah kematian dan infeksi coronavirus Covid-19, semakin menjadi karena belum adanya vaksin dan obat-obatan.

Di wilayah Krasnoyarsk, Rusia tengah, petugas medis melaporkan ada 8.215 kasus gigitan kutu, di mana 2.125 kasus melibatkan anak-anak.

Hampir dua persen orang yang tergigit membawa ensefalitis viral tick-borne, yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, dan sepertiga mampu menularkan tick-borne borreliosis atau penyakit Lyme yang menyerang sendi, jantung, dan sistem saraf.

Kutu mutan ini menempel pada manusia dari rumput sebelum menemukan tempat untuk mengigit korban dan menghisap darah.

"Sejumlah besar hibrida antar spesies yang menghasilkan keturunan subur telah menginvasi Novosibirsk dan daerah Tomsk," ucap Dr Nina Tikhunova dari Institut Biologi Kimia dan Kedokteran Fundamental, Novosibirsk, seperti dilansir dari Dailymail, Rabu (3/6/2020).

Musim dingin dipandang sebagai alasan utama kenaikan jumlah kutu. Kutu mutan ini mampu membawa agen infeksius yang terkait dengan kedua spesies induk. Setiap orang yang digigit kutu, harus mencari bantuan medis untuk memeriksa apakah kutu itu terinfeksi.

Novosibirsk telah melihat lonjakan 150 persen pada orang yang mencari bantuan medis setelah tergigit kutu. Sebanyak 22 orang telah dirawat di rumah sakit dan diduga menderita ensefalitis.

Sementara itu, di wilayah Sverdlovsk di Ural, sebanyak 17.242 orang telah digigit kutu, di antara adalah anak-anak sebanyak 4.334, dengan 36 persen dikatakan memiliki penyakit Lyme.

Banyak rumah sakit di kota mengatakan pihak mereka tidak memiliki stok imunoglobulin untuk mengobati penderita. Wilayah Khabarovsk mengatakan sudah kehabisan vaksin imunoglobulin dan ensefalitis. Vaksin itu harus disuntikkan tidak lebih dari empat hari sejak terkena gigitan.

Pasokan baru vaksin diharapkan akan tersedia pada Juli 2020, dan orang-orang diminta untuk tinggal di rumah.[]

Artikel Asli