KreditPlus Akui Data Penggunanya Dicuri

Kompas.com Dipublikasikan 23.37, 04/08 • Bill Clinten
Shutterstock
Ilustrasi hacker

KOMPAS.com - Perusahaan fintech KreditPlus mengakui adanya kebocoran data pengguna. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur KreditPlus, Peter Halim, lewat sebuah pernyataan.

"Hasil investigasi sementara kami menunjukan adanya tindakan pencurian data oleh
pihak ketiga yang tidak berwenang terkait informasi konsumen Kredit Plus," ujar Peter.
Baca juga: Data Ratusan Ribu Nasabah Kredit Plus Diduga Bocor dan Dijual di Internet

Terakait hal itu, Peter mengatakan bahwa pihaknya telah menginvestigasi kasus  ini secara mendalam dengan melibatkan konsultan keamanan siber, ahli forensik digital, dan pihak berwenang.

Dalam keterangan tertulisnya kepadaKompasTekno, Rabu (5/8/2020), Peter juga mengatakan bahwa KreditPlus akan segera melaporkan kasus kebocoran data ini kepada Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Sebagai antisipasi keamanan, Peter mengimbau konsumen untuk senantiasa mengaktifkan sistem keamanan one-time password (OTP), dan tidak memberikan kodenya ke orang lain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kami senantiasa mengingatkan konsumen agar berhati-hati dengan tidak memberikan kode OTP dan kata sandi kepada pihak lain termasuk yang mengatasnamakan KreditPlus untuk alasan apapun," jelas Peter.
Baca juga: Data Nasabah Kredit Plus Bocor, Begini Cara Cek Apakah Anda Terdampak

Sebelumnya, firma keamanan siber asal Amerika Serikat, Cyble, menyebutkan bahwa data pribadi milik sekitar 890.000 nasabah KreditPlus telah bocor dan dijual di internet, tepatnya di sebuah forum diskusi hacker bernama Raidforums.

Ratusan ribu data nasabah tersebut terhimpun dalam sebuah database berukuran 78 MB yang konon sudah bocor sejak 16 Juli lalu dan dijual dengan harga sekitar Rp 50.000 oleh oknum Raidforums dengan nickname "ShinyHunters".

Adapun database tersebut menghimpun sejumlah data pribadi pengguna yang terbilang cukup sensitif, di antaranya mencakup nama, alamat e-mail, kata sandi (password), alamat rumah, nomor telepon, data pekerjaan dan perusahaan, serta data kartu keluarga (KK).

Penulis: Bill ClintenEditor: Oik Yusuf

Artikel Asli