Kurniawan Usulkan Bepe Jadi Ketum PSSI

kumparan Dipublikasikan 08.31, 18/06/2019 • Alan Kusuma
Pemain sepak bola legendaris Indonesia. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Pada Januari 2020, Federasi Sepak Bola Dunia alias FIFA sudah memberikan pada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menggelar Kongres Tahunan. Ada agenda penting yang bakal diusung yakni pemilihan Ketua Umum (Ketum), Wakil Ketua Umum (Waketum) dan Anggota Komite Eksekutif (Exco).

Seperti yang sudah-sudah, bursa calon Ketum PSSI selalu ramai bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Hingga saat ini, sudah dua nama yang menyatakan bakal maju yaitu Rahim Soekasah dan Komjen Pol M. Iriawan.

Terlepas dari dua calon tersebut, kini muncul usulan nama yang bisa ikut meramaikan menuju kursi PSSI 1 itu. Kali ini datang dari Ketua Umum BOPI, Richard Sam Bera. Tetapi, mantan atlet renang Indonesia di ajang SEA Games medio 2000an ini bukan mengusulkan diri sendiri melainkan dari mantan pemain Timnas Indonesia.

Melalui akun Twitter pribadinya, Richard menilai ada tiga nama yang layak untuk bersaing sebagai Ketum PSSI yakni Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto dan Ponaryo Astaman. Richard memilih ketiga nama itu karena ingin sepak bola Indonesia bebas dari kepentingan lain seperti politik dan individu.

Menyikapi cuitan Richard, salah satu nama yang disebut, Kurniawan Dwi Yulianto, memberikan komentar. Secara tak langsung, pemain jebolan PSSI Primavera ini menunjuk juniornya yaitu Bambang Pamungkas untuk bersaing dengan Rahim dan Iwan Bule.

''Kalau soal dari mantan pemain, Bepe (Bambang Pamungkas) saja, bagaimana?'' ujar Kurniawan kepada kumparanBOLA, Selasa (18/6/2019).

Saat ini, Bepe masih bermain untuk Persija Jakarta. Striker 39 tahun itu juga sempat menjabat posisi Wakil Presiden Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), yang kini diteruskan oleh kompatriotnya di Persija, Andritany Ardhiyasa.

Kurniawan memang tak merinci mengapa ia menyodorkan nama Bepe sebagai kandidat Ketum PSSI. Akan tetapi, pemain yang pernah merumput bersama klub Swiss, FC , ini memberikan beberapa poin terkait calon yang nantinya akan menjabat pada periode 2020-2024.

Pertama, kata Kurniawan, calon yang maju haruslah sesuai aturan yang berlaku. Adapun maksudnya, merujuk ketentuan yang sudah diatur dalam statuta PSSI Pasal 34 ayat 6, calon pemimpin adalah sosok yang minimal berkecimpung dalam dunia sepak bola Indonesia minimal lima tahun terakhir.

Kedua, lanjut Kurniawan, tidak ada kepentingan apapun kecuali untuk memajukan sepak bola Indonesia. Kemudian yang ketiga, melibatkan orang-orang profesional di bidangnya di kepengurusan PSSI periode mendatang.

''Dan juga melibatkan stakeholder sepak bola termasuk praktisi sepak bola yang tanpa ada kepentingan pribadi atau golongan, ya, sehingga segala keputusan dapat dilihat dari segala sudut pandang dan benar-benar untuk kepentingan sepak bola Indonesia,'' ujarnya lagi.

Well, beberapa tahun belakangan, nama-nama yang mengajukan diri memang hadir dari luar sepak bola. Berkaca dari pemilihan 2016 silam, Benhard Limbong, Djohar Arifin Husin, Eddy Rumpoko, Tonny Apriliani, Edy Rahmayadi, Moeldoko, Erwin Aksa, dan adalah mereka yang mayoritas berkarier sebagai politisi dan militer.

Coach Bima dan Kurniawan Dwi Yulianto memberi arahan kepada Timnas Indonesia saat melakukan latihan di Stadion Madya Senayan, Jakarta. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kurniawan sendiri memang sempat mengajukan diri sebagai Ketum di Kongres Tahunan PSSI 2016. Akan tetapi, ia kalah telak dari Edy Rahmayadi karena tak satu pun voters yang memilihnya.

Terlepas dari tak terpilihnya Kurniawan di periode 2016, satu syarat yang untuk mereka yang akan mengisi kursi Ketum PSSI adalah harus pembinaan sepak bola usia dini.

''Karena kompetisi sejak dini akan menghadirkan pemain-pemain hebat yang nantinya akan berseragam Timnas Indonesia di masa mendatang,'' kata Kurniawan.

Artikel Asli