Kotak Emas di Kaki Pelangi - Part 1: Prolog - Kotak Emas di Kaki Pelangi

Storial.co Dipublikasikan 03.05, 08/07 • Astri Avista
Prolog: Kotak Emas di Kaki Pelangi

Pada suatu masa, hiduplah sepasang suami istri yang hidupnya susah. Segala cara sudah mereka upayakan untuk mendapatkan hidup yang lebih bahagia, tetapi hasilnya selalu berujung pada kesialan. 

Suatu hari, ketika sedang berjalan kaki menyusuri hutan belantara, mereka bertemu dengan seorang peri hutan. Mereka terkesima, lalu memutuskan untuk menghampiri sang peri dan mengajaknya berbincang sebentar. Obrolan mereka yang hanya beberapa menit awalnya, berujung menjadi berjam-jam lamanya.

Peri hutan yang sedang duduk beristirahat itu dengan sukarela mendengarkan kisah hidup pasangan manusia di hadapannya. Hatinya terenyuh. Di kalangannya, hidup sangat mudah dan sederhana. Karena itu, ia merasa ingin membantu. Sang peri hutan kemudian memberikan kesempatan kepada mereka masing-masing untuk meminta satu permintaan.

Giranglah hati suami istri ini. Sudah terbayang di dalam benak mereka, sebuah hidup yang jauh dari kesusahan dan berlimpah kenyamanan. Karena itu, mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. 

Sang suami meminta uang yang banyak dan rumah baru, sementara sang istri meminta makanan berlimpah dan pakaian paling modis di masanya.

Sang peri hutan merasa permintaan kedua manusia itu berlebihan dan serakah. Ia memang ingin membantu, tetapi ia tidak mau membuat manusia melupakan kodrat hidupnya untuk bekerja keras demi mencapai titik kehidupan yang diinginkan. Permintaan kedua orang itu terpaksa ia tolak. Sebagai gantinya, ia menawarkan hal lain.

Setiap peri hutan memiliki harta berupa kotak berisi emas, yang tersembunyi di kaki-kaki pelangi. Peri hutan dengan rela akan memberikan hartanya kepada sepasang suami istri itu, asal mereka bisa menemukan di mana kotak miliknya tersembunyi.

Maka, mulailah pasangan suami istri ini menghabiskan hidupnya berkelana ke seluruh penjuru mencari kotak emas di kaki pelangi milik sang peri hutan. Tahun dan musim berganti, harta itu tidak juga mereka temukan. Hingga tua dan menjelang ajalnya, kedua suami istri ini masih tetap hidup susah. Namun, tetap saja mereka belum menemukan kebahagiaan yang mereka inginkan. 

Rasa sesal mulai merayapi hati mereka karena telah menghabiskan waktu untuk mencari hal yang fana. Ketidakpuasan akan hidup, akhirnya membuat seluruh waktu mereka menjadi sia-sia.

Seharusnya, mereka menghargai setiap hela napas yang sudah mereka hirup walaupun harus hidup di tengah keterbatasan. Seharusnya, mereka tahu arti kata cukup. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Waktu manusia di dunia ada batasnya. 

Akhirnya, mereka harus mengakui bahwa kebahagiaan yang mereka inginkan itu seharusnya bukan berasal dari harta, melainkan dari hati. Di penghujung nafas terakhirnya, mereka sadar bahwa kesempurnaan hidup yang mereka cari itu persis seperti kotak emas di kaki pelangi.

Terdengar membahagiakan, terbayang indah, namun tidak pernah ada. 

***

Artikel Asli