Kotak Emas di Kaki Pelangi - Part 2: Spektrum Satu

Storial.co Dipublikasikan 03.05, 08/07 • Astri Avista
Spektrum Satu

Layar di belakang punggung Kay baru saja selesai menayangkan slide terakhir dari presentasi desainnya untuk proyek Hotel Ambrosia. Lalu, ruang rapat hening sejenak. Bagi desainer interior pemula, keheningan itu pasti akan terasa menegangkan, dan dianggap sebagai bentuk ketidakpuasan klien atas desain yang baru saja dipresentasikan dengan terperinci. Namun, tidak demikian halnya bagi Kay. Sejak hari pertama ia merintis Arate Design Studio hingga sekarang, ia telah mempelajari banyak hal. Dalam kurun waktu tiga tahun, salah satu hal berharga yang sungguh ia kuasai adalah membedakan energi penolakan dengan rasa terkesima yang biasanya merebak di udara setelah ia menyelesaikan presentasinya. Untuk rapatnya hari ini bersama dengan tim manajemen Hotel Ambrosia, ia yakin hasilnya akan sangat memuaskan. Dan, ketika ia melihat Tammy–head of brand manager hotel Ambrosia–bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat dan langsung memeluknya erat, ia tahu pasti bahwa keyakinannya tidak pernah salah.

This is the greatest design idea I have ever seen!” kata Tammy setelah melepas pelukannya, menatap Kay dengan mata berbinar.

“Permintaan kamu yang unik itu bener-bener jadi tantangan buatku dan tim. So, I am beyond glad that you like it, Tam.” Kay membalas pujian Tammy dengan senyum semringah.

Like it? Nggak, lah.I love it to the moon and back!” Tammy lantas menoleh dan menatap ke rekan-rekannya yang masih duduk mengelilingi meja rapat. “Let’s work with her. What do you all say?

The final design does look promising,” kata pria berjas abu-abu dari kursi belakang.

“Saya sih, tertarik untuk segera mengonstruksi desain Ibu Kay. Detailnya, tingkat kerumitannya, wah, menantang sekali,” sambung pria berkacamata yang Kay kenal sebagai kepala konstruksi untuk Hotel Ambrosia. Kay melemparkan senyum lebarnya ke arah pria itu.

“Langsung diproses saja kontrak kerja samanya, Bu,” kata seorang pria berdasi yang duduk paling depan, diiringi anggukan kompak dari peserta meeting lainnya.

Okay. It is settled then,” Tammy memberikan tanda ke pria berdasi itu, yang segera mengeluarkan beberapa dokumen dan sebuah pulpen ke atas meja. Tammy menepuk pundak Kay, “Now, what do you say?”

Kay menyebarkan pandangannya ke arah peserta meeting hari ini. Mereka semua memandanginya dengan raut wajah penuh pengharapan. Lalu, ia melirik ke arah Nena dan Akbil, duo tim gambar kesayangannya yang hari ini ikut menemaninya pergi rapat, sedang mengacungkan jempol sambil mengangguk-anggukkan kepala kencang. Kay bisa melihat jelas kantong mata Nena dan Akbil yang menggelap karena lembur selama beberapa minggu terakhir demi membantu Kay mempersiapkan berpuluh-puluh lembar gambar presentasi. Sama seperti dirinya, Nena dan Akbil begitu mendambakan proyek besar ini walaupun itu berarti mereka akan lebih sering lembur dan kurang tidur. But, who says that designer and the team will ever get a goodnight sleep?

Kay menepuk pundak Tammy.

“Well, I say, Tammy, be ready to be featured in some interior design magazines because this hotel, I assure you, will be the leading trend in Indonesia.”

Ruang rapat yang tadinya sepi, seketika dipenuhi oleh riuh tepuk tangan. Ini bukan kali pertama Kay terlibat dalam meeting pengajuan proposal desain dan berhasil tembus. Sejujurnya, ia sudah biasa atas keberhasilan mendapatkan proyek baru. Namun, ini adalah Ambrosia, jaringan hotel yang sudah terlebih dahulu ada di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Dan hari ini, Kay secara resmi menjadi kunci awal kesuksesan jaringan Hotel Ambrosia di Indonesia. Kay merasakan kepuasan, kelegaan dan ketegangan secara bersamaan yang membuat jantungnya berdegup kencang sehingga tangannya sedikit gemetar saat menggenggam pulpen untuk menandatangani kontrak kerja sama.

Thank you so much, Kay,” kata Tammy saat Kay menyodorkan kembali dokumen-dokumen itu kepadanya.

“Sama-sama, Tam. It is my pleasure. And it is my job, anyway. So, you don’t really need to thank me.” Kay tertawa renyah, yang dibalas tawa oleh Tammy.

“Tapi Kay, seriously, kamu tahu nggak, berapa desainer yang udah kasih proposal desain ke saya? Tujuh. Dan no offense¸ bisnis mereka bahkan udah bukan start-up lagi.”

“Itu artinya kita jodoh, Tam. Kalau jodoh nggak ke mana. Dalam hubungan bisnis juga bisa begitu, nggak cuma kalau lagi pacaran aja,” Kay terkekeh.

“Berarti, kamu jodoh banget sama Leon, ya?”

Kay tersenyum malu. “Kenapa memangnya?”

