Kura-kura Leher Ular di Rote Ndao, NTT, Telah Punah

Kompas.com Dipublikasikan 14.55, 11/08/2020 • Robertus Belarminus
KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL
Kura-kura Leher Ular (Chelodina mccordi) ditunjukkan saat rilis terkait kasus penyelundupan satwa di Gedung Balai Instalasi Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (14/9/2017). Sebanyak 65 ekor kura-kura, 9 ekor ular, 5 ekor biawak, 10 ekor buaya, 4 ekor musang, dan 8 ekor lintah diamankan pihak karantina hewan saat penyelundupan di dalam 4 koper berukuran besar melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

KOMPAS.com - Kura-kura leher ular (Chelonida mccordi) yang menjadi satwa ikonik-endemik Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, NTT, disebut telah punah.

"Kura-kura leher ular di Rote Ndao itu habitatnya sudah habis," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Timbul Batubara kepada wartawan di Kupang, Selasa (11/8/2020), seperti dilansir dari Antara.

Kura-kura leher ular yang terdapat di kabupaten terselatan di Indonesia itu merupakan salah satu dari 25 spesies kura-kura yang terancam punah di dunia.

Baca juga: Polda Riau Ringkus Penjual Singa, Leopard hingga Kura-kura Langka

Mereka hidup di perairan dekat Pulau Rote.

Sesuai namanya, kura-kura ini memiliki leher yang panjang menyerupai tubuh ular.

BKSDA NTT berencana memulangkan beberapa ekor kura-kura leher ular dari Singapura untuk dilepasliarkan di Rote Ndao.

Harapannya, populasi kura-kura kepala ular bisa ada lagi di daerah itu.

Baca juga: Pulang ke NTT, 28 Ekor Kura-Kura Leher Ular Akan Disambut Upacara Adat

"Pada tahun 2020 ini kami akan berupaya memulangkan beberapa ekor kura-kura leher ular dari Singapura untuk dikembangkan lagi di Rote Ndao, sehingga bisa mempertahankan eksistensi populasinya," ujar dia.

Sebelum dilepas di Rote Ndao, beberapa kura-kura leher ular dari Singapura itu akan dipelihara selama tiga bulan di Kupang untuk adaptasi.

Editor: Robertus Belarminus

Artikel Asli