Kronologi Nelayan Kepiting Tewas dengan Setengah Badan Diduga Dimangsa Buaya

Kompas.com Dipublikasikan 12.07, 10/12/2019 • Candra Setia Budi
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi buaya air asin Australia.

KOMPAS.com - Kepala Seksi Wilayah II Taman Nasional Sembilang, Affan Absori mengatakan, peristiwa yang dialami nelayan kepiting bernama Sidik Kamseno (40), warga Dusun I, Desa Pagar Bulan, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), yang ditemukan tewas dengan setengah badan diduga dimangsa buaya terjadi pada Sabtu (7/12/2019) malam.

Korban ditemukan tewas di Sungai Bangke, Desa Sungsang 4, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, jenazah Sidik baru bisa dievakuasi pada Minggu (8/12/2019) malam, karena kondisi jarak yang jauh menuju tempat kejadian.

Affan mengatakan, kejadian berawal saat korban berangkat dengan menggunakan satu kapal bersama tujuh rekannya menuju Sungai Bangke, Desa Sungsang 4, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, untuk berburu kepiting.

Baca juga: Nelayan Kepiting Tewas Dimakan Buaya, Badan Korban Tinggal Separuh

Setelah tiba di lokasi, para nelayan itu menyebar dengan perahu yang lebih kecil untuk mencari kepiting.

Namun, menjelang sore korban mendadak tak kembali ke kapal hingga akhirnya dicari.

"Setelah dicari, kondisi korban ditemukan hanya setengah badan, diduga dimangsa buaya," kata Affan dikonfirmasi melalui ponsel, Senin (9/12/2019).

Menurut Affan, lokasi tersebut memang habitat wilayah muara serta para satwa liar lainnya, seperti harimau dan burung migran.

"Nelayan tradisional selalu mencari kepiting di wilayah itu dan memang lokasinya merupakan habitat buaya Muara. Nelayan juga sering melihat buaya disana," ujarnya.

Baca juga: Sedang Mencari Ikan, Seorang Petambak di Dipasena Tewas Diterkam Buaya

Sementara itu, Kepala BKSDA Sumsel Genman Suhefti Hasibuan menambahkan, daerah tersebut memang merupakan habitat buaya.

Dengan adanya kejadian ini, sambungnya, menambah panjang deretan kasus konflik antara manusia dengan satwa yang dilindungi.

Dijelaskannya, pada tahun 2019, ada 27 kasus sudah menelan korban sampai 8 orang meninggal akibat berkonflik dengan satwa liar, seperti harimau, gajah, beruang madu, babi hutan dan buaya.

"Kebanyakan hal itu disebabkan manusia yang masuk ke habitat satwa liar. Bukan satwa yang menyerang, tapi manusia yang masuk. Kejadian ini, sama dengan yang ada di Dempo, Pagaralam, Lahat dan OKU. Berulang kali dilakukan peringatan tapi tetap saja terjadi," ujarnya.

 

(Penulis : Kontributor Palembang, Aji YK Putra | Editor : Farid Assifa)

 

Editor: Candra Setia Budi

Artikel Asli