Tammy mengedikkan bahu. “Well, you know, our old people usually say that couples that are fated to be together will drawn goodness to each other. Kita nggak akan ketemu kalau kamu nggak pacaran sama Leon. Kalau kita nggak ketemu, saya nggak akan bisa bangun hotel tepat waktu, dan kamu nggak akan dapat proyek besar seperti ini. So, this is considered as one of the goodness, no?

I guess I can say yes,” jawab Kay akhirnya, tertawa geli.

Kay hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya di sela-sela pekerjaan, walaupun dengan klien-kliennya yang juga memiliki relasi dengan Leon, pria yang menjadi kekasihnya dua tahun terakhir. Namun, tadi malam ia sudah mempersiapkan diri kalau Tammy mau membahas hubungannya dengan Leon. Walaupun Tammy adalah anak dari istri pertama ayah Leon dan jarang pulang ke Indonesia karena sudah tinggal di Singapura sejak remaja, hubungan kakak-adik beda ibu itu masih cukup dekat. Kay sendiri tidak merasa kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan Tammy, baik secara personal maupun profesional. Sebelum mendirikan Arate Design Studio, tepat setelah ia lulus kuliah, Kay sempat bekerja selama dua tahun di firma desain lokal di Singapura. Dari pekerjaan pertamanya itu, ia mendapatkan pengalaman tentang bagaimana menangani orang Singapura yang walaupun berhati baik, tetapi sangat gila kerja.

Kay berjalan menuju pintu ruang rapat dan menyambut jabat tangan dari rekan-rekan Tammy yang menyalaminya bergantian, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan. Orang terakhir yang menyalami Kay adalah Tammy sendiri. Genggamannya tegas tetapi lembut. Penuh keyakinan. Kay bisa merasakan aliran percaya diri masuk ke dalam tubuhnya.

“Saya tunggu drafdesain lengkapnya, ya, Kay. I can’t wait to see your magic.

Kay tersenyum mantap. “You’ll get it in no time.

Tammy mengangguk, kemudian berjalan menjauh. Baru beberapa langkah, ia menengok kembali.

And I hope to get the wedding invitation soon, too,” kata Tammy dengan senyum usil, hingga wajah Kay memerah dibuatnya. Belum sempat Kay menjawab, Tammy sudah beranjak pergi dan menghilang di belokan koridor.

“Lho, lho, Kakay mau nikah? Kapan? Kok kami nggak tahu?” Nena tiba-tiba sudah berdiri di samping Kay. Kakay, yang merupakan gabungan dari kata ‘kakak’ dan ‘Kay’, adalah panggilan khusus yang diciptakan Nena saat ia bergabung ke kantor Kay.

“Kakay mau nikah diam-diam, terus kabur ke Bali, ya?” sambung Akbil yang berdiri di belakang Nena sambil memeluk laptop dan menjinjing tas berisi penuh lembaran kertas.

Kay mendelik. “Enggak, ih, kalian jangan bikin gosip.”

“Kok, barusan diminta undangannya?” Nena masih tidak puas.

“Itu cuma basa-basi, Na. Lagian, kalian salah fokus banget, deh. Mestinya kalian heboh karena akhirnya cita-cita kalian kesampaian. Siap-siap ya buat lembur dan sibuk untuk Ambrosia.” Kay tersenyum lebar ke arah keduanya.

“Kami mah selalu siap kalau untuk kerjaan. Kami juga siap kok kalo Kakay perlu bantuan buat ngurusin wedding yang misterius itu,” balas Akbil yang segera disambut dengan satu cubitan kencang di lengannya yang kurus oleh Kay.

“Heh, daripada bikin gosip, gimana kalau kalian pulang aja? Istirahat. Tidur yang cukup. Kejar nontonin drama Korea yang udah ketinggalan jauh.”

“Boleh pulang lebih cepat, Kak? Sekarang banget?” Mata Nena seketika berbinar-binar.

“Boleh, Na,” Kay tertawa, “Kalian udah lembur berminggu-minggu, sekarang waktunya buat santai dan istirahat lebih lama. Besok, kalian juga boleh masuk agak siang. Nggak masalah.”

Nena dan Akbil ber-high five kegirangan. Lantas, keduanya segera pamit, meninggalkan Kay yang hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa geli melihat tingkah timnya itu. Kay mengikuti langkah mereka dari belakang sambil mengecek ponselnya yang sudah penuh oleh pesan masuk dan panggilan tak terjawab sejak tiga jam lalu. Tangannya bergerak di layar ponsel, membalas pesan-pesan penting sambil mengecek jadwal kegiatan hariannya. Masih ada satu rapat kecil yang harus ia hadiri di kantornya sendiri sore itu. Sebenarnya, Kay sendiri sudah agak lelah karena sama seperti Nena dan Akbil, ia juga kurang tidur demi menyiapkan presentasi Hotel Ambrosia. Namun, Kay tahu bahwahari-harinya yang sibuk merupakan hal baik. Itu menandakan bisnisnya berkembang. Semakin banyak Kay bertemu dengan orang dan terlibat dalam proyek-proyek, semakin besar peluang Kay untuk melejitkan namanya di ranah desain Indonesia. Itu adalah mimpi terbesarnya. Today has been great and you’ve done a great job, kata Kay di dalam hati. Ia tersenyum, melangkah memasuki elevator yang terbuka di hadapannya, sambil membayangkan menyesap secangkir espresso dari mesin kopi favorit di ruang kerjanya, dan menyelesaikan hari yang sudah berjalan dengan menyenangkan ini.

* * *

Artikel Asli