Kualat Tol Cipularang: Maafkan Kami Cipularang (Part 15)

kumparan Dipublikasikan 23.00, 25/01 • Mbah Ngesot
Maafkan Kami Cipularang. Foto: Kiagoos Aliansyah

Mobil yang aku kendarai melaju dengan sangat cepat. Aku ingin segera sampai karena tidak kuat menahan rasa sakit di perutku. Jujur aku lupa di kilo meter berapa Si Jon kencing sembarangan, tapi aku masih ingat ada tanda silang di pembatas jalan. Setelah mobilku masuk tol Cipularang, kukurangi kecepatannya. Dengan hati-hati, kucari tanda silang di sepanjang pembatas jalan tol.

Selang beberapa saat, akhirnya tanda silang itu kutemukan. Segera kuinjak rem dan keluar dari mobil. Kuambil sekompan air dari dalam bagasi mobil, sambil membaca doa sebisaku, kusiramkan air itu ke tempat bekas kencing Jon.

“Kami mengaku salah. Maafkan kami Cipularang,” desisku sambil meneteskan air mata.

Setelah dirasa cukup, aku bergegas masuk ke dalam mobil. Seketika, rasa sakit di perutku mulai reda. Satu hal yang aku sadari, ternyata aku tidak hidup sendiri. Ada makhluk lain yang hidup berdampingan bersamaku. Mereka minta dihargai sebagaimana manusia yang minta dihargai terhadap manusia lainnya. Aku berjanji kepada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah bertindak ceroboh dan menyepelekan hal gaib.

Seketika lamunanku terbuyar, ada seorang perempuan yang beridiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangannya. Ini siang hari, dan tidak mungkin kalau perempuan itu setan. Wajahnya terlihat sangat cemas, seperti sedang punya masalah besar. Aku kurangi kecepatan mobil dan berhenti tepat di depan wanita itu. Rambutnya pendek, mengenakan topi bundar, sepatu berwarna biru, kaos oblong warna biru, dan celana jeans.

“Mas, aku ikut dong sampe keluar tol. Aku diturunin suamiku. Dia marah-marah nggak jelas. Tolongin aku ya, plis,” dia memohon sambil.

“Oh, iya mbak. Silakan naik,” aku membukakan pintu mobil.

Dia duduk di sampingku. Aroma aparfumnya sangat wangi memenuhi ruangan mobil. Mobilku kembali melaju dengan kecepatan stabil, melewati beberapa mobil depanku. Wanita itu diam saja, sepertinya dia masih kesal pada suaminya.

“Mbak emang asalnya dari mana?” tanyaku mencairkan suasana.

“Aku dari Jakarta, Mas. Tadinya aku dan suami mau liburan ke Bandung. Eh, dia malah marah-marah nggak jelas cuman gara-gara aku chatan sama teman kantorku. Dia cemburuan banget orangnya.”

“Oh, begitu. Mbak udah coba telepon dia buat minta maap. Siapa tahu suami Mbak mau jemput lagi,” ujarku sambil terus fokus ke jalan.

“Sudah Mas tapi nggak diangkat.”

“Oya, Mas sendiri mau ke mana?” tanyanya.

“Aku nggak ke mana-mana Mbak. Tadi aku abis bersihin bekas kencingnya temanku. Di pinggiran jalan tol Cipularang.”

“Rajin banget Mas.”

“Iya, teman saya udah meninggal. Kami mengalami kejadian aneh diteror setan. Mungkin gara-gara teman saya kencing sembarangan.”

“Wah, masa sih Mas? Serem juga ya,” katanya.

“Iya, Mbak. Harus hati-hati jangan mengotori tempat sembarangan.”

Dari kejauhan, aku melihat sebuah mobil sedan terbalik di pinggiran jalan. Wanita di sampingku terkejut melihat kejadian itu.

“Mas! Astaga itu mobil suami saya!”

Aku mempercepat laju mobil. Dan mendekat ke mobil sedang yang terbalik itu. Segera wanita di sampingku turun dari mobil sambil menangis. Polisi berdatangan memasang police line, terdengar suara sirine ambulan mendekat. Seorang lelaki dikeluarkan dari dalam mobil, ada bercak darah di keningnya, tubuhnya lunglai, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Setelah menyaksikannya beberapa menit, aku disuruh melanjutkan perjalanan oleh salah seorang polisi karena dikhawatirkan terjadi kemacetan. Segera kunyalakan kembali mesin mobilku dan melaju perlahan meninggalkan lokasi kecelakaan.

SELESAI

Artikel Asli