Konflik Natuna, Bakamla Sudah Deteksi Sejak 10 Desember

INDOZONE.ID Dipublikasikan 03.42, 06/01 • Fauzi
Konflik Natuna, Bakamla Sudah Deteksi Sejak 10 Desember
Sejak tanggal 10 Desember 2019, Bakamla sudah menerima informasi bakal masuknya kapal-kapal asing ke Laut Natuna.

Masalah kehadiran kapal nelayan dan Cost Guard di Perairan Natuna Utara, Kepulauan Riau, ternyata sudah dideteksi sejak 10 Desember 2019 lalu alias sejak jauh hari, sebelum ramai dibicarakan pada akhir Desember 2019 lalu.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman. Diceritakan olehnya, pada tanggal 10 Desember 2019 lalu, pihaknya sudah menerima informasi akan 'masuknya' kapal-kapal asing (Tiongkok) dari utara.

"Prediksi saya, tanggal 15 akan sampai di ZEE Indonesia. Ternyata belum ada. Kita sisir lagi, ketemu tanggal 19 Desember 2019. Itu ada kapal-kapal nelayan dikawal 2 Cost Guard dan 1 Frigate punya Tiongkok. Kapal nelayannya di dalam (ZEE), tapi Frigate di luar. Langsung kita (Bakamla) usir keluar," katanya kepada Indozone, Senin (6/1).

Lanjutnya, hasil analisa laporan intelijen yang masuk menyebutkan, ada kemungkinan kapal-kapal asing tersebut akan kembali lagi. Dan terbukti, kapal-kapal milik Tiongkok kembali masuk pada tanggal 24 Desember 2019.

"Dari jalur yang sama di Laut Natuna dan langsung kita usir. Kemudian dilaporkan juga ke Menkopolhukam dan Menteri Luar Negeri yang kemudian dikeluarkanlah nota protes kita," tukasnya. 

Ditegaskan olehnya, Bakamla selalu berusaha menjaga keutuhan setiap jengkal wilayah perairan Indonesia.

"Karena laut tidak bisa diduduki, tidak bisa dipagari, tapi laut bisa dikendalikan. Bagaimana kita mengendalikannya," tutup Taufiq.

Artikel Asli