Kita Lupa Tuhan Menciptakan Luka - Part 4: Aku dan Hadirku

Storial.co Dipublikasikan 03.19, 13/07 • AT Press Makassar
Aku dan Hadirku

Kita bertemu pada kesempatan yang manis. Sangat manis menurutku. Aku melihatmu di saat senja itu. Memegang sebuah buku bacaan. Tatapanmu serius memandangi buku yang kamu baca. Aku memilih duduk berjauhan dari kursimu. Bukan karena aku menghindar. Tapi, aku sedang serius menulis beberapa hal dan aku takut fokusku hilang karenamu. Aku mengamati buku bacaanmu. Dan kudapati hal yang membuatku terkejut. Itu karyaku. Sebuah buku bertuliskan namaku. Degup kencang rasaku. Aku tersenyum dan kembali mengarahkan padanganku di depan laptop sambil tersenyum menyembunyikan wajahku.

Seserius itu? tanyaku. Sudah beberapa lembar puisi yang aku buat. Kamu tetap saja di situ dengan tatapan serius membaca buku karyaku. Terlihat manis. Aku menghentikan pekerjaanku. Tanpa sadar aku terus menceritakan pertemuan kita di layar laptop yang kubawa saat itu. Kamu menginspirasiku hari ini. Semoga seterusnya juga, harapku. Untukmu, terima kasih pernah ada lalu pergi. Terkadang, memang benar seseorang hadir bukan untuk menetap selamanya. Hanya datang memberi pelajaran bahwa jangan mencintai terlalu dalam. Terima kasih telah ikut hadir dalam setiap karya-karyaku. Kamu memang tidak mengetahui dan tidak pernah paham bahwa kamu adalah tokoh dalam setiap ceritaku. Sampai suatu waktu di masa silam, kamu bertanya padaku saat kita bertemu di perpustakaan sore itu. Kamu bertanya perihal seseorang yang selalu kutulis dalam ceritaku. Aku tersenyum. Tidak berani mengatakan bahwa kamu objek tulisanku. Kamu mengerutkan keningmu, bingung melihat ekspresiku.

Antologi puisi karyaku terus aku susun. Berharap aku akan cepat menyelesaikan dan menceritakan kepadamu bahwa itu karyaku dan mungkin saja sebagian isinya terinspirasi untukmu. Ah, terlalu berlebihan diriku. Tapi, pahamilah. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Dan benar saja, waktu tidak memihak pada kita. Sebelum buku itu jadi, kita putuskan untuk tidak saling mengabari lagi. Kecewa? Tidak lagi. Biarlah kita saling berlalu dan saling melupakan, walaupun kusadari. Aku bukan pelupa yang baik. 

Artikel Asli