Kontroversi Kolam Renang Rp 1,5 M di Rumah Dinas, Terapi Renang Kaki Ridwan Kamil yang Cidera dan Ruang Publik

Kompas.com Dipublikasikan 23.36, 15/11/2019 • Rachmawati
KOMPAS.COM/DENDI RAMDHANI
Sejumlah pekerja saat mengangkat material bangunan dalam proyek pembuatan kolam renang di rumah dinas Gubernur Jawa Barat, Kamis (14/11/2019).

KOMPAS.com - Pembangunan kolam renang pribadi di Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil senilai Rp 1,5 miliar menuai kontroversi.

Menanggapi kontroversi tersebut, gubernur yang akrab dipanggil Emil mengatakan fasilitas kolam renang dibuat untuk terapi kaki kirinya yang cedera.

Ia mengatakan dokter menyarankan Emil tidak olahraga yang sifatnyaimpact seperti lari dan loncat.

Agar tetap fit sebagai Gubernur Jawa Barat, dokter menyarankan Emil untuk rutin terapi dengan berenang.

"Maka dalam rutinitas masterplan, perbaikan yang namanya Pakuan saya arahkan dan setujui membuat kolam yang tidak terlalu besar," tutur Emil seusai rapat paripurna di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Bandung, Jumat (15/11/2019).

Baca juga: Penjelasan Lengkap Ridwan Kamil soal Kolam Renang Rp 1,5 Miliar

 

20 tahun tak pernah dipermak

Emil mengatakan Gedung Pakuan yang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat sudah 20 tahun tidak dipermak.

Gedung Pakuan adalah bangunan tuan yang berusia hampir 200 tahun dengan luas mencapai 2,3 hektar.

Ia mengatakan gubernur sebelumnya juga melakukan pembangunan di area Gedung Pakuan. Dia mencontohkan era Gubernur Ahmad Heryawan yang membangun masjid yang digunakan untuk salat Jumat warga.

Gubernur lainnya juga pernah membangun gedung olahraga dilengkapi dengan lapangan tenis dan lapangan basket.

Baca juga: Ini Alasan Ada Kolam Renang di Rumah Dinas Ridwan Kamil

"Gubernur berikutnya membangun gedung olahraga, saking besarnya, di zona olahraga itu ada lapangan tenis, lapangan basket, dan lain sebagainya. Ada juga Pak Aher membuat dulu macam-macam. Sudah 20 tahun tidak ada yang namanya renovasi, yang ada hanya perawatan saja," paparnya.

Emil membantah pembangunan kolam renang bukan menghamburkan uang negara karena semua fasilitas dibangun sesuai kebutuhan.

"Jadi tujuannya itu, pertama, tidak menghambur-hamburkan uang negara sesuai kebutuhan. Kedua, yang namanya urusan Pakuan akan berlangsung setiap tahun karena ini bangunan bersejarah yang harus dirawat, disempurnakan," tambahnya.

Baca juga: Soal Kolam Renang Ridwan Kamil, Pengamat: DPRD Jabar Jangan Hanya Jadi Tukang Stempel

 

Berfungsi sebagai ruang publik

Semantara itu Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat Iip Hidajat mengatakan renovasi Gedung Pakuan sebagai upaya agar sebagian besar areanya dapat berfungsi sebagai ruang publik.

Menurutnya selama ini hanya sebagian kecil Gedung Pakuan yang dimanfaatkan untuk masyarakat, salah satunya masjid.

Ia mengatakan pembangunan kolam renang memungkinkan dilakukan karena tidak mengganggu bangunan Gedung Pakuan yang masuk heritage.

Iip menegaskan, kolam renang itu tidak bersifat privat. Para pegawai yang bekerja di Rumah Dinas gubernur bisa menggunakan fasilitas tersebut.

"Itu sebab di kompleks olahraga ditambahi kolam renang dengan lebar sekitar 4 meter” jelasnya.

Baca juga: DPRD Jabar: Kolam Renang Rp 1,5 Miliar di Rumdin Ridwan Kamil Menyakiti Masyarakat

 

Revitalisasi Rp 4 miliar

Dalam situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemprov Jabar, proyek tersebut bernama revitalisasi halaman belakang Gedung Pakuan dengan pagu anggaran mencapai Rp 4.656.500.000.

Proyek itu dikerjakan oleh Artikon Dimensi Indonesia yang beralamat di Jalan Cimanuk Swiss Van Java Blk A No 3 A 03/014 Tarogong Kidul Sukagalih, Kabupaten Garut. Proyek itu dilepas dengan hasil negosiasi senilai Rp 4.116.854.000.

Dari hasil penelusuran, kolam renang itu memiliki lebar 4 meter, panjang 29 meter, dan kedalaman 1,25 meter. Pembuatan kolam renang itu menelan biaya hingga Rp 1,5 miliar.

Selama ini area belakang Gedung Pakuan terlihat masih bagus dan sering dipakai beragam kegiatan.

Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jabar: Kolam Renang Pribadi Penting untuk Ridwan Kamil

Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat Iip Hidajat mengatakan area belakang Gedung Pakuan akan dimaksimalkan.

"Fungsinya akan dimaksimalkan. Kan Pakuan itu sering dipakai open house juga ya. Jadi akan ada penataan taman, kita ingin juga lebih leluasa. Poin pentingnya ingin memaksimalkan kapasitas dan kualitas gedung pakuan," ungkap Iip.

Namun Iip tidak menjelaskan rinci dari mana usulan pembuatan kolam renang dengan dalih saat proyek diajukan, ia belum menjabat sebagai kepala biro umum.

"Usulannya setahun yang lalu sebelum saya masuk sudah ada kajiannya, kajian teknis, DED, kita (Biro Umum) yang bangun. Usulannya kayaknya dari kajian, kan semua ada kajiannya," papar Iip.

Baca juga: Ridwan Kamil Dibuatkan Kolam Renang Pribadi, Dananya Rp 1,5 Miliar

 

Dianggap menyakiti rakyat

Anggota DPRD Jabar dari Fraksi PKS Imam Budi menilai proyek tersebut menyakiti masyarakat di tengah ragam persoalan yang dihadapi Jawa Barat.

Imam mengatakan, revitalisasi Gedung Pakuan sangat tak mendesak karena kondisinya masih layak dan tak ada kerusakan.

"Saya baru dapat datanya. Ini menyakitkan rakyat. Banyak kebutuhan dasar di Jabar yang belum terpenuhi. Pakuan itu kayaknya masih bagus, kenapa dibangun kolam renang," kata Imam kepada Kompas.com, Jumat (15/11/2019).

Imam juga tak mengetahui mengapa proyek itu bisa lolos dari pantauan dewan. Untuk itu ia akan segera meminta pertanggungjawaban Ridwan Kamil soal proyek tersebut.

Baca juga: Ridwan Kamil akan Potong Gaji Kepala Dinas yang Mangkir Rapat di DPRD

"Memang ini masalahnya di KUAPPAS 2018, saya belum ada. Mungkin panitia anggaran enggak melihat detail sehingga loloslah program ini. Tapi, kenapa eksekutif enggak ngobrol, lebih lanjut kami akan memanggil dan meminta pertanggungjawaban beliau," tutur dia.

Ia juga menyoroti masalah revitalisasi taman Gedung Sate yang dikerjakan bersamaan dengan revitalisasi Gedung Pakuan.

Menurutnya proyek itu hanya untuk memenuhi hasrat Ridwan Kamil sebagai arsitektur.

"Pembangunan ini sifatnya tidak dibutuhkan bahkan hanya untuk pencitraan dan kepuasan beliau sebagai arsitektur. Kewajiban provinsi itu banyak, ada target rumah tidak layak huni, urusan lingkungan, pembangunan SMA dan SMK," ujar dia.

Baca juga: Kepala Dinas Tak Hadir Saat Rapat Paripurna, Ridwan Kamil Dihujani Interupsi

 

Setara dengan 7 ruang kelas

Namun hal berbeda disampaikan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Oleh Soleh.

Ia menilai tidak masalah pembuatan kolam renang pribadi di rumah dinas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Kalau kolam renang itu sangat urgent bagi Gubernur dalam rangka menunjang olahraga, untuk menjaga kesehatan, tidak masalah, karena kesehatan seorang gubernur harus dijaga. Apalagi dengan kegiatan yang begitu padat, kerjanya 7 hari dalam seminggu. Gubernur perlu sehat dan fit setiap harinya," kata Oleh kepadaKompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (15/11/2019).

Menurut Oleh, jika kolam renang itu hanya sebatas hiasan taman, maka sebaiknya dibangun dengan konsep sederhana.

Baca juga: Bima Arya Akan Minta Kepastian Penyelesaian TPST Nambo ke Ridwan Kamil

"Tapi kalau hanya sekadar hiasan taman, lebih baik disederhanakan saja, tidak perlu mewah-mewah," katanya.

Ia mengatakan dana Rp 1,5 miliar untuk kolam renang itu setara dengan 7 ruang kelas baru (RKB) sekolah di Jawa Barat.

Untuk itu ia berharap kolam renang pribadi itu benar-benar difungsikan dengan baik.

Sementara itu, Ridwan Kamil membantah bahwa dirinya mengesampingkan program prioritas Provinsi Jawa Barat.

Baca juga: Ridwan Bae Minta Pendukung Airlangga dan Bamsoet Utamakan Musyawarah Mufakat

Ia mengatakan semua janji kampanyenya sedang ia kerjakan saat ini.

"Pembangunan di Jabar itu semua dikerjakan. Kalau Anda tadi menyimak, sebutkan semua dimensinya urusan kemiskinan, semua proporsional," ucapnya seusai rapat paripurna di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Bandung, Jumat (15/11/2019).

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Dendi Ramdhani | Editor: Farid Assifa, Khairina, Robertus Belarminus)

Editor: Rachmawati

Artikel Asli