Kisah terenyuh guru ngaji sebelum meninggal, rayakan ultah lebih awal

Brilio.net Dipublikasikan 17.26, 15/07
Kisah terenyuh guru ngaji sebelum meninggal, rayakan ultah lebih awal
Bulan Agustus ulang tahun, Juli ini Muammar meninggal dalam peristiwa nahas.

Brilio.net - Tak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya waktu kematian mereka maupun orang lain. Kendati demikian, ada beberapa orang yang seakan menunjukkan tanda-tanda sebelum kepergiannya. Seperti dilansir brilio.net dari mstar.com.my, Rabu (15/7), ada seorang guru ngaji yang seolah memiliki firasat bahwa ajal akan menjemputnya.

Muammar Ashraf Ahmad Faizul, guru ngaji tersebut, mengembuskan napas terakhir pada usia 21 tahun. Namun sebelum kepergiannya, Muammar sempat menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan berpulang ke sisi Tuhan.

Hal ini diungkapkan sang kakak perempuan, Solihatul Husna. Husna berkata bahwa adiknya sempat membuat permintaan untuk merayakan hari lahirnya sebulan lebih awal. Muammar yang seharusnya akan berulang tahun pada bulan Agustus, justru merayakannya pada Senin (6/7) lalu.

foto: mstar.com.my

"Seharusnya birthday dia itu tanggal 7 Agustus depan, tapi dia minta merayakannya lebih awal. Dia takut 'tidak sempat'," ungkap Husna.

"Kami tidak terpikirkan apa-apa saat itu dan mengiyakan saja permintaan tersebut. Tapi sejak dia meninggal barulah kami sadar bahwa dia banyak mengucap 'takut tak sempat'," tambahnya.

Tak hanya meminta ulang tahunnya dirayakan lebih awal, Muammar juga menunjukkan tanda-tanda lain. Seminggu sebelum meninggal, ia sempat mempercantik rumah dengan mengecatnya.

foto: mstar.com.my

"Dia juga sempat mempercantik rumah seminggu sebelum kepergiannya dengan alasan "Ammar ingin mengecat rumah ini, agar orang yang datang ke rumah ummi dan abah bisa melihat rumah ini lebih cantik"," ujar wanita 22 tahun ini.

Tak hanya itu, sang adik juga memintanya untuk memotret dan merekam videonya berkali-kali.

"Allahuakbar, dia juga meminta saya untuk memotret dan merekam video saat dia mengecat. Saya sempat bercanda 'eh untuk apa minta foto, handphone saja tidak punya, mau dikirim kemana'. Kemudian dia tertawa dan senyum 'simpan buat kenangan'," katanya.

Walaupun kepergian Muammar sungguh berat bagi keluarganya, Husna bersyukur kerana urusan kematian adiknya itu dipermudah.

foto: mstar.com.my

"Sejujurnya walaupun sedih tapi hati saya bersyukur kerana adik saya meninggalkan kami semua pada hari Jumat, hari baik dari segala hari, Allahuakbar. Dan yang paling saya banggakan adalah adik saya kerap bangun untuk solat malam," tutur Husna.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara itu terlibat kecelakaan dalam perjalanan menuju ke tempat dia bekerja sebagai guru mengaji dan asas pengajian agama di daerah Kuantan pada 7 Juli lalu. Motor yang dikendarainya mengalami kecelakaan dengan kendaraan lain yang menyebabkan bahunya patah dan cedera parah di kepala. Dari insiden tersebut, Muammar koma selama dua hari setelah menjalani operasi dan mengembuskan napas pada Jumat (10/7).

Artikel Asli