Kronologi Lutung Jawa Mati Mengenaskan di Malang, Hanya Tersisa Kepala dan Kulit

Merdeka.com Dipublikasikan 14.00, 11/08

                Ilustrasi lutung jawa. ©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org
Seekor Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus) ditemukan mati mengenaskan di Dusun Perinci, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ditemukan pertama kali hanya tersisa bagian kepala dan kulitnya saja.

Seekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) ditemukan mati mengenaskan di Dusun Perinci, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dikutip dari Antara (11/8), hewan tersebut diduga menjadi korban perburuan liar.

Lutung itu pertama kali ditemukan oleh warga tergantung di pohon. Kondisinya sudah mengenaskan yakni hanya tersisa bagian kepala dan kulit. Seperti disampaikan Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nurwahid.

Lakukan Olah TKP

©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org

"Kami mendapatkan informasi tadi malam. Namun, saat di lapangan kami terkejut, karena barang bukti secara utuh lenyap, dan hanya menyisakan potongan tangan lutung jawa yang terikat di pohon," kata Rosek di Malang.

Sebelumnya, pada 10 Agustus lalu, Tim ProFauna Indonesia mendapat laporan dari warga mengenai penemuan hewan lindung itu. Dalam foto yang dikirimkan warga, tampak lutung jawa itu tergantung dengan hanya menyisakan bagian kepala dan kulit.

Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Selasa (11/8), tim gabungan dari ProFauna Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, dan Perhutani menuju lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Barang Bukti Hilang

©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org

Namun, saat berada di lokasi kejadian, tim gabungan hanya menemukan sisa tangan lutung Jawa yang masih terikat di pohon, serta sisa rambut. Sementara bagian kepala dan kulitnya sudah hilang.

"Selain potongan tangan, ada sisa rambut dari lutung Jawa, dalam waktu yang sangat singkat, barang bukti hilang, tidak utuh," kata Rosek.

Berdasarkan informasi temuan awal, tidak ada daging yang tersisa dari lutung jawa tersebut. Daging dari lutung jawa itu diduga dikonsumsi oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Menurut Rosek, ada kepercayaan yang beredar di masyarakat bahwasanya mengonsumsi daging lutung jawa bisa meningkatkan vitalitas. Selain itu, juga bisa menjadi obat untuk penyakit sesak nafas. Namun, kepercayaan itu tidak terbukti secara klinis.

Selain itu, lanjut Rosek, daging lutung jawa juga dikonsumsi saat melakukan pesta minuman keras. Daging hewan yang dilindungi itu dipercaya bisa meningkatkan reaksi minuman keras.

"Dipercaya seperti itu, namun itu tidak terbukti," kata Rosek.

Upaya Mengungkap Pelaku

©2020 Merdeka.com/commons.wikimedia.org

Saat ini, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur tengah menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penemuan lutung Jawa yang mati mengenaskan.

"Nanti diharap ke penyidikan dan terungkap perburuan lutung Jawa ini. Saya yakin bisa terungkap," kata Rosek.

Diketahui, saat mengunjungi tempat kejadian perkara, tim gabungan mendapati barang bukti telah hilang.

"Tim melakukan olah TKP. Selain potongan tangan, ada sisa rambut dari lutung Jawa yang berwarna hitam. Dalam waktu singkat, barang bukti tidak utuh. Kami meminta BKSDA dan Kementerian LHK mengusut tuntas," kata Rosek.

Jembatan Menuju Hutan Diputus

©2020 Merdeka.com/pxhere.com

Dalam kesempatan itu, tim gabungan mengambil langkah untuk memutus jembatan yang menjadi akses kendaraan bermotor menuju hutan di Dusun Perinci itu. Pemutusan akses itu bertujuan untuk mempersulit pergerakan pemburu satwa liar yang dilindungi.

"Perhutani mengambil langkah cepat, jembatan kecil dibongkar," kata Rosek.

ProFauna Indonesia menyatakan siap membantu seluruh proses penyelidikan dan penyidikan untuk mengungkap kasus pemburuan lutung Jawa tersebut. Lutung Jawa sendiri merupakan salah satu spesies yang dilindungi sejak 1999.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan termasuk pemburu liar satwa yang dilindungi bisa dikenakan hukuman penjara lima tahun dan denda Rp100 juta.

Artikel Asli